3
Netral English Netral Mandarin
02:37 wib
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) beserta keluarga dan stafnya diketahui menerima suntik vaksin virus corona (Covid-19) secara gratis. Pakar menyebut Virtual Police atau Polisi Virtual yang diluncurkan Bareskrim Polri membuat masyarakat takut untuk mengeluarkan pendapat di media sosial.
Gempa Susulan di Sulbar Minim, BMKG Malah Ekstra Waspada, Ini Sebabnya

Sabtu, 16-January-2021 19:45

Peta gempa magnitudo 6,2 di Sulawesi Barat yang terjadi Jumat (15/1/2021) dini hari.
Foto : BNPB
Peta gempa magnitudo 6,2 di Sulawesi Barat yang terjadi Jumat (15/1/2021) dini hari.
11

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mencatat terjadi 32 kali gempa susulan di wilayah Majene-Mamuju pascagempa kuat Jumat (15/1) dini hari, aktivitas tersebut sangat rendah sehingga patut diwaspadai masih ada medan tegangan tersimpan yang dapat memicu gempa kuat.

"Jika mencermati aktivitas gempa Majene saat ini, tampak produktivitas gempa susulannya sangat rendah. Padahal stasiun seismik BMKG sudah cukup baik sebarannya di daerah tersebut. Sehingga gempa-gempa kecil pun akan dapat terekam dengan baik. Namun hasil monitoring BMKG menunjukkan bahwa gempa Majene ini memang miskin gempa susulan (lack of aftershocks)," kata Koordinator bidang Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono di Jakarta, Sabtu (16/1/2021).

Menurut Daryono, fenomena tersebut agak aneh dan kurang lazim. Gempa kuat di kerak dangkal (shallow crustal earthquake) dengan magnitudo 6,2 mestinya diikuti banyak aktivitas gempa susulan.

Gempa susulan terjadi pada Sabtu (16/1) pukul 06.32.55 WIB dengan magnitudo 4,8. Episenter terletak di darat pada jarak 29 km arah Tenggara Kota Mamuju. Pusat gempa ini relatif sedikit bergeser ke utara dari klaster seismisitas yang sudah terpetakan.

Gempa ini adalah gempa ke-32 yang terjadi sejak terjadinya Gempa Pembuka dengan magnitudo 5,9 pada Kamis (14/1) pukul 13.35 WIB. Tetapi gempa ini menjadi gempa ke-23 pascagempa utama dengan magnitudo 6,2 pada Jumat (15/1) dinihari pukul 01.28 WIB.

"Jika kita bandingkan dengan kejadian gempa lain sebelumnya dengan kekuatan yang hampir sama, biasanya pada hari kedua sudah terjadi gempa susulan sangat banyak, bahkan sudah dapat mencapai jumlah sekitar 100 gempa susulan," ujar Daryono.

Dia menyebutkan ada dua kemungkinan yaitu fenomena rendahnya produksi aftershocks di Majene disebabkan karena telah terjadi proses disipasi, di mana medan tegangan di zona gempa sudah habis sehingga kondisi tektonik kemudian menjadi stabil dan kembali normal.

Atau justru malah sebaliknya, dengan minimnya aktivitas gempa susulan ini menandakan masih tersimpannya medan tegangan yang belum rilis, sehingga masih memungkinkan terjadinya gempa signifikan nanti.

"Fenomena ini membuat kita menaruh curiga, sehingga lebih baik kita patut waspada," ujarnya seperti dilansir Antara.

Ia mengakui bahwa ini merupakan perilaku gempa, sulit diprediksi dan menyimpan banyak ketidakpastian.

 

Reporter : Irawan HP
Editor : Irawan HP