Netral English Netral Mandarin
19:28wib
Ebrahim Raisi dinyatakan sebagai presiden terpilih Iran setelah penghitungan suara pada Sabtu (19/6/2021). Koordinator Tim Pakar sekaligus Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito terkonfirmasi positif Covid-19 menyusul aktivitasnya yang padat dalam dua pekan terakhir ini.
Bukan Sekadar Ratap Tangis Tak Berdaya RA Kartini

Selasa, 20-April-2021 16:10

Potret studio Raden Ajeng Kartini dengan orangtuanya, saudara perempuan, dan saudara laki-lakinya. Foto tahun 1890-1904.
Foto : Koleksi Tropenmuseum
Potret studio Raden Ajeng Kartini dengan orangtuanya, saudara perempuan, dan saudara laki-lakinya. Foto tahun 1890-1904.
15

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kumpulan surat RA Kartini yang dibukukan dalam terjemahan Melayu berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang (terjemahan harfiah Door Duisternis tot Licht), ternyata jauh dari lengkap.

Malangnya, seolah isinya bukan perjuangannya, tapi lebih menonjolkan ratap tangis dan manifestasi keputusasaan dan kehilangan akalnya. Bahkan, malahan seolah hanya menekankan kebergantungannya kepada Belanda. Mengapa bisa demikian?

Terjemahan Surat Kartini ke dalam bahasa Melayu diterbitkan oleh Commissie de Volkslectuur (sekarang menjadi Balai Pustaka) di bawah pengawasan Dr DA Rinkes.

Penerjemah ke dalam bahasa Melayu pertama kalinya adalah Baginda Abdoellah Dahlan dan Baginda Zaiboedin Rasad. Buku ini merupakan cetakan pertama.

Baginda Abdoellah Dahlan adalah seorang bekas pembantu dosen bahasa Melayu di Universitas Leiden. Sedangkan Baginda Zaiboedin Rasad adalah bekas guru Prins Hendrik School, Jatinegara, Batavia (kini menjadi Jakarta).

Untuk terbitan berikutnya, muncul nama penerjemah baru yaitu Soetan Muhammad Zain dan Baginda Djamaloedin Rasad. Buku ini adalah cetakan kedua.

Soetan Muhammad Zain adalah seorang bekas anggota Volksraad dan pembantu dosen bahasa Melayu di Universitas Leiden. Sedangkan Baginda Djamaloedin Rasad adalah redaktur Sumatera Bergerak di Bukittinggi.

Dan pada cetakan ketiga, muncul nama baru lagi yaitu Armijn Pane sebagai penerjemahnya. Terjemahan kali ini diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Baik cetakan pertama sampai ketiga, tidak menggunakan bahasa Indonesia, tetapi menggunakan bahasa Melayu.  

Buku terjemahan itulah yang kemudian lebih banyak dibaca oleh khalayak banyak. Sehingga, pemikiran Kartini yang begitu cemerlang, pemikiran sosok perempuan yang mendahului zaman, tidak terasa menggigit dan membangkitkan semangat juang banyak orang.

Bisa jadi, pembacanya justru menganggap Kartini seolah hanyalah perempuan biasa. Bisa jadi, pembacanya menganggap Kartini bisa terkenal hanya karena faktor keberuntungan.

Ia seolah dianggap sebagai perempuan istimewa karena merupakan anak keturunan bangsawan, anak bupati, dan sempat mengenyam pendidikan Belanda. Dengan bisa menulis dan berbahasa Belanda, namanya menjadi melejit.

Padahal, bila semua surat Kartini diungkap ke publik, ada banyak pemikiran tentang bibit-bibit nasionalisme paling awal dan otentik lahir dari benaknya. Pemikirannya itu jauh mendahului tokoh-tokoh pergerakan paling awal.

Ia tidak hanya berbicara tentang hak pendidikan bagi kaum perempuan. Ia tidak hanya mengritik adat yang patriarkis. Ia tidak hanya mengritik pemahaman agama yang cekak.

Ia sebenarnya juga mengritik tanam paksa, menyuarakan pentingnya organisasi, seni, ekonomi rakyat, batik,  sistem pendidikan modern, ilmu barat, dan sebagainya.

Bukti mengenai banyaknya gagasannya yang hilang dan tidak dikenal khalayak adalah “diamputasinya” beberapa surat Kartini dalam terjemahan Bahasa Melayu.

Dalam buku Panggil Aku Kartini Saja (2006: 243-245), Pramoedya Ananta Toer mencatat dari 106 pucuk surat Kartini dalam Door Duisternis tot Licht telah digunting 15 kali, dan 17 pucuk surat sama sekali tidak diterjemahkan dan tidak dimuat dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.

Bahkan, sesunggguhnya, yang diterjemahkan tidak sampai 40 persen. Banyak bagian yang justru berisi pemikiran kritis dan perjuangannya dihilangkan paksa. Tentu saja, komposisi itu dilakukan sebagai suatu strategi yang menguntungkan bagi pihak Kolonial Belanda.

Tulisan Kartini memiliki “gaya bahasa yang bebas, kadang menantang, tetapi tetap tidak meninggalkan batas dan kesopanan,’ tulis Pramoedya. Imbangan moral boleh dikatakan menjadi ciri tulisan Kartini yang khas.

Memang, bahwa pada bagian-bagian tertentu, semangat Kartini terasa merosot, jatuh dalam keputusasaan, hilang akal, bahkan tersedu sedan. Dan hal itu adalah wajar. Sebagai manusia, tidak perlu malu mengeluarkan air mata ketika dilanda ketidakberdayaan.

Ia laksana manusia “aneh” dan "langka" yang hidup seorang diri namun ingin mengubah dunia. Meminjam istilah Pramoedya, Kartini adalah seorang “single fighter”.

Bukan karena ia egois dan percaya pada kekuatannya sendiri, namun di kala itu, tiada orang yang paham dan mendukungnya.

Ia mendahului zaman. Ia tak pernah mendapatkan hiburan atas keresahan hidupnya yang selalu menagih-nagih dan bertanya ke sanubarinya, “Mau jadi apa kamu kelak?”

Di sisi lain, ia tidak pernah puas hanya menjadi seorang “Raden Ayu” yang hanya bertengger (berada di samping suami) di istana kaum feodal.

Pada zaman itu, belum ada dan belum sampai ke tahap pembentukan massa sebagai kekuatan politik melawan ketidakadilan.

Di sisi lain, pemikiran Kartini yang mendahului zaman, pasti sudah disadari oleh pihak Kolonial. Maka, ketika surat-suratnya akan diterjemahan ke dalam Bahasa Melayu, pihak Kolonial tak mau kecolongan dan menjadi bumerang baginya.

Komposisi tulisan Kartini yang diterjemahkan, diawasi langsung oleh Pemerintah Kolonial melalui Dr DA Rinkes, sesuai dengan politik penerbitan Volkslectuur. Dia adalah petugas yang mengawasi terbitan-terbitan dalam rangka meningkatkan pengetahuan umum masyarakat.

Dan pengawasannya diarahkan pada tujuan tunggal yaitu, semua bacaan boleh diterbitkan selama “tidak mengajarkan bibit ke arah kemerdekaan”.

Dalam perjalanannya, selain dalam Bahasa Melayu, surat Kartini yang telah “diamputasi” atau kena sensor, juga diterjemahkan dalam bahasa daerah. Sekitar tahun 1920, pimpinan perhimpunan Jong Java sempat ingin menerjemahkan surat Kartini dalam bahasa Jawa, Sunda, Madura, dan Bali.

Namun, yang sempat terealisasi adalah terjemahan dalam bahasa Jawa dan Sunda, tetapi bukan diterbitkan oleh perhimpunan Jong Java. Penerjemah dalam bahasa Jawa adalah Ki Sastra Suganda dan diterbitkan oleh Panitia Fonds Kartini sekitar tahun 1930-an.

Judul terjemahan itu adalah Mboekak Pepeteng (Membuka Kegelapan). Tertulis, buku diterbitakan di Surabaya tahun 1938 dan dicetak oleh GCT van Dorp. Buku terjemahan bahasa Jawa itu terdiri dari 178 halaman.

Dan menurut Pramoedya, dalam terbitan terjemahan dalam bahasa Jawa, gaya bahasa Kartini menjadi kehilangan dayanya. Apalagi, bahasa yang digunakan adalah dengan bahasa Jawa populer.

Sementara itu, terjemahan dalam bahasa Sunda dilakukan oleh R Satjadibrata dengan judul Ti Noe Pek Ka Noe Tjaang. Penerbitnya adalah Balai Pustaka tahun 1930.

Kedua buku terjemahan itu hanya dicetak sekali dan tidak pernah dicetak ulang. Sementara terjemahan ke dalam bahasa daerah lainnya tidak pernah terwujud hingga kini.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto