3
Netral English Netral Mandarin
09:22 wib
Ketua Majelis Tinggi Partai Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku merasa bersalah karena pernah memercayai dan memberikan jabatan kepada Moeldoko ketika masih menjadi presiden. Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko mengucapkan terima kasih setelah terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dalam kongres luar biasa (KLB) kubu kontra-Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Buzzer Pemerintah Harus Ditertibkan, Eko: Kita Akan Lawan, Biar Gak Hidup Seperti di Korut

Rabu, 10-Februari-2021 22:47

Pegiat Media Sosial Eko Kuntadhi
Foto : Istimewa
Pegiat Media Sosial Eko Kuntadhi
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Pegiat media sosial Eko Kuntadhi menolak ide memberangus media sosial bagi para buzzer. Ide ini keluar setelah Presiden meminta publik lebih aktif memberikan kritik kepada pemerintah, namun para tokoh oposisi menilai, presiden harus lebih dulu membubarkan para buzzer nya karena selama ini mereka yang membuat publik takut memberikan pendapat akibat buly an dan bahkan pelaporan ke ranah hukum.

Menurut Eko, dirinya dan para koleganya sesama pegiat media sosial, akan menolak ide itu karena ia menilai itu sama saja dengan kehidupan di Korea Utara, dimana pemerintahnya membatasi penggunaan media sosial.

“Jika Presiden memberangus medsos seperti permintaan para tokoh feodal itu. Ya, kita akan lawan juga. Kita gak mau hidup sprti rakyat Korut.

Untung Presiden kita jiwanya gak feodal kayak mereka itu. Padahal selama ini mereka paling getol jualan Demokrasi.” Tulis Eko di akun Twitternya, Rabu (10/2/2021).

Salah satu tokoh yang meminta para buzzer ditertibkan adalah Sujiwo Tejo.  Sebagai sosok yang aktif di Twitter, budayawan Sujiwo Tejo beberapa kali mencuit soal buzzer. Menurutnya, niat warga melempar kritik ke pemerintah (government) bisa surut gara-gara resah dengan serangan buzzer.

"Masyarakat tadinya sudah aktif menyampaikan kritik ke government tapi langsung diserang oleh buzzer. Kritik berupa pikiran dan sikap dibalik dengan serangan pribadi yang sering tanpa bukti. Plus makian-makian," kata Sujiwo Tejo seperti dilansir dari detik, Selasa (9/2/2021).

"Akibatnya banyak yang akhirnya jadi malas mengritik, bukan karena takut buzzer tapi risih saja dengan kata-kata mereka yang tak senonoh," sambung penulis buku 'Tuhan Maha Asyik' ini.

Sujiwo Tejo menilai perkataan Presiden Jokowi yang mengajak masyarakat aktif mengkritik adalah bukti buzzer yang selama ini ada bukanlah buzzer istana. Jika ingin masyarakat aktif melontarkan kritik, Presiden Jokowi disarankan segera menertibkan buzzer.

"Tapi buzzer pihak penumpang gelap yang justru ingin menjatuhkan Pak Jokowi, yang ingin membuat citra buruk Pak Jokowi bahwa antikritik," ungkapnya.

"Kalau Pak Jokowi ingin masyarakat aktif mengritik government-nya ya tertibkan itu buzzer-buzzer penumpang gelap via Polri dan Kemenkominfo," sambung Sujiwo Tejo.

Sujiwo Tejo mengatakan keberadaan buzzer-buzzer ini menyeleksi kritikus. Tak banyak tokoh yang tangguh bertahan dari bully buzzer.

"Ada juga baiknya buzzer. Mereka menyeleksi kritikus. Hanya amat segelintir tokoh yang tangguh dari bullyan buzzer yang tetap eksis menjadi kritikus. Ini baik karena perubahan sosial mendasar tak pernah berasal dari massa, juga tak dari segelintir orang, tapi dari amat-amat-amat segelintir orang. Itu menurut Al Carthill yang kerap dikutip Bung Karno," paparnya.

Reporter : Dimas Elfarisi
Editor : Sesmawati