Netral English Netral Mandarin
13:39 wib
Uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Kapolri akan digelar pada Rabu (20/1/2021). Polda Metro Jaya menjadwalkan pada Rabu (20/1/2021) gelar perkara terkait kasus dugaan pelanggaran protokol kesehatan (prokes) dalam acara ulang tahun Ricardo Gelael yang dihadiri Raffi Ahmad.
Ini Sosok Calon Kuat Kapolri Pengganti Idham Aziz

Minggu, 27-December-2020 15:20

Lambang Polri
Foto : Istimewa
Lambang Polri
10

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Apabila melihat berbagai argumen dari dua institusi yang dapat memberikan rekomendasi kandidat calon Kapolri kepada Presiden, yaitu Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) dan Dewan Kepangkatan dan Jabatan Tinggi Polri (Wanjakti), ada dua angkatan yang paling memungkinkan menjadi Kapolri yaitu angkatan pendidikan akademi kepolisian 1988 dan angkatan 1989.

Setidaknya, ada tiga orang nama Komjen yang berpeluang besar argumen, yaitu di angkatan 1988 meliputi Komjen Pol Gatot Eddy Pramono selaku Wakapolri dan Komjen Pol Boy Rafli Amar selaku Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), serta Komjen Pol Agus Andrianto selaku Kabaharkam angkatan 1989.

Selama masa pandemi Covid-19, Wakapolri Gatot Eddy Pramono kerap kali muncul di publik karena ditugaskan Presiden Jokowi sebagai Wakil Ketua Pelaksana II Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PCPEN).



Gatot Eddy hingga saat ini disebut sebagai calon kuat Kapolri pengganti Idham Aziz. Pria kelahiran Solok, Sumatra Barat, 28 Juni 1965 berpengalaman dalam bidang reserse. Sebelum menjadi Wakapolri, dia menjabat Kapolda Metro Jaya.

Beberapa waktu lalu, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komaruddin menilai Gatot Eddy merupakan satu dari tiga nama yang paling direkomendasikan untuk menjadi Kapolri.

Sementara itu, Pengamat Intelijen dan Keamanan Stanislaus Riyanta memberikan gambaran keuntungan Komjen Pol Gatot menjadi Kapolri. Dengan masa kerja masih tiga tahun dan sudah cukup senior.

Pengalaman Komjen Pol Gatot Eddy memang perlu perhitungkan, apalagi pernah menjabat Kapolda Metro Jaya sehingga paham soal situasi lapangan. 

SementaraBoy Rafli Amar kariernya seperti Tito Karnavian yang melejit setelah menjabat Kapolda Papua. Boy juga saat ini menduduki jabatan Kepala BNPT, seperti yang pernah dijabat Tito. Perbedaannya, Boy banyak dikenal sebagai humas Polri.

Sebelumnya, Staf Pengajar Universitas Tarumanagara Urbanisasi memprediksi Boy Rafli sangat layak untuk menjadi Kapolri. Selain sosok humanis, ia juga memiliki kemampuan komunikasi ke segala lini.

Hal ini merupakan modal sekaligus Prestasi Komjen Boy Rafly ketika Menjadi Kadiv Humas Polri. 

Salah satu prestasi terbaik Boy Rafli sebagai perwira polisi adalah ketika bertugas di Detasemen Khusus (Densus) 88 Antitror.

Kasus Terorisme yang ditangani Pak Boy termasuk kasus berskala besar dan jangkauannya internasional, beliau menangani kasus bom Bali. 

Dalam menangani kasus Bom Bali, Boy banyak berhadapan dengan para pelakunya seperti Amrozi, Imam Samudra, Muklas, Ali Imron, Doktor Azhari, Nurdin M Top. Bahkan, dengan Ustaz Abu Bakar Baa’syir.

Boy dinilai memiliki loyalitas pengabdian, profesionalisme dan integritas yang tak diragukan.

Sementara Agus Andrianto berpengalaman dalam bidang reserse. Sebelum menjabat Kabaharkam, dia menduduki posisi Kapolda Sumut menggantikan Komjen Firli Bahuri yang menjadi Ketua KPK. Dia gencar mengampanyekan penggunakan produk dalam negeri di institusi kepolisian.

Lulusan Akpol 1989 ini pernah dianugerahi beberapa tanda penghormatan. Dia sangat terkenal ketika menjabat sebagai Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri pada 2016 saat menangani kasus penistaan agama yang melibatkan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. 

Reporter : Sesmawati
Editor : Sesmawati