Netral English Netral Mandarin
05:02wib
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mewacanakan mengganti maskapai BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan Pelita Air milik PT Pertamina (Persero). Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) akan menggelar unjuk rasa mengevaluasi 2 tahun kinerja Jokowi-Ma'ruf bersama Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), Kamis (28/10).
Cantiknya Giethoorn Berwisata Tanpa Jalan Beraspal, Hanya Ada Perahu!

Minggu, 15-Agustus-2021 15:00

Kecantikan Giethoorn di Delf, Belanda.
Foto : Youtube
Kecantikan Giethoorn di Delf, Belanda.
29

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pandemi memang belum selesai! Namun Anda bisa membuat daftar destinasi menarik begitu pintu masuk atau bandara-bandara di dunia dibuka kembali dan siap menerima turis.

Salah satu daftar yang wajib masuk dalam kalender berwisata Anda adalah desa Giothorn di Delf, Belanda. Giothoorn merupakan sebuah desa di Belanda yang tidak memiliki jalanan beraspal ataupun mobil. Satu-satunya alat transportasi adalah perahu.

Di Giethoorn bahkan tidak ada kendaraan darat bermotor yang bisa melewati jalanan di sana. Transportasi hanya bisa dilakukan di atas air, lewat kanal yang bercabang menjadi aliran yang lebih kecil.

Layaknya di Venesia, kota tersebut menggunakan kanal-kanal sebagai jalan dan lalu lalang transportasi sehari-hari. Dikalangan turis Eropa, Giethoorn dikenal dengan julukan Hollandse Venetië (Venesia versi Belanda). Orang Belanda sendiri menyebut Giethoorn dengan sebutan Venetië van Het Noorden alias Venice of The North.

Lantaran letaknya yang berada di wilayah utara Belanda. Jaraknya memang masih jauh dari kota Delf menuju desa ini dan Anda membutukan sekitar  3 jam perjalanan darat.

Awalnya, Giethoorn seperti desa lain yang memiliki jalan-jalan. Hingga pada tahun 1170 terjadi banjir besar yang dinamai St Elizabeth. Banjir tersebut mengakibatkan air mengelilingi dan menggenangi desa itu.Giethoorn kembali didirikan dan dikembangkan pada 1230 ketika buronan Mediterania datang untuk menetap di sini. Para buronan menemukan banyak tanduk kambing liar yang mungkin telah tewas karena banjir. Tanduk-tanduk tesebutlah yang menjadi asal mula nama Giethoorn. Awalnya desa ini disebut 'Geytenhorn' yang berarti 'tanduk kambing' dan akhirnya menjadi Giethoorn .

Penduduk desa menggunakan perahu kecil dengan suara motor yang pelan yang dikenal sebagai kapal berbisik dan jembatan kayu untuk menghubungkan satu tempat dengan tempat yang lain di Giethoorn. Desa wisata ini booming setelah tahun 1958, ketika komedian asal Belanda Bert Haanstra membuat komedi terkenal berjudul 'Fanfare' yang mengambil lokasi di Giethoorn. 

Reporter : Sulha Handayani
Editor : Wahyu Praditya P