Netral English Netral Mandarin
13:54wib
Partai Ummat  menyinggung dominansi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam evaluasi tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo. China kembali menggertak Amerika Serikat setelah Presiden Joe Biden menyatakan bahwa ia akan membela Taiwan jika Negeri Tirai Bambu menyerang.
Cara Jitu Industri Wisata Tetap Berkelanjutan

Minggu, 03-Oktober-2021 06:15

Pengembangan Wisata di Danau Toba termasuk yang diprioritaskan.
Foto : Kemenparekraf
Pengembangan Wisata di Danau Toba termasuk yang diprioritaskan.
19

JAKARTA, NETRALNEWS.COM  - Pandemi, industri pariwisata paling terperangaruh dan banyak pengelola hotel dan restoran mati suri. Namun, pemerintah terus mengoptimalisasi pengembangan pariwisata berkelanjutan di  Indonesia.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, menyampaikan masa pandemi COVID-19 menjadi momentum untuk mengoptimalisasi pengembangan pariwisata berkelanjutan yang mengedepankan pelestarian alam dan budaya di Indonesia.

Sandiaga menyampaikan ada 34 juta masyarakat Indonesia yang menggantungkan kehidupan perekonomiannya di sektor pariwisata, sehingga di masa pandemi ini perlu ada penataan ulang di sektor pariwisata agar pengembangan pariwisata mengedepankan pelestarian alam dan budaya. Sehingga, sektor pariwisata dapat terus dirasakan manfaatnya oleh generasi yang akan datang.

"Sehingga sektor ini nantinya bisa menjadi sektor lokomotif yang mendorong upaya perlindungan pelestarian alam dan warisan budaya dengan konsep planet, people, and prosperity agar bisa dinikmati oleh generasi masa depan," kata Sandiaga, Sabtu, (2/10/2021).

Sandiaga mengatakan sektor pariwisata bukanlah warisan dari generasi yang lalu. Melainkan, pariwisata yang berbasis alam dan budaya adalah titipan yang harus diwariskan ke generasi selanjutnya.

"Di masa pandemi COVID-19 ini, kita perlu mengambil langkah yang lebih inovatif, adaptif, dan kolaboratif untuk mengoptimalisasi pariwisata yang berkelanjutan ini," katanya.

Sandiaga menyampaikan, pada Hari Pariwisata Dunia yang jatuh pada 27 September 2021 bertemakan "Pariwisata untuk Semua", sehingga seluruh masyarakat Indonesia harus merasakan dampak positif dari sektor pariwisata. Terlebih, Presiden Joko Widodo telah menyatakan pembangunan pariwisata nasional terfokus pada pembangunan pariwisata berkelanjutan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, diversifikasi produk dan layanan, kepuasan, pengalaman, dan adopsi teknologi.

"Sejalan dengan itu, sebagai bentuk program konkret dari sustainable tourism development, Kemenparekraf telah membentuk Dewan Kepariwisataan Berkelanjutan Indonesia. Dewan ini terdiri dari orang-orang berpengalaman yang mewakili setiap pemangku kepentingan," jelas Sandiaga.

Sandiaga menjelaskan dewan yang beranggotakan tokoh-tokoh pariwisata nasional seperti Mari Elka Pangestu dan almarhum I Gede Ardika ini menjalankan beberapa tugas strategis dalam optimalisasi pariwisata berkelanjutan di masa pandemi dan pascapandemi COVID-19. Di antaranya memberikan arah kebijakan, advokasi pemikiran, mendorong penerapan kode etik kepariwisataan, kontrol dan monitoring kualitas pariwisata, fasilitasi sertifikasi pariwisata berkelanjutan, dan memberikan evaluasi dan rekomendasi pembangunan pariwisata berkelanjutan di setiap pilar kepariwisataan.

"Tren pariwisata yang dipicu oleh pandemi ini menuju ke arah _personalized_ yang berkaitan dengan pengalaman dan kenangan, localized atau memberikan dampak positif bagi masyarakat lokal. Lalu _customized_ atau wisata minat khusus, dan smaller in size yang mengedepankan kualitas (wisatawan) bukan kuantitas" jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sesmenparekraf/Sestama Baparekraf, Ni Wayan Giri Adnyani menambahkan pihaknya telah melakukan upaya-upaya pengembangan pariwisata berkelanjutan sejak 2015 melalui sejumlah program. Di antaranya Sustainable Tourism Destinations (STD), Sustainable Tourism Observatory (STO), Sustainable Tourism Certification, Sustainable Tourism Industry, dan Sustainable Tourism Marketing and Management.

"Sustainable Tourism Observatory ini dibentuk dengan tiga dimensi (tugas) yaitu penelitian, pemantauan, serta laporan dan rekomendasi," ujar Ni Wayan Giri.

Ia menyebutkan ada lima STO di Indonesia yang tersebar di lima perguruan tinggi negeri. Di mana kelimanya berafiliasi dengan International Network Sustainable Tourism Observatories (INSTO) milik Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO).

"Monitoring Center (MC) STO Danau Toba berada di Universitas Sumatra Utara, kemudian STO Pangandaran di Institut Teknologi Bandung, STO Sleman, Yogyakarta, Borobudur di Universitas Gajah Mada. Lalu STO Sanur, Bali di Universitas Udayana, dan STO Lombok di Universitas Mataram," ujarnya.

Reporter : Sulha Handayani
Editor : Sesmawati