Netral English Netral Mandarin
10:39wib
Sejumlah Guru Besar meminta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) memeriksa Firli Bahuri Cs. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir berkelakar bakal menjadi tim sukses Sandiaga Uno pada pemilihan presiden 2024 mendatang.
Cara Mensos Risma Selesaikan Masalah Desa Fiksi Hingga Sulitnya Beri Bantuan ke Pelosok

Senin, 19-April-2021 13:45

Mensos Tri Rismaharini (kiri) dan Kepala LAPAN Thomas Djamaludin saat Seremoni Penandatanganan Nota Kesepahaman.
Foto : Netralnews.com /Martina Rosa Dwi Lestari
Mensos Tri Rismaharini (kiri) dan Kepala LAPAN Thomas Djamaludin saat Seremoni Penandatanganan Nota Kesepahaman.
10

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini mencoba menyelesaikan masalah sulitnya memberi bantuan ke pelosok hingga kasus desa fiksi. Wanita yang pernah menjabat sebagai Walikota Surabaya ini memiliki ide untuk bekerjasama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang dia ketahui bisa menangani data spasial. 

Risma mengaku, pihaknya mengalami kesulitan saat mencari warga di daerah yang letak pemukimannya sulit diakses dan sulit untuk diperoleh data, misalnya saja di pegunungan. Hal itu terjadi tentu tidak hanya saat suatu kawasan tengah alami bencana saja.

Mensos Risma memberi contoh kasus di Agats, Asmat, Papua. Dia kerap berkomunikasi dengan Tokoh Agama Uskup Agats yang juga memiliki misi sosial. Diketahui antara satu distrik atau desa yang satu dengan yang lain memiliki jarak yang cukup jauh, yakni empat jam apabila ditempuh dengan perahu.

Mensos Risma juga teringat akan pengalamannya saat menjabat sebagai Walikota Surabaya. Saat itu dia kerap memberikan banyak memberikan bantuan saat kawasan tersebut alami kelaparan atau adanya kasus meninggal. 

"Jadi jangan sampai itu terjadi lagi dan (melalui kerjasama dengan LAPAN) kita bisa berikan data penginderaan bahkan sampai setengah meter. Itu sangat dekat sekali sehingga kita bisa tahu kampung, kawasan realistis yang bisa dibantu secara khusus. Ini yang coba saya selesaikan," jelas Mensos di Kantor LAPAN di Jakarta, Senin (19/4/2021).

Pernyataan itu disampaikan Mensos dalam Seremoni Penandatanganan Nota Kesepahaman Antara Kemensos dengan LAPAN tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial Melalui Pemanfaatan dan Pengembangan Sains dan Teknologi Penerbangan dan Antariksa.

Pada kesempatan yang sama, Kepala LAPAN Thomas Djamaludin katakan, pihaknya memiliki beberapa resumsi citra satelit. Reumsi rendah untuk melihat kondisi lingkungan, resumsi menengah biasanya terkait sumber daya alam dan resumsi tinggi biasanya terkait dengan pemetaan yang lebih detil, misal untuk perencanaan kota. 

Thomas jelaskan, bahwa alamat rumah di daerah dengan diperkotaan berbeda. Misalnya saja terkait sulit diketahuinya RT/RW, nama jalan, hingga nomor rumah dan sebagainya. Tetapi dengan citra satelit yang pihaknya miliki, dapat diidentifikasi koordinat tempat tinggal sasaran program sosial yang didukung dengan data spasial. 

Diakui juga ada keterbatasan citra satelit apabila suatu terutup awan dan bisa diatasi melalui penggunaan pesawat tanpa awak atau drone ke suatu wilayah. Ini juga yang bisa dilakukan LAPAN saat suatu kawasan alami bencana tanah longsor, banjir bandang dan bencana lainnya saat diperlukan informasi data dengan penginderaan jarak jauh. 

"Ini beberapa potensi teknologi di LAPAN yang bisa dimanfaatkan Kemensos untuk penanganan sosial," tegas Thomas.

Diakui Mensos, kasus keterbatasan alamat ini juga menimbulkan isu bahwa pemerintah tidak bergerak dan tidak membantu. Atau bahkan sebaliknya, pemerintah membantu tetapi tidak tahu lokasi tepatnya di mana, hingga isu adanya desa fiksi.

"Dengan citra satelit bisa diketahui rumahnya. Kalau di atas gunung tidak ada alamat jadi nanti berupa bujur lintang apa seperti itu dan diketahui ada (bukan desa fiksi)," harap Mensos Risma.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli