Netral English Netral Mandarin
banner paskah
03:06wib
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyetujui penggunaan izin darurat (emergency use authorization/EUA) vaksin Covid-19 Sinopharm dengan efikasi 78,1 persen. Satgas Penanganan Covid-19 menyatakan bahwa mudik Lebaran 2021, baik itu jarak jauh maupun jarak dekat, tetap ditiadakan.
Cita-Cita Membangun Khilafah dan Yerusalem di Tanah Jawa yang Tak Kesampaian

Minggu, 11-April-2021 11:06

Menara Kudus tahun 1880
Foto : KITLV
Menara Kudus tahun 1880
10

KUDUS, NETRALNEWS.COM - Umat muslim di Indonesia pasti tidak asing dengan keberadaan Masjid Kudus yang terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah. Namun tahukah Anda bahwa tempat ini pernah diidentikkan dengan kota Yerusalem dan masjid al-Aqsa?

Selain terkenal karena sebagai “Masjid Menara” yang bergaya neo Timur Tengah, di masjid ini tepatnya di ruang Salat, di atas mihrab, terdapat sebuah prasasti bertulis Arab yang ternyata amat sangat penting secara historis.

Dibangun oleh Sunan Kudus

Menurut keterangan penduduk setempat, prasasti itu dibawa sendiri oleh Sunan Kudus dari Kota Yerusalem di Timur Tengah. Batu prasasti itu berukuran 40 x 23 centimeter (tidak termasuk bingkainya).

Namun, dalam kajian Ludvik Kalus dan Claude Guillot dalam Inskripsi Islam Tertua di Indonesia (2008: 101-132), bisa jadi tradisi lisan itu menyiratkan bahwa batunya diukir di luar Pulau Jawa.

Dan setelah sekian lama tulisan dalam prasasti itu belum terpecahkan, pada 1959, Sayyid Dzia Shahab berhasil menerjemahkannya kemudian ditranskripsikan oleh Solichin Salam dalam buku kecil berjudul Sunan Kudus Riwajat Hidup serta Perdjoanganja.  

Namun, dalam terjemahan tersebut, menurut Ludvik Kalus dan Claude Guillot, ada beberapa penafsiaran yang dianggap keliru. Dan salah satu tafsir yang diajukan adalah mengenai konsep Masjid Kudus yang diidentikkan sebagai Kota Yerusalem dan al-Aqsa oleh Sunan Kudus.

Salah satu penggalan dalam prasasti Masjid Kudus adalah bahwa di akhir tulisan prasasti terdapat nama “Kadi Ja’far al-Sadiq”. Ludvik Kalus dan Claude Guillot  berpendapat bahwa sebutan Ja’far al-Sadiq tak lain adalah menunjuk sosok Sunan Kudus.

Pendiri masjid rupanya disamakan dengan seorang tokoh sejarah bernama Ja’far al-Sadiq yang lahir di Madinah pada tahun 80/699-700 dan meninggal pada 148/765. Ia adalah seorang imam yang baik dari penganut Syiah Imamiyah.

Bagi sebagian umat muslim, ia dianggap tidak wafat namun masih hidup serta akan kembali sebagai Mahdi. Dan perlu diketahui, pendiri Masjid Kudus yang bernama Ja’far al-Sadiq  ternyata makamnya sama dengan makam Sunan Kudus yang berada di belakang masjid.

Hal penting berikutnya, menurut Ludvik Kalus dan Claude Guillot, berdasar prasasti Masjid Kudus, diyakini bahwa Sunan Kudus secara sadar mengonsepsikan pendirian Masjid Kudus dengan menyamakan seperti pembangunan kota Yerusalem dan al-Aqsa.  

Kota Yerusalem didirikan oleh Raja Daud (Nabi Daud) sebagai Raja Israel pada tahun 1004 sampai 965 Sebelum Masehi. Ia dipercaya sebagai raja yang sempurna dan keberadaannya dimuliakan dalam Alquran. Dialah Khalifah Allah di atas bumi yang akan hadir di masa akan datang.

Ia pula yang berhasil menyatukan suku-suku Yahudi. Ia pula yang memprakarsai pendirian kuil yang ternyata baru dibangun oleh anaknya yang bernama Sulaiman. Di kuil itulah kini berdiri Masjid al-Aqsa.

Poin penting selanjutnya adalah bahwa di masa Sunan Kudus, pada abad ke-15, konsepsi negara politik yang ideal adalah sistem teokrasi. Selain di Kudus, Kadi masjid di Gresik (Sunan Giri) juga melakukan hal sama.

Konsep yang sama juga ada di Cirebon dengan pencetusnya bernama Sunan Gunung Jati. Ketiga sunan tersebut merupakan para penggagas sistem politik yang berusaha mempersatukan kekuasaan spiritual dengan sekuler.

Maka dalam konteks itulah, Sunan Kudus mengacu Kota Yerusalem sebagai tempat yang akan dibangun di daerah Masjid Kudus berada. Ia bercita-cita mampu melahirkan sistem Khalifah baru di tanah Jawa.

Lalu apakah ia juga mengimpikan bisa membuat daerah Kudus menjadi "Yerusalem baru" di tanah Jawa? Sayangnya, tak ada jawaban pasti untuk pertanyaan ini. Kalaupun benar, tampaknya cita-cita itu akhirnya tak pernah kesampaian.

Jihad perdana di Tanah Jawa

Dalam berbagai sumber sejarah Jawa seperti Babad Tanah Jawa dan Hikayat Melayu, seperti dikaji oleh De Graaf dan Pigeaud, Sunan Kudus tampil pada masa akhir kerajaan Hindu bernama Majapahit yaitu pada pertengahan abad ke-16.

Sekitar tahun 1524, Kerajaan Majapahit diserang pertama kalinya oleh kekuatan baru yang bercorak Islam yaitu pasukan dari Kerajaan Demak. Salah satu pemimpin penyerangan itu ternyata adalah imam masjid di Kudus. Sayangnya, serangan pertama itu mengalami kegagalan.

Imam dari Masjid Kudus yang mewakili Kerajaan Demak pun gugur. Karena kematiannya, ia kemudian dianggap sebagai pahlawan Jihad untuk pertama kalinya. Anaknya kemudian meneruskan cita-cita ayahnya, membantu Kerajaan Demak dalam meruntuhkan Majapahit.

Putra imam di Masjid Kudus itu tak lain adalah Sunan Kudus. Penyerangan kali ini dilakukan sekitar tahun 1527 dan berhasil memperoleh kemenangan. Dengan keberhasilan tersebut, Sunan Kudus mendapat gelar sebagai Imam Masjid Kerajaan Demak.

Dalam catatan sumber lainnya juga dikisahkan bahwa Sunan Kudus pernah memimpin pasukan Demak dalam menaklukkan Kerajaan di pedalaman Pulau Jawa. Kerajaan itu berada di lereng Gunung Merapi dan bernama Pengging.

Raja itu harus ditaklukkan karena telah menganut aliran Islam yang dianggap menyimpang. Ia menganut ajaran Syeh Siti Jenar.

Konon, ketika Syekh Siti Jenar ditangkap, yang mengadili dan menghukum mati Syeh Siti adalah Sunan Kudus.

Sunan Kudus pula yang mengadili tokoh Islam perdana di Jawa lainnya yaitu Syekh Jangkung dan Syekh Maulana.

Syekh Jangkung dihukum berat karena dituduh mendirikan masjid  tanpa izin. Dan satu lagi, Syekh Maulana, murid Sunan Gunung Jati juga dihukum berat oleh Sunan Kudus karena paham yang diajarkannya berbeda dengan ajaran Sunan Kudus.

Pada tahun 1546, Sultan Demak yaitu Sultan Trenggono terbunuh dalam suatu perang jihad di wilayah Timur Pulau Jawa. Terjadilah perebutan kekuasaan antara dua anak Trenggono yaitu Sunan Prawata dan Pangeran Jipang.

Sunan Prawata didukung oleh ulama dari Sunan Kali Jaga sedangkan Pangeran Jipang didukung oleh Sunan Kudus. Benturan kepentingan terjadi. Konon, atas desakan Sunan Kudus, Sunan Prawata kemudian dibunuh.

Namun, Pangeran Jipang ternyata tidak bisa menikmati kekuasaan Demak lebih lama. Karena tanpa diduga, muncul tokoh baru dari Pajang bernama Jaka Tingkir yang kemudian berhasil menumbangkan Pangeran Jipang dari tahta kerajaan Demak.

Lahirlah babak baru yaitu trah Kerajaan Mataram. Padahal, Kerajaan ini juga sama yaitu bercorak Islam. Namun mungkin kemasannya saja sebab yang namanya paham agama ternyata tidak mampu merangkul dan memayungi nafsu kekuasaan.

Dari sini tergambar bahwa sudah sejak awal, antar tokoh penyebar agama Islam di tanah Jawa mengalami benturan paham dan kepentingan. Korban jiwa pun tak sedikit yang berjatuhan.

Puncak dari kiprah Sunan Kudus terjadi sekitar tahun 1549. Ia memutuskan meninggalkan Kerajaan Demak. Konon ia berselisih paham dengan Sultan Demak, ketika menentukan masa awal bulan Ramadan.

Sejak itu ia menetap di Tajug yang kemudian diubah menjadi Kudus. Di tempat itu, dibangunlah keraton.

Tidak diketahui secara pasti kapan Sunan Kudus wafat. Namun yang pasti, kejayaannya tidak berlangsung lebih dari setengah abad.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto