Netral English Netral Mandarin
13:34wib
TNI Angkatan Udara melayangkan permintaan maaf atas peristiwa kekerasan yang dilakukan dua oknum prajuritnya terhadap warga sipil di Merauke, Papua, Senin. Pemerintah Amerika Serikat kembali mengimbau kepada para penduduk dan pemukim kembali mengenakan masker guna mencegah infeksi virus corona (Covid-19) varian Delta.
Covid-19 Sudah Tak Ada Lagi di Piala Eropa, Indonesia Jangan Iri!

Selasa, 22-Juni-2021 21:30

Penonton tak lagi bermasker di ajang Piala Eropa 2020.
Foto : Yahoo
Penonton tak lagi bermasker di ajang Piala Eropa 2020.
8

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Anda mungkin termasuk satu dari sekian warga Indonesia yang iri melihat penonton bersorak sorai saat menyaksikan tim kesayangannya bertanding di Piala Eropa.

Tak ada jaga jarak, tak ada masker, ya sepertinya mereka sudah benar-benar bebas dari pengaruh Covid-19 maupun varian barunya.

Bahkan, pada saat pertandingan grup F Euro 2020 antara Hungaria vs Portugal, penonton memenuhi stadion, nyaris tanpa jarak, tanpa masker, sebanyak 67.000 kursi penonton terisi penuh.

Puskas Stadium, yang menjadi venue dari laga tersebut adalah pertandingan pertama yang mengizinkan penonton hadir ke stadion dalam gelaran Euro 2020.

Stadion Puskas Arena, Budapest, Hungaria, hampir penuh oleh suporter kedua tim. Diketahui, Federasi sepakbola Hungaria mendukung penuh adanya penonton yang hadir ke stadion. Ini tidak lepas dari peran Perdana Menteri Viktor Orban yang memang menggilai sepakbola. Ia menjalankan program vaksinasi besar-besaran, tujuannya? agar supporter bisa datang ke stadion.

Viktor Orban juga menilai, adanya supporter yang datang ke stadion akan menaikkan moral timnas Hungaria yang berlaga di Euro 2020.

Belum lagi saat pertandingan berlangsung di Roma, dan sejumlah stadion lainnya. Tanpa Masker! Lantas, mengapa Indonesia belum bisa seperti itu? Atau, layakkah dibandingkan dengan kondisi di Indonesia?

Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian RS Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, dr Tonang Dwi Ardyanto, memberikan pandangannya.

"Kita ini memang suka melihat bagian akhir, tapi jarang melihat proses," ungkapnya dilansir Tribun, (17/6/2021).

Satu faktor yang paling berpengaruh, ungkap Tonang, adalah cakupan vaksinasi.

"Negara-negara di Eropa itu cakupan vaksinasinya sudah tinggi dan terbukti kasusnya sudah turun," ungkapnya.Seperti Inggris, dicontohkan Tonang, cakupan vaksinasi hampir mencapai 60 persen.

Tonang mengungkapkan, penonton Euro 2020 yang hadir di stadion bukannya tanpa aturan. Mereka diharuskan membawa bukti sudah mendapat vaksinasi Covid-19 secara komplit.


Herd Immunity

WHO menambahkan, berbagai salah kaprah masih ada dan diyakini benar adanya padahal pandemi sudah satu tahun lebih berjalan.

Salah kaprah inilah yang mejadi salah satu faktor penyebaran virus Covid-19, walaupun sering tidak disadari oleh orang yang telah membawa dan menularkannya.

Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan agar masyarakat dunia tidak membiarkan virus corona menyebar untuk mencapai herd immunity. Menurutnya, banyak yang salah kaprah soal imunitas ini dan mengatakan gagasan itu tidak etis. 

"Herd immunity atau kekebalan kelompok adalah konsep yang digunakan untuk vaksinasi, di mana suatu populasi dapat dilindungi dari virus tertentu jika ambang batas vaksinasi tercapai," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam jumpa pers virtual seperti yang dikutip dari The Guardian. 

Dia menyontohkan, untuk campak misalnya, diperkirakan jika 95% penduduk divaksinasi, sisanya 5% juga akan terlindungi dari penyebaran virus. Untuk polio ambang batasnya diperkirakan 80%.

“Kekebalan kelompok dicapai dengan melindungi orang dari virus, bukan dengan membuat mereka terpapar virus,” kata Tedros. "Dalam sejarah kesehatan masyarakat, kekebalan kelompok tidak pernah digunakan sebagai strategi untuk menanggapi wabah, apalagi pandemi." 

The Guardian memberitakan, pada minggu lalu, sekelompok ilmuwan internasional meminta pemerintah untuk mengizinkan orang muda dan sehat untuk kembali ke kehidupan normal sambil melindungi kelompok warga yang paling rentan.

Belakangan diketahui bahwa beberapa penanda tangan ahli dari "deklarasi Great Barrington" adalah nama palsu, tetapi dokumen tersebut sekali lagi mencerminkan seruan yang disoroti sebagai upaya untuk mengembangkan kekebalan kelompok. 

"Mengandalkan kekebalan kelompok secara alami akan bermasalah secara ilmiah dan etika. Membiarkan virus berbahaya yang tidak sepenuhnya kami pahami untuk bebas adalah tidak etis. Itu bukan pilihan," kata Tedros. 

Melansir The Guardian, Tedros menyontohkan minimnya informasi tentang perkembangan kekebalan terhadap Covid-19, termasuk seberapa kuat respon imun dan berapa lama antibodi tetap berada di dalam tubuh.

Tedros merujuk pada beberapa kasus di mana orang diyakini telah terinfeksi virus untuk kedua kalinya. Dia juga menekankan banyak masalah kesehatan jangka panjang akibat infeksi, yang baru mulai dipahami oleh para peneliti. 

Dia memperkirakan, kurang dari 10% populasi di sebagian besar negara diyakini tertular penyakit tersebut. “Sebagian besar orang di kebanyakan negara tetap rentan terhadap virus ini,” katanya. “Membiarkan virus bersirkulasi tanpa terkendali berarti membiarkan infeksi, penderitaan, dan kematian yang tidak perlu.”

Sementara, orang tua dan orang-orang yang memiliki penyakit yang mendasarinya jelas paling mungkin untuk jatuh sakit parah akibat Covid-19. Tedros menekankan, mereka bukan satu-satunya yang berisiko. “Orang-orang dari segala usia telah meninggal,” katanya. 

Badan PBB juga menyuarakan optimisme pada kecepatan pengembangan vaksin melawan virus, dengan 40 kandidat vaksin dalam uji klinis, termasuk 10 kandidat yang kini dalam uji coba fase 3 tahap akhir. 

Reporter : Sulha Handayani
Editor : Sesmawati