Netral English Netral Mandarin
04:36wib
Hampir seluruh negara di dunia meningkatkan pembatasan Covid-19 ketika kasus varian Delta melonjak, yang tidak sedikit orang menentangnya. Presiden Joko Widodo mengajak seluruh elemen bangsa bahu-membahu berupaya melawan pandemi Covid-19.
Denny Sebut Senang Ganjar Dihajar, Emas Dibuang di Tempat Sampah Tetap Emas, Takdir Tuhan Tak Bisa Ditentang

Senin, 24-Mei-2021 10:05

Ganjar Pranowo dan Puan Maharani
Foto : Kolase Terkini.id
Ganjar Pranowo dan Puan Maharani
15

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Denny Siregar mengulas panjang lebar bahwa apa yang terjadi dengan Ganjar Pranowo seperti mengulang apa yang pernah terjadi dengan Joko Widodo di tahun 2013. 

Kala itu Jokowi ditolak elite Partai PDIP. Bahkan Taufik Kiemas juga menolak jika Jokowi menjadi Capres PDIP. Namun takdir Tuhan berbicara  lain.

Denny juga mengaku senang bila Ganjar “dihajar”.  Meski dibuang ke tempat sampah, kalaupun emas tetap emas. 

“Kalau saya jadi pemimpin partai selain PDIP, saya sih senang Ganjar Pranowo dihajar di internalnya. Karena buat saya emas tetap emas meski dia dibuang ke tempat sampah” kata Denny selanjutnya.

“Lebih baik saya lamar dia, dan saya memposisikan diri jadi Cawapresnya. Biar PDIP nanti manyun karena gada barang yang bagus untuk ditawarkan..,” imbuhnya.

“Takdir Tuhan gak bisa ditentang manusia. Kalau Tuhan memang merencanakan seseorang jadi pemimpin, mau dibuang2 juga tetap akan jadi,” lanjutnya.

“Ada juga yang nafsu banget pengen jadi Presiden. Uang ada. Nama ada. Kendaraan ada. Jaringan ada. Tapi berkali2 nyapres, gagal maning gagal maning…,” tandas Denny.

Berikut catatan lengkap Denny Siregar:

GANJAR PRANOWO MENGULANG KISAH JOKOWI..

"Jokowi tidak akan jadi Capres !"

Begitu perkataan tegas almarhum Taufik Kiemas, tokoh besar PDIP di tahun 2013. 

Disaat itu Jokowi baru saja jadi Gubernur Jakarta dan muncul desas desus bahwa dialah calon terkuat untuk menjadi Capres 2014, karena suara Megawati setiap survey selalu dibawah Prabowo.

Memang bukan sesuatu yang umum waktu itu, seorang kader partai jadi Capres, karena Capres itu wilayahnya ketua partai. 

Apalagi di PDIP, dimana seorang capres haruslah dari trah Soekarno. Jokowi bukan, dia hanya orang biasa yang ideologinya sangat Soekarno, bukan biologisnya.

Tapi mau gimanapun PDIP menghalangi Jokowi, namanya terus naik. Dalam setiap survey, nama Jokowi selalu unggul dibandingkan Prabowo. 

Ini yang bikin elit PDIP gelisah luar biasa. Seperti buah simalakama, gak nyalonin Jokowi bisa2 PDIP kalah, nyalonin Jokowi trus gimana perasaan bu Mega ?

Untunglah di detik2 terakhir bu Mega sangat rasional dan berbesar hati. Jokowi dicalonkan jadi Capres 2014 dan terbukti menang. Dua periode malah. 

PDIP akhirnya sadar, bahwa zaman sudah berubah. Orang melihat figur atau sosok, bukan lagi partai. Jokowi menyelamatkan PDIP dari kekalahan, seandainya mereka dulu memaksakan Megawati maju perang.

Situasi yang hampir mirip terjadi lagi..

Tiba2 terdengar kabar kalau PDIP dibawah kendali Puan Maharani, mencoba menyingkirkan Ganjar Pranowo Gubernur Jateng dari kemungkinan menjadi Capres 2024. 

Ganjar tiba2 dimusuhi, bahkan tidak diundang di acara Puan di Jateng. Dalam surat undangan itu semua perwakilan dan kepala daerah di Jateng diundang ke acara, kecuali Gubernur.

Ada apa ?

"Ganjar terlalu ambisi jadi Presiden.." kata Bambang Pacul, ketua pemenangan PDIP yang juga ketua DPD PDIP Jateng. Alasan lain yang lebih lucu dinyatakan Bambang,

"Ganjar terlalu sering main medsos, bahkan mau aja diundang jadi host di Youtube.." 

Ini alasan kocak sebenarnya, lah kenapa emang kalo Gubernur menjalin komunikasi dgn rakyatnya lewat medsos ? Ini kan memang jaman digital ?? 

Yang salah itu, kalo seorang Gubernur gaptek gak ngerti teknologi. PDIP langsung terasa jadoelnya dengan pernyataan itu. Berasa sebagai partai di jaman purba di kalangan milenial yang hidupnya ada di internet.

Bambang Pacul seperti mengulang kesalahan almarhum Taufik Kiemas. Semakin dihalangi, malah nama Ganjar Pranowo semakin melejit. 

Sebelum diributkan saja, survey terakhir dari SMRC nama Ganjar ada diatas Prabowo dan Anies Baswedan. Nama Puan jauh dibawah. Halo, ini kenyataan pahit memang tapi harus ditelan. Puan belum laku dijual, jangan dipaksakan..

Tapi saya kok jadi senyum2 sendiri baca pola berulang yang hampir tidak disadari. Siapapun yang digencet PDIP, ndilalah malah jadi Presiden.

Bu Mega memecat SBY, SBY malah jadi Presiden. Almarhum Taufik Kiemas menghambat Jokowi, Jokowi malah jadi Presiden..

Jangan2 ketika Ganjar disingkirkan Puan, Ganjar malah yang jadi Presiden?

Kalau saya jadi pemimpin partai selain PDIP, saya sih senang Ganjar Pranowo dihajar di internalnya. Karena buat saya emas tetap emas meski dia dibuang ke tempat sampah.

Lebih baik saya lamar dia, dan saya memposisikan diri jadi Cawapresnya. Biar PDIP nanti manyun karena gada barang yang bagus untuk ditawarkan..

Takdir Tuhan gak bisa ditentang manusia. Kalau Tuhan memang merencanakan seseorang jadi pemimpin, mau dibuang2 juga tetap akan jadi. 

Ada juga yang nafsu banget pengen jadi Presiden. Uang ada. Nama ada. Kendaraan ada. Jaringan ada. Tapi berkali2 nyapres, gagal maning gagal maning…

Ahhh jadi pengen seruput kopi..

Denny Siregar

Kejadian Tahun 2014

Denny Siregar juga mengunggah tangkapan layar berita tahun 2013. Dinukil detik.com, kala itu, salah satu survei membuktikan popularitas Gubernur DKI Joko Widodo melebihi Megawati dan Prabowo Subiyanto untuk menjadi calon presiden. 

Namun, politisi senior PDIP Taufiq Kiemas menyatakan Jokowi tidak akan maju sebagai calon presiden 2014 dari PDIP.

"Saya rasa PDIP tidak mengizinkan itu, karena pekerjaan dia belum selesai," ujar Taufiq Kiemas ketika bersilaturahmi ke kantor Pupuk Sriwijaya, Sungai Selayur, Kali Doni, Palembang, Senin (11/2/2013) malam.

Taufiq melihat Jokowi masih terlalu dini untuk mencalonkan diri. Jokowi perlu membuktikan janji-janjinya terlebih dahulu.

Meski demikian, Taufiq tak akan menghalangi jika Jokowi tetap berniat mengajukan diri menjadi capres. Itu merupakan hak politik semua orang.

"Tapi saya juga tidak melarang kalau beliau berniat maju capres. Itu hak politik Jokowi," tutur Taufiq.

Hasil survei Pusat Data Bersama (PDB) beberpa waktu menunjukkan Jokowi bertengger di urutan teratas capres potensial 2014. Walikota nomor tiga sedunia itu mengalahkan muka-muka lama lainnya.

Berikut 13 besar capres potensial, berdasarkan survei PDB:

1. Joko Widodo 21,2 persen

2. Prabowo Subianto 18,4 persen

3. Megawati Soekarnoputri 13,0 persen

4. Rhoma Irama 10,4 persen

5. Aburizal Bakrie 9,3 persen

6. Jusuf Kalla 7,8 persen

7. Wiranto 3,5 persen

8. Mahfud MD 2,8 persen

9. Dahlan Iskan 2,0 persen

10. Surya Paloh 1,3 persen

11. Hatta Rajasa 1,2 persen

12. Chairul Tanjung 0,4 persen

13. Djoko Suyanto 0,3 persen

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Wahyu Praditya P