Netral English Netral Mandarin
11:09 wib
Sejumlah ahli mengkritik penerapan alat deteksi Covid-19 GeNose karena masih tahap ekperimental. Belum bisa dipakai dalam pelayanan publik khususnya screening Covid-19. Polri menegaskan akan menindaklanjuti kasus rasisme yang dialami mantan komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai. Diketahui, Pigai menjadi korban rasis yang dilakukan Ambroncius Nababan.
Anggota FPI Tewas Disajikan Gaya Novel, DS: Jejak Kelompok Itu Pengecut, Berlindung Manusia Bodoh tapi...

Rabu, 16-December-2020 21:22

Denny Siregar mengatakan Jejak Kelompok FPI Pengecut
Foto : Istimewa
Denny Siregar mengatakan Jejak Kelompok FPI Pengecut
10

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kuasa hukum enam anggota Front Pembela Islam (FPI) Munarman, menilai, penanganan perkara dan rekonstruksi oleh kepolisian atas kasus tewasnya enam laskar FPI pengawal Habib Rizieq Shihab di Tol Jakarta-Cikampek KM 50 Karawang, sangat lucu.

Munarman menganggap penanganan kepolisian atas kasus itu seperti drama komedi.

“Kasus pembantaian enam syuhada warga negara Indonesia yang semakin menunjukkan rangkaian drama komedi yang garing,” kata Munarman dalam pesan singkatnya kepada jpnn, Selasa (15/12).

Namun berbeda dengan pegiat media sosial Denny Siregar. Melalui akun FB-nya, Rabu (16/12/20), ia malah membuat cerita ulang versi reka ulang. Denny menyebutnya model novel agar mudah dipahami.

Dalam catatanya, Denny menyebutkan "Hati-hati. Ada yang sedang menggoreng isu bahwa yang terjadi adalah polisi membantai 6 orang. Mereka ingin melemahkan institusi kepolisian yang sedang bekerja menjalankan tugas negara. Kontras dan Komnas HAM juga tidak mau hadir dalam rekonstruksi. Mereka pengen punya sudut pandang sendiri."

"Dan seperti biasa, FPI berlaku seperti pola teroris di banyak negara. Mereka memainkan konsep "terzolimi" berusaha menarik simpati massa, supaya bisa bikin demo besar untuk memancing kerusuhan berikutnya," lanjut Denny.

"Jangan terpancing dengan narasi yang mereka bikin untuk mengaduk emosi. Jejak kelompok itu sejak lama kita kenal, munafik dan pengecut dan selalu berlindung dibalik tameng massa manusia bodoh yang gak ngerti apa2, tapi digiring supaya bisa bentrok dan jadi bahan propaganda berikutnya..," tegas Denny.

Berikut catatan lengkap Denny Siregar:

BANG ! BANG ! 6 LASKAR RIZIEQ MATI..

Malam itu, dua mobil dari kepolisian sedang mengintai Rizieq yang kabarnya ada di rumah menantunya, sesudah kabur dari RS..

Mendadak keluar beberapa mobil beriringan keluar dari area lokasi. "Target keluar.." kata seorang polisi. Mereka lalu menguntit iring2an itu. Yang tidak disadari adalah posisi mereka sudah diketahui oleh pengawal Rizieq.

Kejar2an terjadi. Suasana waktu itu menjelang dinihari, hujan gerimis sehingga tidak banyak kendaraan di jalan tol. Kecepatan mobil mereka rata2 100-120 km/jam. Cepat sekali. Mendadak rombongan Rizieq berpisah. Salah satu rombongan memepet mobil2 polisi itu sehingga mereka terpisah satu sama lain.

Tiba2 satu mobil pengawal Rizieq menabrak bagian depan mobil polisi. Sedangkan satunya lagi berhenti di depan memblokir jalan. Semua berhenti. Dari mobil pengawal Rizieq keluar 4 orang dengan bawa clurit, katana dan senjata tajam. Mereka merusak mobil. "Kami polisi !" Kata seorang anggota di dalam mobil.

Mendadak, Bang ! bang ! bang ! Tiga tembakan datang dari arah mobil laskar Rizieq. Menembus kaca mobil. Polisi mengambil pistol dan membidik, Bang ! Satu orang kayaknya kena dan mati. 4 orang pengawal yang tadi diluar mengancam, buru2 masuk ke dalam mobil dan mendadak pergi.

Aksi kejar2an pun kembali terjadi.

Dalam kecepatan tinggi, seperti di film-film, kedua mobil saling berpepetan. Tiba2 dari jendela mobil pengawal Riziek ada yang memegang senjata sedang membidik ke arah mobil polisi. Polisi sigap menghindar sedikit dan menembak ke mobil mereka, Bang ! Satu lagi pengawal Rizieq kena. 2 orang mati.

Kedua mobil langsung berhenti.

Sigap anggota polisi turun dan memaksa penumpang yang hidup keluar. Ada 6 orang di dalam, 4 orang disuruh keluar dan tiarap, yang 2 sudah mati.

Mobil polisi yang sebelumnya tertinggal datang ke lokasi. Mereka kemudian menjemput mayat pengawal Rizieq untuk dibawa ke RS.
4 orang yang masih hidup dibawa ke kantor polisi. Sayang, tidak ada borgol karena memang niatnya bukan penangkapan tapi pengintaian.

Dalam perjalanan, terjadi perkelahian di dalam mobil. Satu orang pengawal Rizieq mendadak menyerang supir. Memukul dan mencekiknya dan berusaha merebut pistol. "Amankan pistol.." teriak supir. Tapi sulit sekali. 3 orang pengawal Rizieq juga menyerang dan memukul polisi di dalam mobil. Situasi tidak menguntungkan.

Ini antara hidup dan mati. Kill or be killed.

Maka pistol polisi kembali menyala Bang ! bang ! bang ! bang ! Tepat pada sasaran, 4 orang penjahat mati seketika di dalam mobil.

Begitulah situasi apa yang terjadi. Saya ceritakan dengan bahasa sederhana dan gaya penulisan novel supaya kita semua mengerti. Cerita ini harus disebarkan ke semua orang, bahwa polisi harus bertindak cepat dalam situasi yang sangat berbahaya.

Hati-hati. Ada yang sedang menggoreng isu bahwa yang terjadi adalah "polisi membantai 6 orang". Mereka ingin melemahkan institusi kepolisian yang sedang bekerja menjalankan tugas negara. Kontras dan Komnas HAM juga tidak mau hadir dalam rekonstruksi. Mereka pengen punya sudut pandang sendiri.

Dan seperti biasa, FPI berlaku seperti pola teroris di banyak negara. Mereka memainkan konsep "terzolimi" berusaha menarik simpati massa, supaya bisa bikin demo besar untuk memancing kerusuhan berikutnya.

Jangan terpancing dengan narasi yang mereka bikin untuk mengaduk emosi. Jejak kelompok itu sejak lama kita kenal, munafik dan pengecut dan selalu berlindung dibalik tameng massa manusia bodoh yang gak ngerti apa2, tapi digiring supaya bisa bentrok dan jadi bahan propaganda berikutnya..


Seruput kopinya...
Denny Siregar

Pernyataan Munarman

Sementara itu, Kuasa hukum enam anggota Front Pembela Islam (FPI) Munarman justru tegas menyatakan menolak pengusutan, rekonstruksi, dan reka ulang dari pihak kepolisian.Terlebih lagi, menurut Munarman, kepolisian menggiring opini seolah para laskar FPI yang tewas sebagai pelaku penyerangan.

“Penanganan perkara yang dilakukan oleh pihak Kepolisian dengan menggunakan ketentuan Pasal 170 KU HP Jo. Pasal 1 (1) dan (2) Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dan atau Pasal 214 KUHP dan atau Pasal 216 KUHP adalah tidak tepat, karena justru menjadikan enam syuhada anggota laskar FPI tersebut adalah sebagai pelaku, yang sejatinya mereka adalah sebagai korban,” ujar Sekretaris Umum FPI.

Munarman mengatakan, secara hukum acara pidana, dengan mengikuti alur logika pihak kepolisian, penanganan perkara yang tersangkanya sudah meninggal tidak bisa lagi dijalankan. “Janganlah bodohi rakyat Indonesia dengan drama komedi yang tidak lucu lagi,” ujar dia.

Munarman juga meminta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) memimpin pengungkapan tragedi tewasnya enam Laskar Pembela Islam.



Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto