Netral English Netral Mandarin
09:16wib
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mewacanakan mengganti maskapai BUMN PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan Pelita Air milik PT Pertamina (Persero). Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) akan menggelar unjuk rasa mengevaluasi 2 tahun kinerja Jokowi-Ma'ruf bersama Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), Kamis (28/10).
Dicibir karena Tak Mengecam, FH: Saya Lebih Baik Mengecam Para Pendukung Taliban yang Memuji Aksi Pembunuhan

Kamis, 14-Oktober-2021 09:04

Viral mahasiswa demo malah dibanting aparat
Foto : Tangerang Daily
Viral mahasiswa demo malah dibanting aparat
5

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Gegara dicibir tak ikut mengecam polisi yang sempat melakukan tindakan membanting demonstran, Ferdinand Hutahean geram dan balik mencuit keras.

“TIDAK MENGECAM itu bukan berarti setuju atau mendukung dgn perbuatan yg dilakukan oleh anggota Polri di Tangerang kemarin. Tidak mengecam artinya memaklumi dalam kondisi tertentu,” kata Ferdinand Hutahaean, Kamis 14 Oktober 2021.

“Soal mengecam, saya LEBIH BAIK MENGECAM para pendukung taliban. Mrk memuji aksi sadis pembunuhan..!” imbuhnya.

Sebelumnya, Kapolda Banten, Irjen Rudy Heriyanto, telah meminta maaf secara langsung ke mahasiswa yang di-'smackdown' oleh anggota Polresta Tangerang saat penanganan aksi demonstrasi.

Permintaan maaf itu disampaikan langsung oleh jenderal bintang dua, kepada MFA dan orangtuanya di Mapolresta Tangerang, Banten.

Selain itu, permintaan maaf Kapolda Banten diunggah akun resmi instagram @polreskotatangerang. Dalam unggahan tersebut tampak korban MFA duduk bersebalahan dengan orangtuanya.

Kemudian di hadapannya, duduk Kapolda Banten, Irjen Pol Rudy Heriyanto, Kapolresta Tangerang Kombes Pol Wahyu Sri Bintoro, dan Kabid Humas Polda Banten, AKBP Shinto Silitonga.

"Kapolda Banten meminta maaf secara langsung kepada sdr.MFA dan orangtuanya atas tindakan pengamanan oknum Polresta Tangerang yang tidak prosedural dan akan menindak tegas setiap pelanggaran prosedur pengamanan aksi unjuk rasa," begitu tulis unggahan tersebut, Rabu (13/10).

Permintaan maaf juga disampaikan Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Wahyu Sri Bintoro, di kantornya.

Kombes Pol Wahyu Sri Bintoro, selaku pimpinan di wilayah hukum Polresta Tangerang juga mengaku sudah meminta maaf kepada korban MFA dan orangtuanya secara langsung.

"Yang pertama Polda Banten meminta maaf, saya sebagai Kapolresta Tangerang juga meminta maaf kepad saudara MFA, yang mengalami tindakan kekerasan oleh oknum pengamanan aksi unjuk rasa di depan gedung Pemkab Tangerang.

MFA sudah bertemu dengan bapak Kapolda dan Bapak Kapolda sudah memohon maaf," begitu ucap Kombes Pol Wahyu Sri Bintoro, dalam video yang dibagikan Kabid Humas Polda Banten, AKBP Shinto Silitonga, Rabu.

Sebelumnya viral penanganan tak humanis dari anggota Polri terhadap massa demonstran di Kabupaten Tangerang.

Seorang mahasiswa peserta unjuk rasa di depan Kantor Bupati Tangerang di Tigaraksa, Rabu (13/10), pingsan setelah mendapatkan bantingan ala smackdown dari aparat kepolisian yang melakukan pengamanan aksi tersebut.

"Ya salah satu mahasiswa itu pingsan setelah mendapatkan bantingan dari polisi," ujar Ahmad salah seorang yang berada di lokasi kejadian, Rabu siang.

Ahmad mengatakan, mahasiswa tersebut sempat tak sadarkan diri. Namun tak lama kemudian ia kembali siuman sebelum diamankan oleh polisi.

Viralnya video itu pun makin menyudutkan Korps Bhayangkara setelah ramainya tagar #PercumaLaporPolisi, di mana salah satunya datang dari Pengacara Publik Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Teo Reffelsen meminta polisi untuk membuktikan klaim #PolriTegasHumanis.

"Kepolisian harus bertanggung jawab menyelamatkan korban dan segera menindak dan menghukum polisi pelaku. Klaim #PolriTegasHumanis harus dibuktikan, jangan hanya jadi apologi untuk membantah kritik publik atas kinerja polisi," kata Teo secara tertulis, seperti dinukil CNN Indonesia, Rabu (13/10).

Teo mengatakan, tindakan polisi membanting mahasiswa saat aksi HUT Tangerang hingga kejang adalah tindakan brutal. Menurutnya, tindakan itu juga mengancam nyawa warga yang menyampaikan pendapat secara damai.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli