Netral English Netral Mandarin
05:16wib
Presiden Joko Widodo mengatakan, kondisi dunia saat ini penuh dengan ketidakpastian dan persoalan yang lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Sistem perawatan kesehatan Singapura terancam kewalahan menghadapi lonjakan covid-19.
Diculik dan Dicor Hidup-Hidup di Pondasi Jembatan, Bocah Itu Dikabarkan Gentayangan

Jumat, 01-Oktober-2021 19:22

Ilustrasi Jembatan Keramat
Foto : Brilio.net
Ilustrasi Jembatan Keramat
20

PURWOREJO, NETRALNEWS.COM – “Malam hari, badan anak saya kejang dan demam tinggi. Mulut menceracau menyebut temannya yang katanya tinggal di dalam tembok jembatan,” kata Susanti (47) kepada Netralnews.com, Kamis (30/9/2021).

Darma, putra Susanti yang masih kelas empat SD sebelumnya mandi di sungai desa, samping Jembatan Kramat di wilayah Ngombol, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

“Anak saya memang suka mandi di kali pengairan dari jalur Bendungan Boro, Kali Bogowonto. Tiga hari  lalu tidak ada pelajaran tatap muka dan hanya sebentar ikut PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh, Red),” tutur Susanti.

Menurut Susanti, Darma sempat berjumpa dua anak laki-laki seumurannya di samping Jembatan Kramat desa. Lalu diajak mandi.

“Saat dicek, tak ada satu pun temannya mengaku ikut mandi, bahkan warga yang melihatnya katanya Darma sendirian dan mandi seperti bercanda dengan anak lain meski tak ada satupun anak di sampingnya,” imbuh Susanti.

Sebelum Azan Maghrib, mereka selesai mandi di sungai. Darma mengaku melihat dua teman yang ia sebut-sebut masuk ke dalam tembok jembatan, di samping pondasi. Setelah itu, Darma pun pulang.

“Seperti ada pintu masuk ke dalam, kata Darma. Padahal jelas tak ada rumah dan tak ada pintu atau apapun di jembatan desa. Lalu malamnya demam dan menceracau katanya temannya kasihan, saya diminta menolongnya,” kata Susanti bingung.

Esok paginya, Darma dibawa ke Puskesmas. Dokter menyatakan Darma alami demam tinggi dan bila tak turun dalam tiga hari, diminta datang kembali untuk cek darah. Namun hari kedua, panasnya turun.

“Darma sih kemudian membaik. Hanya yang menjadi penasaran buat saya, soal dua anak yang diakuinya nyata ada dan tinggal di dalam tembok bangunan jembatan. Pasalnya tak ada temannya yang seperti itu. Ia juga mengaku dua anak itu bukan teman di sekolah dan di kampung ini,” kata Susanti penasaran.

Di tengah bingung tentang apa yang diceritakan anaknya, Susanti hanya bisa mengiyakan permintaan Darma. Namun, lama-kelamaan Susanti menjadi teringat tentang keangkeran jembatan yang menghubungkan desanya dengan Desa Boro, Purworejo.

“Saya jadi ingat cerita orangtua saya di tahun 1970-an. Saat itu saya masih kelas dua SD. Semua anak seusia saya ketakutan karena sering diingatkan orangtua agar tak pergi sendirian sebab bisa diculik untuk menjadi tumbal pembangunan jembatan. Sas-sus, setiap jembatan yang dibangun di masa itu, ada tumbal anak yang dicor hidup-hidup di pondasi bangunan,” kata Susanti.

Kenangan Susanti bercampur-baur dengan kenangan-kenangan buruk tentang orangtua dan tetangganya yang  konon dahulu sering diteror oleh kasus penculikan terkait mereka yang dianggap anggota PKI karena akan dibunuh.

“Jadi, saat itu, kalau sudah dengar kata ‘diculik’, kami sudah ketakutan sehingga hanya diam di rumah. Apalagi ketika saya kemudian menonton Film tentang kekejaman PKI (Penumpasan G30S PKI, Red). Semakin takutlah saya kalau setiap menyebut kata ‘penculikan’,” tutur Susanti.

Memang, dalam catatan sejarah, “penculikan” ternyata berulangkali terjadi menjadi semacam strategi politik. Menjelang kemerdekaan, Soekarno-Hatta diculik ke Rengasdengklok lalu terjadilah Proklamasi Kemerdekaan. Dalam hal ini baik.

Namun di tahun 1965, kata “penculikan” menjadi kosakata mengerikan akibat aksi Gerombolan 30 September 1965. Penculikan berikutnya justru terjadi menjelang Orde Baru Tumbang dan dilakukan Tim Mawar yang beranggotakan sejumlah anggota Kopassus.

“Saya tak tahu pasti benar tidaknya bahwa pembangunan jembatan desa dahulu juga menumbalkan bocah yang dicor hidup-hidup untuk pondasi. Namun, warga selalu bilang, Jembatan Kramat desa itu angker. Makanya, saya bertanya-tanya, apakah yang dilihat Darma, adalah arwah tumbal yang disebut-sebut dalam cerita orangtua kami?” tanya Susanti yang tak pernah terjawab.

Pertanyaan itu hanya bisa Susanti pendam. Yang pasti, Darma putranya saat ini sudah sembuh dan mau menurut agar tidak lagi mandi di sungai samping jembatan.

Muncul juga pertanyaan lain yang sering membuatnya menerawang jauh tanpa ada jawaban pasti.

“Atau cerita-cerita anak diculik sebagai tumbal pembangunan jembatan di masa saya adalah wujud trauma orangtua kami di masa itu yang sering melihat peristiwa tragis di tahun 1965? Lalu trauma itu menjadi bentuk lain agar anak-anaknya jangan sampai mengalami peristiwa seperti itu?” tanya Susanti.

Dalam penuturan mendiang ayah Susanti, di tahun 1965, terjadi geger di sejumlah kota. Mereka yang dituduh anggota PKI sebagian dibunuh di atas jembatan. Mayatnya kemudian dibuang di sungai hingga hanyut di pantai selatan.

“Saya tak mengalami, namun ayah saya mengalaminya. Di zaman itu, semuanya serba menakutkan. Tak ada yang berani menyebut kata ‘PKI’. Kalau salah sebut, bisa-bisa ikut diculik dan hilang,” pungkasnya.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli