3
Netral English Netral Mandarin
16:38 wib
Jumlah korban meninggal akibat Covid-19 di Italia sudah melampaui 100 ribu orang. Kondisi itu membuat Italia menjadi salah satu negara yang mencatatkan rekor kematian tertinggi. Politisi Partai Demokrat (PD) versi kongres luar biasa (KLB) Max Sopacua membantah informasi yang menyebut pihaknya menjanjikan imbalan Rp100 juta untuk para kader partai yang bersedia menghadiri KLB
Diminta Jadi Mediator Damai Ambrocius dan Pigai, Lieus: Presiden Harus Bubarkan Buzzer

Kamis, 11-Februari-2021 12:22

Koordinator Forum Rakyat yang juga mantan Bendahara Umum DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Lieus Sungkharisma,
Foto : Netralnews.com/Adiel Manafe
Koordinator Forum Rakyat yang juga mantan Bendahara Umum DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Lieus Sungkharisma,
2

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Koordinator Forum Rakyat yang juga mantan Bendahara Umum DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Lieus Sungkharisma, meminta agar semua potensi konflik yang disebabkan oleh ujaran maupun tindakan berbau SARA segera dihentikan demi masa depan Indonesia yang lebih baik.

Permintaan itu dikemukakan Lieus kepada wartawan terkait permintaan keluarga Ambrocius Nababan kepadanya agar dirinya sudi melakukan mediasi damai antara Ambroncius dengan mantan komisiober Komnas HAM, Natalius Pigai.

“Sudahilah semua pertikaian yang disebabkan pernyataan-pernyataan berbau SARA itu. Apapun alasannya, hal itu sangat tidak menguntungkan bagi masa depan Indonesia,” kata Lieus dalam keterangan tertulisnya yang diterima netralnews.com, Kamis (11/2/2021).

Terkait kasus Ambrosius sendiri, Lieus berharap Natalius Pigai bersedia memaafkan Ketua Relawan Pro Jokowi-Amin (Projamin) itu atas ucapannya yang sempat menimbulkan kehebohan itu.

“Saya berharap dengan mediasi ini Natalius Pigai berkenan memaafkan Ambroncius,” ujar Lieus yang dalam waktu dekat berencana mempertemukan keduanya atas permintaan isteri Ambroncius.

Berkaitan dengan upaya memediasi pertemuan damai antara Natalius Pigai dan Ambroncius Nababan itu, Lieus meminta semua elemen bangsa menghentikan ujaran-ujaran dan tindakan berbau SARA yang berpotensi memecah belah persatuan Indonesia.

Selain itu, Lieus juga meminta pada pemerintah, khususnya kepada Presiden Jokowi, untuk membubarkan para buzzer atau hatters yang selama ini sengaja dibina oleh kelompok-kelompok masyarakat pendukung pemerintah.

“Demi Indonesia yang lebih baik, Presiden Jokowi harus bersikap tegas dengan membubarkan kelompok-kelompok buzzer dan hatters yang selama ini sengaja dibina oleh para pendukung pemerintah. Biarkanlah rakyat menyuarakan kritiknya dengan benar pada apapun kebijakan pemerintah tanpa perlu khawatir dikata-katai dan dibully oleh para buzzer bayaran itu,” ungkapnya.

Menurut Lieus, apapun alasannya, keberadaan para buzzer bayaran itu sudah terbukti tidak memberi manfaat pada pembangunan dan peradaban bangsa ini.“Para buzzer itu justru yang seringkali membuat suasana kehidupan berbangsa dan bernegara kita semakin kisruh dan tidak kondusif,” tegasnya.

Seperti diketahui, Ambroncius Nababan telah ditetapkan sebagai tersangka ujaran rasial usai menyindir mantan Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai di akun Facebook-nya.

Ambroncius di akun Facebooknya mengunggah foto Natalius disandingkan dengan foto gorila disertai komentar terkait vaksinasi.

 

"Edodoeee pace. Vaksin ko bukan sinovac pace tapi ko pu sodara bilang vaksin rabies," tulis akun Ambroncius dalam foto yang diunggah.

Atas perbuatannya, Ambroncius disangkakan dengan pasal berlapis, yakni Pasal 45a ayat (2) Juncto Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 Perubahan UU ITE dan juga Pasal 16 Juncto Pasal 4 huruf b ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan juga Pasal 156 KUHP.

Ambroncius sendiri telah meminta maaf kepada Pigai dan masyarakat Papua terkait dugaan tindak rasialisme yang telah ia lakukan. Bahkan, ia juga menyatakan bersedia untuk menempuh jalur damai terkair perkara ini.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli