Netral English Netral Mandarin
banner paskah
22:28wib
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberi peringatan kepada sembilan provinsi untuk bersiap siaga dari potensi hujan petir disertai angin kencang yang akan terjadi hari ini. Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menambah jalur yang bakal disekat oleh kepolisian selama masa larangan mudik Lebaran pada 6 hingga 17 Mei 2021 mendatang.
Disentil Roy Suryo Terkait Perpres Miras, DS: Mister Panci Dendam Amat ma Gua

Rabu, 03-Maret-2021 15:25

Pegiat Media Sosial Denny Siregar
Foto : Istimewa
Pegiat Media Sosial Denny Siregar
25

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pegiat media sosial (medsos) Denny Siregar enggan menanggapi serius kritikan mantan Menpora, Roy Suryo.

Denny hanya mengatakan Roy Suryo dengan sebutan 'Mister Panci' menaruh dendam terhadap dirinya.

"Hihi mister Panci dendam amat ma gua," tulis Denny dalam akun Twitternya.

Sebelumnya Roy Suryo meminta agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) menindak Buzzer yang dianggap sudah membuat gaduh masyarakat dengan unggahan asal-asalan.

Roy Suryo menyoroti sosok Denny Siregar di tengah polemik Perpres Nomor 10 Tahun 2021 yang juga mengatur soal investasi miras.

Pakar Telematika itu mengkritik isi cuitan Denny Siregar dengan mengatakan Buzzer mau menjerumuskan presiden dengan definisi sesat dan malah berpotensi untuk ujaran kebencian.

Roy Suryo pun berharap agar Polri mematuhi istruksi atasan yakni oknum semacam Buzzer pembuat gaduh tersebut harus dikandangkan.

"Seperti inilah ulah laknat BuzzerRp yang malahan mau menjerumuskan presiden, dengan definisi sesat dan bahkan berpotensi ujaran kebencian memecah belah sesama anak bangsa," tulis Roy Suryo pada akun Twitternya.

"Ayo CCIC Polri dan Divisi Humas Polri kalau memang benar-benar mematuhi instruksi Kapolri, oknum-oknum semacam ini harus dikandangkan," sambungnya.

Dalam akunnya, Roy Suryo menyematkan tangkapan layar foto cuitan Denny Siregar soal investasi miras. Pegiat media sosial itu mengatakan, di beberapa tempat miras merupakan budaya sehingga daripada dilarang, sekalian dijadikan pendapatan.

Reporter : Wahyu Praditya P
Editor : Nazaruli