Netral English Netral Mandarin
02:29wib
Relawan Sahabat Ganjar kembali melakukan deklarasi mendukung Ganjar Pranowo untuk maju sebagai calon presiden 2024. Penembakan seorang ustad bernama Armand alias Alex di depan rumahnya Jalan Nean Saba, Kelurahan Kunciran, Kecamatan Pinang, Tangerang hingga kini masih menjadi misteri.
Di tengah Pandemi, Pesawat Kepresidenan Dicat dengan Anggaran Rp2 Miliar, Elit Demokrat: Semakin Menunjukkan Kebodohan!

Rabu, 04-Agustus-2021 17:00

Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat, Kamhar Lakumani
Foto : Istimewa
Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat, Kamhar Lakumani
4

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Elit Partai Demokrat menyoroti perubahan warna pesawat kepresidenan baru-baru ini.

Bukan soal warna, namun kegiatan yang menghabiskan anggaran sekitar Rp 2 miliar rupiah tersebut dilakukan disaat Indonesia tengah mengalami krisis ekonomi ditengah pandemi Covid-19.

Kritikan disampaikan Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat, Kamhar Lakumani. Dikatakannya, kritiknya jauh lebih subtantif dimana situasi objektif bangsa kita saat ini sedang prihatin akibat terpaan badai pandemi Covid-19 yang tak berkesudahan dan malah terus melonjak.

"Kami tegaskan kritiknya bukan pada persoalan dirubahnya warna biru menjadi warna merah, bukan persoalan politik warna atau warna sebagai identitas politik," katanya Rabu (4/8/2021).

"Selain itu, keterbatasan anggaran negara. Namun pemerintah malah lebih memperhatikan dandanan atau sibuk bersolek," sambungnya.

Menurutnya, pemerintah sungguh tak punya sensitifitas dan empati dalam menilai situasi dan tak punya kebijaksanaan dalam mengalokasikan anggaran. "Buta mata dan buta hati," ujarnya.

Apalagi, jika argumentasinya bahwa perubahan warna pesawat kepresidenan RI ini telah direncanakan sejak jauh-jauh hari, sejak 2019.

"Semakin menunjukan kebodohan dan ketidakpekaan untuk memahami bahwa negara kita tengah mengalami krisis yakni krisis kesehatan dan krisis ekonom," ujar Kamhar lagi 

Menurutnya, dalam situasi krisis diperlukan manajemen dan pengelolaan pemerintahan mesti disesuaikan termasuk dalam mekanisme pengalokasian dan penggunaan anggaran yang telah direspon melalui UU No. 2 Tahun 2020 dimana otoritas anggaran sepenuhnya oleh eksekutif agar lebih cepat dalam mengkonsolidasikan sumberdaya keuangan dalam mengatasi krisis kesehatan dan krisis ekonomi.

"Yang dipertontonkan sungguh berbeda, malah mengalokasikan anggaran untuk pengecatan pesawat yang sama sekali tak ada pentingnya. Malah tak berhubungan sama sekali dengan upaya mengatasi krisis kesehatan dan krisis ekonomi," ungkapnya.

Kamhar Lakumani bilang, memaksakan menjalankan program yang disusun diwaktu normal dalam situasi krisis adalah bentuk kebodohan yang nyata.

"Kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosionalnya patut dipertanyakan. Adapula wacana aji mumpung yang menyampaikan bahwa berhubung pesawat kepresidenan sedang di service jadi sekaligus dilakukan pegecatan biar lebih murah," ujarnya lagi.

Kamhar Lakumani menilai ini sesuatu yang miris, ini narasi nir nalar yang tak mampu menentukan skala prioritas.

"Mana yang sifatnya penting, mendesak, penting dan mendesak dan mana yang bisa ditunda, atau dibatalkan. Ini ciri-ciri orang yang gagal fokus," katanya.

Diketahui pemerintah melakukan perubahan warna pada pesawat kepresidenan. Di mana, pesawat kepresidenan itu dirubah warna dari biru putih menjadi merah putih.

Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono mengatakan bahwa pesawat yang dicat ulang hanya pesawat BBJ2 saja. Pengecatan ulang pesawat dilakukan sekaligus perawatan berkala.

"Pesawat itu sudah 7 tahun, secara teknis memang harus memasuki perawatan besar, overhaul. Itu harus dilakukan untuk keamanan penerbangan," katanya, Selasa (3/8/2021).

Heru mengatakan, pengecetan dilakukan karena ada sebagian cat yang terkelupas sehingga harus diperbaharui. Warna pesawat dibuat merah putih sesuai dengan bendera merah putih.

"Mengenai cat, memang sekalian diperbarui, karena sudah waktunya untuk diperbaharui. Pilihan warnanya adalah warna kebangsaan merah putih, warna bendera nasional," katanya.

Sumber di istana membenarkan bahwa anggaran untuk mengecat ulang pesawat mencapai Rp 2 miliar. Angka tersebut hanya untuk satu pesawat saja yakni BBJ 2.

"Iya plus-minus segitu (2 miliar), pesawat BBJ saja," kata sumber.

Reporter : Wahyu Praditya P
Editor : Irawan HP