Netral English Netral Mandarin
01:08wib
Partai Ummat  menyinggung dominansi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam evaluasi tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo. China kembali menggertak Amerika Serikat setelah Presiden Joe Biden menyatakan bahwa ia akan membela Taiwan jika Negeri Tirai Bambu menyerang.
Dorong TVRI Putar Film G30S/PKI, PKS: Kita Tidak Ingin Bangsa Ini Tercabik- cabik...

Rabu, 29-September-2021 19:45

Anggota Komisi I DPR RI, Sukamta
Foto : Istimewa
Anggota Komisi I DPR RI, Sukamta
10

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Anggota Komisi I DPR, Sukamta mengatakan peristiwa 30 September 1965 diperingati tiap tahunnya sebagai upaya kudeta pemerintah Indonesia dan merongrong ideologi Pancasila yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Untuk mengingat sejarah kelam itu, Sukamta mendorong agar TVRI menayangkan film Pengkhianatan G30S/PKI.

“Peristiwa G30S/PKI merupakan sejarah kelam bangsa kita. Generasi sekarang dan yang akan datang tidak boleh lupa akan sejarah ini. Karenanya kami mendorong TVRI perlu memutar kembali film tersebut sebagai pengingat sejarah,” kata Sukamta dalam keterangannya, Rabu (29/9/2021).

Wakil Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menegaskan bahwa komunisme menjadi ancaman bagi kedaulatan bangsa ini.

Hal itu, sebut Sukamta, merupakan amanat UU RI No. 23 tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara (PSDN) Pasal 4 ayat (3) yang berbunyi ancaman terhadap bangsa dapat berwujud agresi, terorisme, komunisme, separatisme, pemberontakan bersenjata, dan seterusnya.

Sukamta menuturkan, ada beberapa hal dikhawatirkan dapat menghilangkan sejarah yang pahit tersebut dari memori bangsa. Di antaranya penghapusan kata ‘PKI’ dalam G30S dari buku-buku pelajaran sejarah di sekolah. Sempat juga ada wacana penghapusan TAP MPRS No. XXV tahun 1966 tentang pelarangan ajaran komunisme, Marxisme, Leninisme.

“Kita bukan ingin membuka luka lama, juga bukan ingin menimbulkan kebencian di tengah masyarakat, tapi hanya agar kita tidak lupa," ucap dia.

PKI dulu, ungkap Sukamta, telah melakukan pembantaian terhadap rakyat Indonesia, khususnya kalangan agamawan, bahkan jenderal-jenderal juga menjadi sasaran penculikan dan pembunuhan dengan isu Dewan Jenderal.

"Namun upaya kudeta ini tidak berhasil. Pemerintah setelah peristiwa itu melakukan penumpasan terhadap PKI dengan melakukan penangkapan dan eksekusi terhadap para anggotanya,” jelasnya.

Sukamta menegaskan, mungkin saja rakyat Indonesia saat ini bisa memaafkan sejarah kelam tersebut, tapi tentu tidak boleh melupakan, agar peristiwa serupa tidak terjadi pada masa datang.

“Kita juga bukan anti dengan negara komunis. Toh kita juga bekerja sama dengan negara-negara komunis selama ini. Yang kita anti adalah ajaran-ajaran komunis yang tidak berketuhanan merasuk ke dalam pikiran bangsa kita. Ajaran anti-tuhan tersebut jelas bertentangan dengan jati diri bangsa yang berketuhanan yang terkandung dalam Pancasila,” terangnya.

Untuk itu, Sukamta menegaskan, di tengah situasi kondisi bangsa dan geopolitiknya seperti sekarang, termasuk konstelasi di Laut China Selatan, maka tidak boleh lupa dengan peristiwa pemberontakan PKI.

“Saat itu Indonesia berada di tengah- tengah konstelasi blok Barat dan blok Timur. Rebutan pengaruh 2 blok tersebut antara demokrasi-liberalisme dan komunisme tergambar dalam G30S/PKI,” ujarnya.

Ia menilai, posisi Indonesia sekarang mirip dengan saat terjadi G30S/PKI dulu, dimana posisi Indonesia secara geopolitik dan geostrategis berada di tengah pusaran konflik antara China dan AUKUS (Australia, United Kingdom, Amerika Serikat).

"Dalam perspektif inilah, kita perlu merefleksikan perisitwa sejarah. Sekarang dengan adanya blok China dan blok AUKUS sedikit banyak berpotensi bisa meningkatkan manuver dan ketegangan di wilayah Indonesia. Tentu ini bisa menjadi ancaman bagi bangsa kita yang perlu diwaspadai,” tandasnya.

“Jadi kita bicara film G30S/PKI bukan hanya sekadar soal film, tapi juga karena melihat situasi kondisi terkini. Kita tidak ingin bangsa ini tercabik-cabik oleh 2 kekuatan besar tadi. Dan ini sangat perlu kita dorong agar semua tersadar, sehingga Pancasila akan tetap sakti dan persatuan bangsa akan tetap kokoh,” pungkas Sukamta, dilansir dari laman Fraksi PKS. 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Wahyu Praditya P