Netral English Netral Mandarin
11:01wib
Pemerintah Indonesia kritik Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang luput menyoroti kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di negara-negara maju. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin pada Sabtu (25/9/2021) dini hari.
Duh! Geger Anggota TNI AU Injak Kepala Warga Papua, Veronica Koman Tak Disangka Bilang Begini

Rabu, 28-Juli-2021 09:05

Veronica Koman
Foto : Kolase Netralnews
Veronica Koman
12

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Oknum anggota TNI Au injak kepala seorang warga Papua gegerkan warganet. 

Pegiat HAM Veronica Koman angkat bicara. Ia mengecam dan menyebut oknum tersebut takan akan dimaafkan. Hal itu disampaikan saat menanggapi pernyataan TNI Au melalui akun Twitternya.

“Permintaan maaf tidak akan diterima hingga Serda Dimas dan Prada Vian diadili di pengadilan sipil. Tidak ada satu pun dari lima anggota TNI rasis pemicu Papua meledak 2019 yang berakhir dipenjara,” kata Veronica Koman, Rabu 28 Juli 2021.

Sementara akun TNI Angkatan Udara @_TNIAU mencuit: “TNI AU Meminta maaf dan Tindak Tegas Anggotanya yang tidak disiplin. Menyikapi insiden salah paham antara oknum dua anggota Pomau Lanud J.A Dimara Merauke dan warga di sebuah warung makan, di Merauke, Senin (27/7/2021), TNI AU menyatakan penyesalan dan permohonan maaf.”

Untuk diketahui, aksi seorang prajurit TNI AU menginjak kepala seorang warga sipil Papua mendapat kecaman dari sejumlah organisasi pembela hak asasi manusia (HAM).Peristiwa ini terjadi di Merauke, Senin (26/7) siang. Saat itu, dua petugas TNI AU menangani seorang sipil yang diduga sedang mabuk, menurut versi TNI AU.

Dalam video terekam seorang prajurit yang sedang mengunci tangan warga sipil itu hingga tersungkur. Satu prajurit lain menginjak kepala warga tersebut. Aksi ini terekam dalam video berdurasi 1.20 menit dan viral di media sosial.

Direktur LBH Papua Emanuel Gobay mendesak pimpinan TNI AU untuk mencopot secara tidak hormat dua orang oknum TNI AU itu.

Emanuel mengatakan tindakan tegas diperlukan agar aparat keamanan tidak bertindak sewenang-wenang pada warga sipil. Ia meminta agar tindakan dua oknum TNI AU tersebut dibawa ke ranah hukum.

Menurutnya, peristiwa tersebut bisa dikenakan pemidanaan dengan disangkakan Pasal 353 KUHP tentang penganiayaan terencana.

"Kami dengan tegas mengecam tindakan yang tidak manusiawi yang dilakukan oleh dua oknum TNI AU. Atas dasar itu kami minta pada atasannya agar memberikan sanksi yang tegas secara administrasi maka sebaiknya dua oknum itu dipecat secara tidak hormat," kata Emanuel seperti dilansir CNNIndonesia.com, Selasa (27/7).

Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Beka Ulung Hapsara mengatakan pihaknya sudah melaporkan kasus oknum anggota TNI AU itu ke Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto.

"Komnas HAM khususnya kantor perwakilan Papua sudah melaporkan kasus yang ada ke panglima TNI dan langsung direspons positif. Panglima TNI berjanji akan menindak tegas aparat tersebut karena perbuatannya tidak bisa dibenarkan," tutur Beka.

Beka mengatakan Komnas HAM akan mengikuti perkembangan kasus ini dan meminta proses hukum dijalankan secara terbuka sehingga bisa turut diawasi publik.

Sementara Tim Advokasi menyebut kejadian itu merupakan tindakan arogansi, rasisme, dan diskriminatif, serta mengusik rasa aman warga Papua.

"Kedua anggota Polisi Militer TNI-AU secara langsung telah mengusik hak atas rasa aman dan perlindungan terhadap ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu sebagaimana diatur dalam Pasal 30 UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM," kata Michael Himan, salah satu anggota Tim Advokasi dalam keterangan tertulisnya, Selasa (27/7).

Michel mengatakan pihaknya mendesak Presiden Joko Widowo selaku Panglima tertinggi Militer untuk segera meminta maaf. Selain itu, Jokowi juga diminta memerintahkan untuk menindak tegas 2 anggota TNI-AU itu.

"Penjatuhan sanksi dan memecat kedua Anggota Polisi Militer maupun harus dilakukan secara transparan dan akuntabel sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik," ucapnya.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsma Indan Gilang Buldansyah menyampaikan permintaan maaf sebagai respons atas tindakan yang dilakukan oknum anggota TNI AU itu. Sejauh ini, anggota yang bersangkutan telah ditahan.

"TNI AU menyatakan penyesalan dan permohonan maaf," ujarnya

Sementara itu, akun Twitter milik jurnalis Papua sekaligus pemimpin redaksi Tabloid Jubi, Victor C Mambor, mendadak hilang beberapa jam selepas mengunggah rekaman video tentang tindakan dua anggota TNI AU itu.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto