3
Netral English Netral Mandarin
20:31 wib
Indonesia Corruption Watch (ICW) mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menelusuri dugaan korupsi Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah dalam sejumlah proyek infrastruktur lainnya di Sulsel. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan program vaksinasi mandiri atau gotong royong tidak ditujukan untuk komersil.
Duh, Guru Teriaki Siswi Lo*te dan Anak Jin, AA: Kita Doakan Hukuman Pedih dari Tuhan

Rabu, 27-January-2021 16:55

Dua Siswi Diteriaki Lonte dan Anak Jin oleh Guru, Ade Armando sebut Kita Doakan Hukuman Pedih dari Tuhan
Foto : Istimewa
Dua Siswi Diteriaki Lonte dan Anak Jin oleh Guru, Ade Armando sebut Kita Doakan Hukuman Pedih dari Tuhan
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Beberapa waktu lalu, ada dua beruita tak sedap dari dunia pendidikan. Ada dua siswi mengalami kekerasan yang tak sepatutnya. 

Yang pertama AR diteriaki "lonte" oleh sang guru sehingga tak mau sekolah. Peristiwa ini terjadi di Batam, Kepri.

Sementara siswi berinisial T diminta bersumpah di atas Al-Quran dan merangkak keliling lapangan gegara cukur alis.

Merespons dua peristiwa tersebut, Dosen Universitas Indonesia (UNI), Rabu (27/1/21) mengatakan: "Kita doakan hukuman pedih dari Tuhan terhadap guru2 itu. Kita doakan kedua siswi yg jadi korban dikaruniai kebahagiaan dari Tuhan."

Diteriaki "Lonte"

Sebelumnya diberitakan, seorang siswi SMK di Kabupaten Kepulauan Anambas, AR  harus putus sekolah setelah dicap lonte oleh guru agama.  Kejadian di SMKN 1 Anambas, Air Asuk, Kecamatan Siantan Tengah ini pun tengah direspons oleh Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kepri.

Dilansir batamnews dari laman lingdungianak.com, kejadian berawal ketika AR pulang sekolah. Ia bersama teman-teman dan gurunya yang lain berada di atas kapal penyeberang roro.

Tiba-tiba Guru Agama yang bernama Sk meneriaki AR dengan sebutan lonte di depan umum. Hal ini diketahui oleh siswa-siswi lainnya dan juga guru SMKN 1 Anambas lainnya di atas kapal roro tersebut.

AR sempat menangis sepanjang jalan dan dibonceng pulang oleh temannya. Akhirnya orangtua AR tak terima anaknya dipermalukan.

‘’Di atas roro anak saya duduk berboncengan di atas sepeda motor dengan temannya. Motor tersebut punya anak saya, yang bawa teman laki-laki satu sekolah dan dekat tempat tinggal. Saat bercerita tersebut,  gurunya yang juga ada di kapal roro tersebut langsung meneriaki AR,’’ tutur RM, Jumat (17/1/2020).

‘’Kamu macam lonte,’’ tutur RM  menirukan ujaran gurunya itu kepada AR.

AR kini enggan masuk sekolah lagi kendati RM sudha memberi motivasi anaknya agar tetap bersekolah.

Dua hari kemudian, RM mendatangi SMKN 1 Anambas. Kedatangan RM atas panggilan pihak sekolah.  Saat RM menanyakan kenapa anaknya diteriaki lonte oleh salah seorang guru di sekolah tersebut, guru yang bersangkutan marah kepada ke arah RM.

Guru tersebut mengakui bahwa dirinya yang melakukan hal itu kepada anak AR. Ruangan yang tadinya hening, tiba-tiba pecah keributan. Sk sang guru kembali memaki RM selaku orangtua AR. Ruang guru pun menjadi mencekam.

‘’Ia (Sk) juga memukul meja berkali-kali dan tepuk dadanya. Mengusir saya dari ruangan, mau robohkan sekolah, sumpah serapah dengan menyebut nama binatang.  Ia juga ancam lapor polisi serta mengancam anak saya dikeluarkan dari sekolah,’’ tutur RM.

Usia kejadian tersebut, AR kemudian mendapat bullyan di sekolah dan teman-temannya. Bahkan penyebutan sebagai lonte terhadap AR tersebut diumumkan lagi di mic SMKN 1 Anambas.

Dipanggil Anak Jin

Kasus kekerasan di dunia pendidikan berikutnya, kali ini ini seorang guru menganiaya siswinya sendiri hanya gara-gara mencukur alis. Guru yang juga wali kelas dari siswi berinisial T itu meminta korban untuk bersumpah di atas Al-Quran.

Guru itu bahkan menyebut jika T adalah anak jin karena mencukur alis.

Tak sampai di situ, T dipermalukan di halaman sekolah. T bahkan diminta untuk merangkak mengelilingi lapangan hingga perutnya ditendang oleh pelaku. Atas perbuatan gurunya itu, T sampai malu untuk pergi sekolah dan mengalami trauma.

Dilansir dari Tribunnews.com, Senin (20/01/2020), seorang guru SMA N 1 Kandis, Kecamatan Kansis, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel) menghukum murid merangkak keliling lapangan lantaran alis siswi tersebut dicukur.

Pada hari Kamis (16/01/20), sang guru masuk ruang kelas hendak memulai kegiatan belajar mengajar. Seperti biasa, sebelum dimulai, sang guru mengabsen murid satu per satu.

Saat tiba giliran T dipanggil, sang guru justru meminta T untuk maju ke depan. Sang guru kemudian menanyakan mengapa T mencukur alisnya.

T kemudian diminta bersumpah di atas Al-Qur’an, namun T menolak. Sang guru kemudian meneriakinya anak jin dan disumpahi 7 turunan tidak akan selamat karena nekat mencukur alis.

“Pas nama saya dipanggil, saya disuruh ke depan. Ditanya kenapa alis itu, saya diam. Ditanya lagi, langsung disuruh bersumpah di atas Al-Qur’an dan dikatain 7 keturunan tidak selamat. Lalu disuruhnya merangkak keliling lapangan. Saya sempat dikatain anak jin,” ujar T, Senin (20/01/20).

T tidak tahu apabila mencukur alis tidak diperbolehkan. Namun dirinya tak bermaksud mencukur alis untuk bergaya. T mengatakan alisnya itu dirapikan oleh salon. Hal ini dikarenakan alisnya tak sengaja tercukur sehingga harus dirapikan.

“Alis saya terpotong, jadi dibenerin tante salon. Saya tidak begitu tahu kalau tidak boleh cukur alis,” pungkas T.

Gara-gara mencukur alis, T diberi hukuman oleh sang guru untuk merangkak keliling lapangan sebanyak 5 kali, sementara itu sang guru kembali mengajar. Saat melihat gurunya tak mengawasi dirinya, T langsung berlari kabur.

Sayangnya ia dipergoki sang guru. Hukuman T justru ditambah dengan tendangan gurunya yang mengarah ke perut. Tak kuat dengan hukuman tersebut, T akhirnya jatuh pingsan.

“Saat setengah lapangan, saya lari sedikit karena dia sedang lengah, ketahuan rupanya dia melihat dari jendela kelas. Saya kemudian ditendang di perut. Saya disuruh merangkak keliling lapangan dari awal lagi ,” kata T.

Akibat perlakuan sang guru tersebut, T di-bully rekannya hingga tak mau masuk sekolah. Ia mengalami trauma atas perlakuan tak menyenangkan tersebut. Ia juga merasa kesakitan karena hukuman itu. Beberapa bagian tubuhnya tampak memar karena merangkak keliling lapangan.

Atas kejadian tersebut, keluarga korban berencana melaporkan oknum guru itu ke pihak berwajib. Keluarga tidak terima jika T diperlakukan tak manusiawi hanya karena mencukur alis. Menurut kakek T, Mutilah, hukuman tersebut dinilai sangat berlebihan.

“Guru menyingksa seperti tentara, merangkak dan ditendang. Harusnya kalau siswi ya hukumannya bersihin WC atau bersihkan kelas, jangan kaya gini,” kata Mutilah.

Pihak sekolah sendiri sudah memanggil pelaku untuk dimintai keterangan. Sementara itu, pihak sekolah menegaskan jika hukuman yang diberikan kepada T sudah setimpal dan masih dalam batas wajar.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto