Netral English Netral Mandarin
02:34wib
Lebih dari 4.300 orang telah meninggal dunia akibat "jamur hitam" di India yang umumnya menyerang pasien-pasien Covid-19. Gojek, Grab, dan ShopeeFood membantah terlibat dalam seruan aksi demo nasinonal Jokowi End Game yang berlangsung hari ini.
Duh! Hamil Sebelum Nikah, Tewas Lompat dari Jembatan, Arwah Dikabarkan Gentayangan di Sumedang

Sabtu, 26-Juni-2021 16:40

Di balik pemandangan eksotis Jembatan Cicin di Sumedang tersimpan kisah pilu berbalut misteri
Foto : Antara
Di balik pemandangan eksotis Jembatan Cicin di Sumedang tersimpan kisah pilu berbalut misteri
13

SUMEDANG, NETRALNEWS.COM - Aib itu menyakitkan maka semestinya setiap orang wajib memperjuangkan agar tidak terkena aib. Mungkin itulah salah satu kuncinya. 

Dalam perjalanan sejarah manusia, aib paling memilukan lebih sering dialami kaum perempuan. Tak terbilang jumlahnya untuk kasus perempuan dilecehkan lelaki tak bertanggung jawab. 

Tak terbilang gadis mabuk asmara sehingga terlena dan hamil di luar nikah.  Saat minta pertanggung jawaban, pihak lelaki kabur tak mau menikahi. 

Alhasil pihak perempuan putus asa. Tak sedikit karena  tak kuasa menahan aib lalu memilih bunuh diri dengan beragam cara. Cerita seperti ini selalu saja terjadi. 

Nah, salah satu kisah pilu ini pernah terjadi di salah satu lokasi di Sumedang Jawa Barat. Saking pilunya, orang mengenangnya dari generasi ke generasi sebab dikabarkan arwah si perempuan yang bunuh diri gegara hamil di luar nikah kemudian gentayangan hingga saat ini.

Kisah tutur ini beredar di tengah-tengah warga sekitar desa Cisaladah, Cikuda, Jatinangor Kabupaten Sumedang. Dalam berbagai kesaksian warga setempat, dikabarkan penampakan sosok wanita berulang kali terjadi. 

Warga meyakini, sosok itu adalah arwah korban bunuh diri yang kini menghuni salah satu jembatan bersejarah dengan nama Jembatan Cincin. 

Arwah itu menghuni lokasi tersebut karena bunuh diri dilakukan dengan melompat dari atas Jembatan Cincin karena merasa malu telah ternodai sebelum menikah sementara pasangan lelakinya enggan bertanggung jawab.

Entah benar atau tidak, banyak pula warga yang menyebutkan bahwa arwah perempuan itu masih terus mencari-cari laki-laki yang telah menghamilinya di masa lalu.

"Kalo yang liat sih udah banyak, bukan cuman warga sini tapi mahasiswa dari luar daerah yang sering lewat jembatan malam–malam, karena mereka belum tahu ceritanya juga banyak yang kewenehan (banyak yang liat atau denger)," kata Yayat seperti dinukil NNC dari Tagar.id, Sabtu 26 Juni 2021. 

Saat malam hari kata Yayat, di jembatan cincin itu sering muncul suara aneh. Belum lagi aroma wanginya bunga kumbang disekitar jembatan.

"Kadang ada suara anak ayam, kadang kaya ada suara anak kecil nangis, perempuan nangis, wangi kembang tapi kalo wangi kembang malem atau siang juga kadang ada, kaya sekarang kan kecium wangi kembang padahal tengah hari," tutur Yayat. 

Menurut penuturannya, sering pula terjadi kejadian aneh saat warga melintas di sekitar jembatan. Ada yang terjatuh hingga berguling-guling padahal tak ada rumput atau rintangan di sekitarnya. Warga menganggap hal itu terjadi karena dijegal oleh penghuni jembatan.

Kepada siapapun yang melintasi jalur Jembatan Cincin, Yayat berpesan agar jangan sekali-kali melamun. Harap konsentrasi sebab sering terjadi, saat melamun itulah arwah penghuni jembatan merasuki orang yang melintas jembatan. 

Apalagi kalau pria dan masih mahasiswa. Karena menurut Yayat, yang dicari arwah itu adalah sosok laki-laki  yang masih menjadi mahasiswa. 

Masih menurut Yayat, ada juga makhluk astral lain yang penghuni jembatan itu yakni sosok anak-anak kecil yang terlihat berlarian, sembari menampakan dirinya secara timbul tenggelam.

Siapapun yang jahil dan kurang ajar, menurut Yayat juga akan menjadi sasaran untuk “dikerjai” oleh penghuni jembatan tersebut. 

Terlepas dari benar tidaknya kisah mengerikan di jembatan itu, perlu diketahui pula bahwa Jembatan Cincin sebenarnya memiliki nilai sejarah. Sebab, jembatan ini dibangun di era Belanda. 

Jembatan dibangun oleh perusahaan kereta api milik Belanda, yakni perusahaan Staat Spoorwagen Verenidge Spoorwegbedrijf pada tahun 1917. 

Saat masa Belanda jembatan itu difungsikan untuk menghubungkan wilayah Tanjungsari dengan Rancaekek guna mempermudah pengangkutan masyarakat dan hasil bumi mereka yaitu tanaman karet.

Bila menengok masa itu, besar kemungkinan, pembangunan jembatan juga diwarnai dengan pola kerja rodi. Namun, jerih payah para pekerja paksa masih bisa dilihat jejaknya hingga kini.

Jembatan ini masih terlihat kokoh dan berada tepat di tengah lahan persawahan milik masyarakat sekitar. Keindahan alam sekitarnya sangat  mempesona. 

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Wahyu Praditya P