Netral English Netral Mandarin
19:58wib
Hingga matchday kedua Euro 2020 (Euro 2021) terdapat satu negara yang sudah dipastikan tersingkir dari ajang sepak bola antarnegara paling bergengsi di Benua Biru yaitu Makedonia Utara. Indonesia sedang didera lonjakan kasus Covid-19 di sebagian besar daerah. Peningkatan kasus ini terlihat dari keterisian tempat tidur di rumah sakit oleh pasien Covid-19.
Duh Terkuak! KPK Jadi Kendaraan Menuju Khilafah, Digagas Abdullah Hehamahua lalu Berlanjut Novel, DS: Ngeri kan?

Selasa, 04-Mei-2021 14:55

Abdullah Hehamahua dan Novel Baswedan
Foto : Kolase Netralnews
Abdullah Hehamahua dan Novel Baswedan
9

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Denny Siregar sekali lagi berusaha membongkar apa yang terjadi di balik keputusan KPK memecat Novel Baswedan dan sejumlah pegawainya.

Denny mengungkap bahwa KPK sempat jadi kendaraan Abdullah Hehamahua untuk jalankan perjuangan menuju negara Khilafah. Gagasan ini dilanjutkan Novel Baswedan.

Secara lebih detail, Denny  membuat catatan cukup panjang mengenai hal itu dalam akun Twitternya, Selasa 4 Mei 2021. Berikut penuturannya:

“Pengen cerita..  Di dalam  @KPK_RI itu ada satu lembaga tidak resmi yang sangat kuat sekali, bernama Wadah Pegawai KPK. WP KPK ini dulu di bentuk oleh Abdullah Hehamahua yg dulu jadi penasihat. Mereka spt serikat buruh di pabrik, kumpulan dr seluruh  pegawai disana,” kata Denny memulai.

“Lanjut.. Fungsi WP KPK ini salah satunya adalah perekrutan pegawai. Tentu pegawai yg direkrut itu harus sesuai misi mereka, dan harus tunduk. Selain itu WP KPK gunanya untuk menekan pimpinan atas spy mau bekerjasama sesuai arahan. Novel Baswedan pernah jadi pimpinan Wadah Pegawai ini,” lanjutnya.

"Thn 2018, salah satu Dirdik Penyidikan KPK Brigjen Aris Budiman, dihajar habis karena ga mau bekerjasama. Aris Budiman teriak, "Akan saya bongkar oknum2 di dalam KPK.." Tapi gada yg peduli, krn dulu org percaya sama @KPK_RI, jadi yg berlawanan dgn mrk distigma koruptor," masih kata Denny.

“Di dalam Wadah Pegawai KPK inilah berkembang paham Taliban hasil didikan Abdullah Hehamahua, yg kemudian arahkan KPK sesuai dgn misi politik mereka yg menuju negara khilafah. Ngeri kan ? Dulu, negara bhkn tdk bs menjangkau KPK, mrk spt negara dalam negara. Dan WPK ini centernya,” imbuhnya.

"Akhirnya krn KPK sdh jadi kendaraan politik oleh itu, kemudian dibuatlah revisi UU @KPK_RI, yang menarik kembali KPK ke dalam negara. Perlawanan hebat dari mereka didukung media spt  @tempodotco, krn ga bs "main" lagi di KPK. Narasi mereka "pelemahan KPK", kata Denny.

“Tapi revisi UU KPK jalan terus. Dan akhirnya menjadi UU. KPK skrg tdk lagi berdiri sendiri, tapi sdh menjadi bagian dr negara. Dan salah satu poin utama dr revisi adalah pegawai @KPK_RI harus berubah jadi ASN. Ini yg mrk khawatirkan, kalau jd ASN wadah pegawai bisa ga kuat lagi,” lanjutnya.

“Nah, syarat utk jadi ASN adalah hrs ikuti tes wawasan kebangsaan, termasuk program anti radikalisme. Org2 WP KPK berontak. Sarang mereka dibongkar. Mrk dihadapkan pada tes psikologi, dgn pertanyaan2 menjebak. Dan akhirnya ketahuan byk yg radikal. Ya, para Taliban itu..,” masih kata Denny.

"Tahu gimana cara org2 WP KPK melawan tes itu ? Ya, sekali lagi, narasi mereka gitu2 aja, bahwa "KPK dilemahkan !" Dan mrk pun gunakan media2 online spt  @tempodotco partner mrk utk bangun framing dan playing victim. Basi, boy..  Jadi paham kan knp Novel B smp skrg ga mau keluar?" kata Denny menilai.

"Kalau Novel keluar, dia ga bs lagi kuasai KPK. Dan dia ambil keuntungan dr sana. Kalau dipecat, dia akan teriak2 lagi kalau "KPK sudah habis.." utk bangun simpati. Cara paling bagus keluarkan Novel ya tes wawasan kebangsaan itu..  Duh udah dulu ya, jadi pengen ngopi.. haha.," pungkasnya.

Respons Novel Baswedan

Sementara secara terpisah diberitakan, Penyidik senior KPK Novel Baswedan mendengar kabar tidak lolosnya sejumlah pegawai KPK melalui tes alih status sebagai ASN. Novel sendiri juga sebagai bagian dari pegawai yang tidak lolos.

"Cuma itulah aku paham tapi nanti begitu disampaikan itu benar baru bisa dikonfirmasi kan tapi rasanya kayak begitu sih," kata Novel, Selasa (4/5/2021).

"Mereka maunya begitu tapi itu kan sudah lama, upaya-upaya cuma yang berbeda yang diduga berbuat pimpinan KPK sendiri, kan lucu," imbuhnya.

Novel mempersilakan publik nantinya mengkroscek nama-nama pegawai yang tidak lolos itu. Menurut Novel, profil orang-orang itu sangat tidak layak bila disebut tidak lolos tes ASN.

"Mau dikaitkan dengan kemampuan akademis, mereka hebat-hebat. Mau dikaitkan dengan nasionalisme, mereka orang-orang yang selama ini bela negaranya kuat, antikorupsinya kuat, integritasnya bagus-bagus, radikalisme nggak nyambung karena heterogen," papar Novel Baswedan.

Sebelumnya, beredar kabar sejumlah pegawai KPK termasuk Novel Baswedan tidak lolos asesmen tes wawasan kebangsaan untuk alih status sebagai ASN. Hasil itu sudah dikantongi KPK tapi sampai saat ini belum disampaikan ke publik.

"KPK benar telah menerima hasil asesmen wawasan kebangsaan yang diserahkan pihak BKN (Badan Kepegawaian Negara) RI tanggal 27 April 2021," kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri, kepada wartawan, Senin (3/5/2021).

"Namun, mengenai hasilnya, sejauh ini belum diketahui karena informasi yang kami terima, data dimaksud belum diumumkan," tambah Ali.

Ali mengatakan KPK akan mengumumkan hasil asesmen kepada publik dalam waktu dekat. Data hasil asesmen tersebut masih disegel sejak diterima dari BKN.

"KPK memastikan akan menyampaikan hasilnya kepada publik dalam waktu dekat dan akan kami informasikan lebih lanjut," ujarnya dinukil detik.com.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati