Netral English Netral Mandarin
banner paskah
02:42wib
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyetujui penggunaan izin darurat (emergency use authorization/EUA) vaksin Covid-19 Sinopharm dengan efikasi 78,1 persen. Satgas Penanganan Covid-19 menyatakan bahwa mudik Lebaran 2021, baik itu jarak jauh maupun jarak dekat, tetap ditiadakan.
Duit Triliunan dari RI Tak Pernah Dikecap, Pejuang Sejati di Sana adalah Mama-Mama Papua

Sabtu, 01-Mei-2021 17:30

Birgaldo Sinaga saat bersama dengan Mama-Mama Papua
Foto : FB/Birgaldo Sinaga
Birgaldo Sinaga saat bersama dengan Mama-Mama Papua
3

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Cerita tentang Papua ada 1001 kisah. Kisahnya berisi kepingan2 cerita yang putih, hitam, kelabu, merah, biru atau ungu. Tergantung dari sudut mana kita melihatnya. 

Beberapa hari lalu, pemerintah menetapkan KKB Papua sebagai kelompok teroris. 

Keputusan pemerintah ini tentu berbuntut  pro dan kontra. Ada konswekensi akibat keputusan itu.

Saya tak hendak membuat opini soal keputusan pemerintah itu. Kita serahkan kepada pemerintah untuk menyelesaikan persoalan di Papua. Tentu sebisanya dengan dialog dan humanis.

Di sini, saya ingin cerita perjalanan saya suatu hari di Papua. Saya punya cerita tentang Papua. Saya pernah beberapa minggu mengunjungi Papua.

Begini ceritanya.

Pada Agustus 2015, di depan kios sepanjang jalan Irian Tolikara dari RSUD Karubaga hingga Simpang Tiga Tolikara, banyak mama mama Tolikara berjualan hasil kebun. Di depan kios-kios yang berjejer di sepanjang jalan Irian, mama-mama Tolikara menjajakan hasil kebunnya. 

Anak-anaknya ikut menemani. Meteka tidak bersekolah. Mereka membantu ibunya berjualan. Dari pagi hingga sore mereka sabar menunggu pembeli. Sayur sawi, mentimun, markisa, jeruk, pakis, kacang tanah diletakkan begitu saja di pinggir jalan.

Seikat sawi dihargai Rp10.000. Seikat kacang tanah Rp10.000. Setumpuk jeruk sekitar 8-10 buah cukup murah Rp5.000 saja. 

Aku memborong  sayur mayur mama Tolikara yang sedang lesehan berpayung menahan panas sambil menggendong bayinya menunggu pembeli lewat. 

Ada tiga mama menjual sayur berbeda.  Mereka bertetangga di kampungnya. Mama penjual sayur sawi, mama penjual pakis dan mama penjual kacang tanah. Total semua barang dagangan mereka sekitar Rp. 160.000. 

Mereka begitu sumringah dan senang sekali semua hasil kebunnya laku. 

"Terimakasih .. terimakasih... wah.. wah.. wah..," ucap mereka serentak. 

Sepanjang jalan aku melihat wajah-wajah kuyu letih terpanggang panas matahari. Mereka membawa hasil kebunnya dengan berjalan kaki dari balik gunung lembah Tolikara.  Perlu 3-6 jam berjalan kaki. 

Hasil kebun itu dimasukkan di tas khas Papua noken. Noken digantungkan di kening menjuntai hingga menyentuh pantatnya. Cukup berat, bisa mencapai 10-30 kg. Leher mereka menjadi kuat kencang. Beban itu bertumpuk di lehernya. 

Mama-mama Tolikara  sanggup berjalan jauh dari kebunnya menuju pusat kota Tolikara. Kadang dagangan mereka tidak laku. Mendapat Rp. 50.000,- sudah membuat mereka senang.

Di pinggir Jalan Irian, aku mendengar suara tangis bayi mungil. Ini menarik perhatianku, tangisnya panjang.

Sepertinya ia merengek minta minum susu. Aku mendekat. Seorang mama Tolikara berusaha menenangkan bayi mungilnya. 

Bayi laki-laki berumur 1 tahun itu sepertinya kehausan.

"Mama... siapa nama anaknya?" tanyaku seraya meminta agar membolehkanku menggendong. 

"Alfito Yikwa Pak," ujar si mama sembari tertawa lebar.

Hmm beratnya ringan. Matanya sayu. Kulitnya kotor. Ingus berwarna putih kental lengket disebelah kanan hidungnya. Bau. Aku berusaha menahan untuk tidak menutup hidung dari  bau tubuh bayinya. 

"Sudah diimunisasi mama?" tanyaku. 

Si Mama tertawa. Sepertinya dia tidak faham arti imunisasi.

"Sudah disuntik bidan toh," ujarku lagi. 

"Belum bapak..belum…," balas si Mama baru mengerti setelah ku sebut suntik dan bidan. 

Mulut Si Mama sibuk komat-kamit mengunyah sirih. Hampir semua orang Tolikara punya kegiatan non-stop yaitu mengunyah sirih.  

Cairan sirih berwarna merah hasil olahan dari mulut bertebaran di sepanjang jalan yang kita lalui.

Si mama lain yang berbaju garis-garis mengeluarkan payudaranya. Bayinya merengek minta ASI. Si bayi reda tangisnya. Mulut mungilnya langsung menyambut pemberian ibunya.  

Rasanya ASI adalah makanan dan minuman paling bergizi buat para bayi, padahal ibunya juga kurang asupan gizi. 

Kedatanganku menarik perhatian anak-anak kecil. Anak-anak kecil itu berdiri menonton kami. Dua bayi ringkih kurang sehat sedang bersama ibunya dipinggir jalan berjualan. Kena panas dan angin kencang. Tanpa bisa protes.

Aku melihat kehidupan yang lain di sini. Kehidupan yang belum beranjak dari kemiskinan dan keterbelakangan. Ibu-ibu yang kelelahan bertani dan berkebun, lalu berjalan kaki menyusuri gunung lembah sambil menuntun anak dan menggendong bayinya. 

Mereka pergi pagi, pulang sore. Tiba di rumah malam hari. Hanya untuk mendapat dua puluh ribu hingga lima puluh ribu rupiah.

Akhhh..., Batinku teriak. Bukankah pemerintah pusat telah menggelontorkan uang puluhan trilyun  ke Papua??? Tapi ke mana uang itu??? Uang triliunan itu menguap tak berbekas. 

Uang itu hilang entah ke mana. Mama-Mama Papua tidak menikmati kekayaan itu. Uang yang menjadi hak mereka di tebas oleh pelahap dan pemangsa keji. 

Pelahap dan pemangsa kekayaan mama-mama Papua menghabiskan  di Jakarta dan tempat hiburan lainnya.  

Habis tak berbekas dihambur-hamburkan dengan hedonisme kebablasan tak berperikemanusiaan. 

Kita mendengar berita Gubernur Papua suka pelesiran ke Singapore bermain judi. Juga pelesiran ke negara tetangga Papua Nugini melalui pintu belakang.

Ingin rasanya aku memborong semua dagangan mereka. Mereka pemilik negeri berlimpah kekayaan alam tapi mereka miskin susah menderita.  

Hingga pukul tiga sore, masih banyak sayur dan buah menumpuk layu terpanggang matahari. Kini Tolikara tidak seramai biasanya,  sepi dari pembeli.  Ini karena kerusuhan Tolikara. Kerusuhan karena emosi yang lepas kendali. 

"Mama... ini buat beli susu ya...," ujarku sambil pamit.

Terimakasih… terimakasih Pak.. wah… wah… wah…

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Wahyu Praditya P