Netral English Netral Mandarin
03:04wib
Partai Ummat  menyinggung dominansi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam evaluasi tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo. China kembali menggertak Amerika Serikat setelah Presiden Joe Biden menyatakan bahwa ia akan membela Taiwan jika Negeri Tirai Bambu menyerang.
Dukung Pemberian Gelar Pahlawan Nasional Kepada Habaib dan Ulama, HNW: Agar Selamatlah Bangsa Ini...

Kamis, 09-September-2021 18:20

Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nurwahid
Foto : Istimewa
Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nurwahid
16

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) mendukung pemberian gelar pahlawan nasional kepada sejumlah tokoh yang ikut berjasa menghadirkan kemerdekaan Indonesia.

Beberapa tokoh yang dinilai HNW layak diberi gelar pahlawan nasional, antara lain Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi atau yang dikenal dengan Habib Ali Kwitang, Pendiri Sekolah Diniah Putri Padang Panjang Rahmah El Yunusiah, Syaikhana Khalil yang merupakan guru bagi KH Hasyim Asyari dan KH A Dahlan, serta Anggota BPUPKI KH A Sanusi.

“Saya mendukung penuh apa yang diusulkan oleh berbagai pihak agar pemerintah memberikan pengakuan dan gelar pahlawan nasional. Juga sebagai pengamalan ajaran Bung Karno: Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah). Karena perjuangan dan kontribusi mereka untuk hadirkan Indonesia merdeka, sangatlah nyata,” kata HNW dalam keterangannya, Rabu (8/9/2021).

HNW mengatakan, sejarah mencatat dengan tinta emas bagaimana perjuangan dan kontribusi tokoh-tokoh itu untuk kemerdekaan Indonesia. “Habib Ali Kwitang yang membantu dan menyelamatkan Bung Karno dengan memberikan tempat persembunyian di Masjid Kwitang dari kejaran penjajah Belanda dan Jepang,” ujarnya.

Bahkan, lanjut Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, berdasarkan berbagai informasi, Bung Karno sempat ‘nyantri’ dengan Habib Ali Kwitang selama berbulan-bulan atas saran dari tokoh Betawi M Husni Thamrin.

“Habib Ali Kwitang juga sangat berjasa untuk dukungan atas kemerdekaan Indonesia dan penyebaran proklamasi kemerdekaan Indonesia di kalangan umat Islam melalui jaringan para habaib. Hingga kemerdekaan Indonesia cepat menyebar dan didukung oleh umat hingga ke majlis taklim," ungkapnya.

"Karena Habib Ali Kwitang juga pendiri dan pimpinan pertama Majelis Taklim Kwitang yang merupakan salah satu cikal bakal organisasi-organisasi majelis taklim di Indonesia, yang ikut berjuang bagi hadir dan eksis nya Indonesia merdeka,” sambung HNW.

HNW juga menyambut baik dukungan dari berbagai pihak kepada PWNU DKI Jakarta yang pertama kali mengusulkan agar gelar pahlawan nasional juga diberikan kepada Habib Ali Kwitang. “Karena beliau bermukim di Jakarta, sudah sewajarnya bila tokoh-tokoh di Jakarta ikut memperjuangkan dan mendukung usulan mulia ini,” tandasnya.

HNW menyatakan, PKS sebagai partai Islam sangat mendukung berbagai usulan untuk pemberian gelar pahlawan nasional untuk para habaib dan ulama (termasuk ulama Perempuan) yang berjasa bagi kemerdekaan Indonesia.

Sebelumnya, kata HNW, dukungan PKS juga diberikan kepada rencana pemberian gelar pahlawan kepada Sholeh Darat Semarang, Bisri Syansuri, dan Muhammad Kholil atau Syaikhona Kholil Bangkalan. Juga kepada Rahmah ElYunusiah, A. Sanusi (anggota BPUPK dari PUI), serta Mr Kasman Singodimejo (Muhammadiyah, Anggota PPKI).

“PKS sangat mendukung agar pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada para ulama (termasuk ulama perempuan), habaib dan bapak/ibu bangsa yang telah terbukti jasa dan dharmabaktinya untuk Indonesia merdeka," ungkapnya.

"Beliau-beliau itu dan keluarganya tentu tidak meminta pengakuan dari pemerintah, tetapi sudah selayaknya bila kita sebagai bangsa yang menghargai jasa pahlawan, mengakui dan menghormati peran bersejarah mereka,” jelas Anggota Komisi VIII DPR itu.

Lebih jauh, HNW memaparkan bahwa pemberian gelar pahlawan ini juga untuk merawat harmoni bangsa dan ingatan kolektif rakyat bahwa Indonesia merdeka ini adalah warisan dan hasil perjuangan bersama, baik oleh kalangan nasionalis kebangsaan maupun nasionalis keagamaan sebagaimana dilakukan oleh para ulama (termasuk yang perempuan) dan habaib.

“Agar selamatlah bangsa dari adu domba, dan makin kuatlah kohesi nasional berdasarkan ingatan kolektif atas harmoni dan kontribusi para pahlawan bangsa untuk Indonesia merdeka, sekalipun latar belakang mereka berbeda-beda (latar suku, agama, afiliasi politik), tapi mereka saling menghormati, saling mendukung dan bergotong-royong untuk hadirkan Indonesia merdeka dan membela eksistensi kemerdekaan Indonesia,” pungkasnya.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Wahyu Praditya P