Netral English Netral Mandarin
21:49wib
Presiden Joko Widodo mengatakan, kondisi dunia saat ini penuh dengan ketidakpastian dan persoalan yang lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Sistem perawatan kesehatan Singapura terancam kewalahan menghadapi lonjakan covid-19.
Dukung Taliban Gantung Jenazah Pakai Crane, Mustofa: Sangat Efektif, Bikin Koruptor Ketakutan

Senin, 27-September-2021 08:50

Hukuman gantung jenazah pakai crane dan Mustofa Nahrawardaya
Foto : Kolase Netralnews
Hukuman gantung jenazah pakai crane dan Mustofa Nahrawardaya
12

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Politikus Partai Ummat, Mustofa Nahrawardaya mendukung hukuman model gantung jenazah pakai crane seperti yang dilakukan Taliban.

“Pamer jenasah digantung ini, sangat efektif. Bikin koruptor ketakutan,” kata Mustofa Nahrawardaya, Senin 27 September 2021.

Untuk diketahui, Taliban menggantung mayat menggunakan crane di kota Herat, Afghanistan. Disebutkan mayat tersebut merupakan pelaku penculikan.

Peristiwa mengerikan itu terjadi pada Sabtu (25/9) waktu setempat. Menurut kesaksian salah seorang warga, total ada 4 mayat yang dibawa ke alun-alun pusat kota Herat kemudian 3 di antaranya dibawa lagi ke bagian kota lainnya untuk dipamerkan ke publik.

Pihak berwenang Taliban mengumumkan bahwa keempat mayat yang digantung merupakan pelaku penculikan pada Sabtu (25/9) pagi waktu setempat. Mereka kemudian dibunuh oleh aparat kepolisian.

"Taliban berhasil menyelamatkan seorang ayah dan anak yang diculik oleh empat penculik setelah baku tembak," kata kepala polisi distrik setempat, Ziaulhaq Jalali, seperti dilansir Associated Press, Minggu (26/9/2021).

Jalali menyebut seorang anggota Taliban dan seorang warga sipil terluka oleh para penculik. Keempat penculik itu pun tewas usai baku tembak.

Dalam sebuah video yang diterima Associated Press, tampak kerumunan warga di sekitar lokasi mayat digantung. Beberapa orang Taliban berteriak mengumumkan sesuatu.

"Tujuan dari tindakan ini adalah untuk memperingatkan semua penjahat bahwa mereka tidak aman," kata seorang komandan Taliban yang tidak mengidentifikasi dirinya kepada AP dalam sebuah wawancara di alun-alun kota.

Sejak Taliban menguasai Afghanistan pada 15 Agustus lalu, banyak orang khawatir akan kembalinya aturan-aturan garis keras seperti yang terjadi di masa lampau. Saat itu tindakan hukum rajam hingga potong tangan diberlakukan untuk para pelaku tindakan kriminal.

Dalam sebuah wawancara dengan AP pekan lalu, salah satu pendiri Taliban, Mullah Nooruddin Turabi mengatakan bahwa pihaknya akan melakukan tindakan keras untuk kasus eksekusi dan potong tangan. Hal ini dilakukan mengikuti hukum islam.

"Semua orang mengkritik kami atas hukuman yang kami lakukan, tetapi kami tidak pernah berkomentar apa pun tentang aturan hukum mereka," kata Mullah Nooruddin Turabi.

"Tidak ada yang perlu memberi tahu kami seperti apa hukum kami seharusnya. Kami akan mengikuti Islam dan kami akan membuat hukum kami berdasarkan Al-Quran." imbuhnya.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sulha Handayani