3
Netral English Netral Mandarin
08:37 wib
Ketua Majelis Tinggi Partai Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku merasa bersalah karena pernah memercayai dan memberikan jabatan kepada Moeldoko ketika masih menjadi presiden. Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko mengucapkan terima kasih setelah terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dalam kongres luar biasa (KLB) kubu kontra-Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Dukung Vaksin Nusantara Terawan, Eko: Jika Berhasil, Indonesia Benar-benar Membanggakan

Jumat, 19-Februari-2021 15:57

dr Terawan Agus Putranto, mantan Menteri Kesehatan yang juga penggagas vaksin Nusantara
Foto : Kemenkes
dr Terawan Agus Putranto, mantan Menteri Kesehatan yang juga penggagas vaksin Nusantara
1

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Pegiat media sosial Eko Kuntadhi memberikan dukungan dan apresiasi kepada dr Terawan Agus Putranto, mantan Menteri Kesehatan yang kini tengah sibuk menyelesaikan penelitian vaksin nusantara.

Menurut Eko, jika vaksin ini berhasil maka akan sangat membanggakan bagi Indonesia karena vaksin itu cukup disuntikan sekali dan biayanya cukup murah, hanya Rp 200 ribu.

“Membaca berbagai informasi mengenai vaksin Nusantara yang dikembangkan Dr. Terawan. Jika berhasil, Indonesia benar2 membanggakan.

Vaksin itu cukup di suntikan sekali, berfungsi seumur hidup, biayanya Rp200 ribu.

Sementara jenis vaksin lainnya, berdaya tahan 1-2 tahun saja,” tulis Eko di akun Twitternya, Jumat (19/2/2021).

Terawan, sambung Eko saat ini ingin menorehkan sejarah. Mantan Menteri Kesehatan itu menurut Eko tidak pernah meninggalkan gelanggang setelah tidak menjabat sebagai pembantu presiden.

“Ia tidak lagi menjadi Menteri Kesehatan, tapi terus bekerja dengan intens. Ia tidak meninggalkan gelanggang. Vaksin Nusantara kini sdh masuk uji klinis tahap II.  Bersama RS Karyadi dan para ahli dr Undip, Terawan ingin menorehkan sejarah,” imbuhnya.

Namun, klaim terawan bahwa vaksinnya bisa membentuk kekebalan seumur hidup terhadap virus Covid-19 ternyata diragukan. Ketua Satuan Tugas COVID-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Zubairi Djoerban menyebut klaim efikasi vaksin harus dibuktikan dengan uji klinis, sementara Vaksin Nusantara gagasan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto itu baru melewati fase uji klinis tahap pertama.

"Vaksin nusantara diklaim menciptakan antibodi seumur hidup. Mana buktinya? Data uji klinis fase duanya saja belum ada, apalagi fase tiga. Jadi, jika mau bicara klaim, tentu harus dengan data. Harus dengan evidence based medicine. Jangan membuat publik bingung," kata Zubairi melalui twitternya @ProfesorZubairi Jumat (19/2/2021).

Padahal vaksin lain seperti Moderna, Sinovac, atau pun Pfizer yang sudah melalui uji klinis tahap ketiga saja belum bisa memastikan berapa lama antibodinya bertahan.

"Tidak ada itu klaim yang mereka sampaikan bahwa antibodi dari vaksin-vaksin tersebut bisa bertahan enam bulan, satu tahun, apalagi seumur hidup," ucapnya.

Oleh sebab itu, dia meminta tim peneliti Vaksin Nusantara agar transparan dan tidak mengumbar klaim sehingga masyarakat bisa paham.

"Sekali lagi, saya mendukung upaya eradikasi, seperti vaksin. Tapi perlihatkan kepada publik datanya. Biar tak gaduh. Vaksin Influenza saja bertahan kurang lebih setahun karena dipengaruhi mutasi virusnya. Duh, saya tak tahu motif klaim vaksin nusantara itu. Ada yang tahu?" tutupnya.

Reporter : Dimas Elfarisi
Editor : Nazaruli