Netral English Netral Mandarin
04:01wib
Presiden Joko Widodo mengatakan, kondisi dunia saat ini penuh dengan ketidakpastian dan persoalan yang lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Sistem perawatan kesehatan Singapura terancam kewalahan menghadapi lonjakan covid-19.
Dulu Teriak ke JKW Minta Lockdown, Kini Sok Pahlawan, DS: Hallo Roy Suryo, Sinikan Panci2nya Buat Tapuk Lambe Mereka

Sabtu, 09-Oktober-2021 18:25

Denny Siregar
Foto : Voi.id
Denny Siregar
12

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Denny Siregar kesal dengan mereka yang kini merasa sok pahlawan usai kondisi kasus Covid-19 menurun padahal dahulu mendesak-desak Presiden Jokowi agar melockdown.

Mulanya akun Twitter bernama Joel Picard @sociotalker mencuit: “Sejak awal pandemi, teman2 @LaporCovid dan @KawalCOVID19 tiap malam kerja keras ngolah data buat dikasi ke pemerintah buat perbaikan penanganan pandemi. giliran kondisi membaik, para buzzer duluan pesta jingkrak2 kyk yg paling berjasa di dunia.”

Denny pun membalas.

“Mau ketawa baca twit ini. Lha mereka yang dulu tereak2 lockdown, suruh2 Indonesi contoh Singapura.. Pas negeri ini berhasil atasi pandemi, eh tiba2 berasa pahlawan. Udah SJW, halu lagi..,” kata Denny Siregar, Sabtu 9 Oktober 2021.

Tak sampai di situ. Denny kembali mencuit.

“Inget banget gua dulu mereka2 ini. Sibuk tereak2 lockdown, salahkan pemerintah Indonesia, puji2 Singapura.. Eh, sekarang tiba2 muji diri sendiri sudah membantu pemerintah. Halo @KRMTRoySuryo2, sinikan panci2nya buat tapuk lambe mereka..” tandas Denny.

Untuk diketahui, di awal masa pandemi, aktivis gerakan Kawal Covid, Ainun Najib, berpendapat para kepal daerah akan menanggung konsekuensi dari keputusan pemerintah yang tidak akan me-lockdown kota-kota terjadinya kassus Covid-19.

Pasca keputusan pemerintah pusat yang tak akan me-lockdown wilayah episentrum Covid-19 di Indonesia seperti Jakarta dan Bali dinilai akan menyebabkan penyebaran di wilayah-wilayah baru di seluruh Indonesia.

"Para Bupati dan Wali Kota se-Indonesia harus bersiap. Karena Pemerintah Pusat sudah memutuskan tidak akan ada lockdown (Misalnya untuk Jakarta, Jabodetabek, Bali), maka wabah dari episentrum-episentrum itu akan tak terelakkan mencapai penjuru nusantara, masuk Kabupaten/Kota Anda," tulisnya melalui Twitter pada (22/3/2020).

Ainun memberikan perbandingan dengan menyebut bagaimana China melakukan lockdown terhadap Wuhan. Cara ini dinilai sebagai langkah yang signifikan dalam mengurangi angka kasus Covid-19.

"Belajar dari China, mereka langsung drastis melakukan lockdown. Kota Wuhan terlebih dahulu di-lockdown, supaya tak menyebar keluar. Beberapa hari kemudian, satu provinsnya sekalian (Hubei, Wuhan itu ibu kota provinsinya). Beberapa hari kemudian, kota-kota besar lain juga." sambungnya dalam sebuah utasan.

Ainun juga menyebutkan dengan melakukan lockdown secara bertahap terhadap kota-kota episentrum covid-19, China menjadi lebih mudah untuk mengirimkan tenaga medis.

"Sepanjang hari-hari setelah itu, kita lihat China jelas medan pertempurannya: Hubei dengan titik utamanya Wuhan. Tenaga medis dari seluruh penjuru China dikerahkan ke medan pertempuran utama. Kenapa? Karena kota asal mereka relatif aman, ada lockdown di titik-titik sumber wabah," tulisnya.

Ia menyimpulkan bahwa langkah tersebut berhasil mengubah grafik pertumbuhan kasus Covid-19 di China.

"Dan seringkali kita lihat dalam minggu-minggu itu (Februari-Maret), bahkan pelaporan statistik pun memisahkan angka & grafik pertumbuhan antara: Hubei vs "The Rest of China". Beda. Analoginya: harusnya di Indonesia kita bisa bilang 'Jabodetabek, Bali dan The Rest of Indonesia'" tambahnya.

Namun, Ainun mengaku ia tetap menghormati keputusan Presiden Jokowi yang enggan me-lockdown wilayah yang menjadi episentrum Covid-19.

Hanya saja, Ia mengingatkan bahwa konsekuensi dari keputusan ini akan ditanggung pemerintah daerah yang harus bersiap jika terjadi penyebaran kasus corona di wilayahnya.

"Namun Indonesia akan berbeda. Kita hormati keputusan Presiden @jokowi yang menyatakan tidak akan ada lockdown. Bahkan terkesan memveto/menstop beberapa Kepala Daerah yang mempertimbangkan itu. Konsekuensinya: Kab/Kota se-Indonesia harus bersiap masing-masing. Waspadalah," pungkas Ainun.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto