Netral English Netral Mandarin
21:56wib
LSI Denny JA menilai, PDI Perjuangan berpotensi akan mengalami kekalahan jika mengusung Ketua DPR Puan Maharani sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden 2024 mendatang. Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia menegaskan fasilitas kesehatan di Indonesia bisa tumbang dalam 2-4 minggu jika pengendalian pandemi tidak diperketat.
Edhy Prabowo Diduga Beli Miras Pakai Uang Suap, Netizen: Harta, Tahta,...

Kamis, 28-January-2021 13:46

Edhy Prabowo Diduga Beli Miras Pakai Uang Suap
Foto : JawaPos.com
Edhy Prabowo Diduga Beli Miras Pakai Uang Suap
18

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - KPK mendalami pembelian minuman keras atau minuman beralkohol jenis Wine dalam kasus suap ekspor benih lobster, Edhy Prabowo.

Penyidik kini telah memeriksa saksi karyawan swasta Ery Cahyaningrum soal pembelian minuman keras (miras) jenis Wine oleh tersangka Edhy. Uang yang digunakan membeli Wine tersebut diduga berasal dari uang suap.

Banyak warganet pun gelengkan kepala. Dalam akun FB Mak lambe Turah, Kamis (28/1/21), berita tersebut mendapat banyak sorotan netizen.

MLT: "astaganaga wkwkwkwkk."

Baca Juga :

Kinah Sa: "wowwwww bapak lobster beli air aja milih yg ada alkoholnya."

Dafi Erlangga Naturindo: "Harta, Tahta, Vodka."

Felipe Bourbon Gracias: "EH GILA YA PEMIRSA. WAJAH POLOS / BERLAGAK POLOS KAGAK TAHU NYA MIRAS. DASAR KETURUNAN LOBSTER."

April Landho: "Tenggorokan apa gak kebakar."

Sebelumnya diberitakan, Ery Cahyaningrum yang juga mantan caleg dari Partai Gerindra itu, Rabu, diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Edhy dan kawan-kawan dalam penyidikan kasus suap perizinan ekspor benur di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Hal itu disampaikan Pelaksan Tugas Juru Bicara KPK Ali Fikri di Jakarta, Rabu (27/1/2021).

"Ery Cahyaningrum dikonfirmasi terkait kegiatan usaha saksi yang menjual produk minuman di antaranya jenis 'wine' yang diduga juga dibeli dan dikonsumsi oleh tersangka EP dan AM (Amiril Mukminin) di mana sumber uangnya diduga dari pemberian pihak-pihak yang mengajukan izin ekspor benur di KKP," kata Ali dilansir dari Antara.

Selain Ery, KPK juga memeriksa seorang saksi lainnya untuk tersangka Edhy dan kawan-kawan, yaitu wiraswasta Alayk Mubarrok. Penyidik mendalami uang yang diterima oleh tersangka Edhy dan Amiril.

"Dikonfirmasi terkait posisi yang bersangkutan sebagai salah satu tenaga ahli dari istri tersangka EP yang diduga mengetahui aliran uang yang diterima oleh tersangka EP dan tersangka AM yang kemudian diduga ada penyerahan uang yang diterima oleh istri tersangka EP melalui saksi ini," kata Ali.

Ia mengatakan terkait proses penyidikan yang saat ini masih berjalan, KPK juga tidak menutup kemungkinan untuk mengumpulkan bukti-bukti baru adanya dugaan tindak pidana korupsi lain dalam dalam kasus izin ekspor benur tersebut.

Selain itu, kata dia, KPK juga mengingatkan kepada pihak-pihak yang dipanggil tim penyidik KPK dalam penyidikan kasus tersebut untuk kooperatif dan memberikan keterangan secara jujur dan terbuka.

"KPK juga mengingatkan ancaman pidana dalam Pasal 21 dan Pasal 22 Undang-Undang Tipikor yang memberikan sanksi tegas apabila ada pihak-pihak yang sengaja merintangi proses penyidikan ini," ucap Ali.

Selain Edhy, KPK juga telah menetapkan enam tersangka lainnya, yakni Staf Khusus Edhy sekaligus Wakil Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Safri (SAF), Staf Khusus Edhy sekaligus Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Andreau Pribadi Misata (APM).

Kemudian, Amiril Mukminin (AM) dari unsur swasta/sekretaris pribadi Edhy, pengurus PT Aero Citra Kargo (ACK) Siswadi (SWD), Ainul Faqih (AF) selaku staf istri Edhy, dan Direktur PT Dua Putra Perkasa (DPP) Suharjito (SJT).

KPK pada Jumat (22/1) telah menyerahkan barang bukti dan tersangka Suharjito yang merupakan penyuap Edhy ke penuntutan agar dapat segera disidangkan setelah berkas perkaranya dinyatakan lengkap (P21)

Dalam waktu 14 hari kerja, Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK akan menyusun surat dakwaan untuk dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Jakarta. Persidangan terhadap Suharjito akan digelar di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Edhy diduga menerima suap dari perusahaan-perusahaan yang mendapat penetapan izin ekspor benur menggunakan perusahaan "forwarder" dan ditampung dalam satu rekening hingga mencapai Rp9,8 miliar.

Selain itu, Edhy juga diduga menerima 100 ribu dolar AS dari Suharjito melalui Safri dan Amiril.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto