• News

  • Editor's Note

Timur Tengah Kembali Membara

Ilustrasi serangan Iran ke pangkalan udara Irak
foto: istimewa
Ilustrasi serangan Iran ke pangkalan udara Irak

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Betapa maha sulitnya menciptakan suasana damai dan bebas perang di wilayah Timur Tengah. Apakah kita semua harus mengamini bahwa di daerah ini dikodratkan untuk terus terjadi pertumpahan darah?

Pasca pembunuhan terhadap Jenderal Besar Qassem Soleimani oleh pihak Amerika Serikat, perhatian  dunia internasional kembali terpusat ke Iran-Irak. Pasalnya, pertempuran kembali meletus.

Hizbullah serukan perang

Banyak pihak akan tersedot dalam konflik ini. Yang paling dekat adalah kelompok Hizbullah Lebanon. 

Minggu (12/1/2020), pihak Hizbullah Lebanon menyatakan bahwa sudah waktunya bagi sekutu-sekutu Iran beraksi membalas kematian Jenderal Besar Qassem Soleimani kendati akan menjadi "jalan panjang" untuk mengusir pasukan Amerika Serikat dari kawasan tersebut.

Hassan Nasrallah, sekjen partai, juga membantah jenderal Iran Soleimani berencana meledakkan sejumlah kedutaan besar AS. Presiden Donald Trump menyebutkan orang terkuat nomor 2 di Iran itu tewas setibanya di Baghdad sebagian karena "mereka berniat meledakkan kedutaan besar kami."

Hizbullah, kelompok bersenjata lengkap yang dianggap sebagai organisasi teroris oleh AS, dibentuk pada 1982 oleh Pengawal Revolusi Iran dan menjadi bagian krusial dalam aliansi kawasan pimpinan Teheran, yang dikenal "poros perlawanan."

Iran membalas

Sementara itu, pada Rabu dini hari (8/1/2020), Iran telah merespons kematian Soleimani dengan peluncuran roket terhadap dua pangkalan militer di Irak, yang ditempati pasukan AS.

Pemimpin Spiritual Iran Ali Khamenei menyebutnya sebuah "tamparan" bagi Amerika Serikat dan memperingatkan pasukan AS harus angkat kaki dari kawasan tersebut.

Meski situasi di kawasan masih memanas, kedua pihak mengurangi eskalasi konflik pasca serangan Iran.

Hassan Nasrallah pekan lalu menyebutkan bahwa sekutu-sekutu Iran, termasuk pemerintah Suriah dan sejumlah kelompok paramiliter yang dibentuk atas dukungan Iran di Irak dan Suriah, harus membantu melakukan balas dendam kematian Soleimani.

"Saya yakin sudah waktunya bagi poros perlawanan mulai beraksi," katanya dalam satu pidato.

"Pasukan perlawanan penting dan bertujuan pada tujuan besar yang saya usulkan," kata Nasrallah, mengacu pada tujuan melihat pasukan AS hengkang dari kawasan tersebut.

Aksi balasan akan terjadi dalam "beberapa hari, pekan dan bulan ke depan", katanya, menambahkan "ini adalah sebuah jalan panjang."

Pesawat Ukraina jadi korban

Ditengah situasi memanas, pesawat Ukraina jatuh ditembak oleh pihak Iran. Iran mengaku pada Sabtu (11/1/2020) bahwa militernya menembak jatuh pesawat Ukraina, yang menewaskan seluruh 176 orang di dalamnya melalui "kesalahan fatal".

Iran mengatakan senjata pertahanan udara Iran tak sengaja ditembakkan saat berada dalam status waspada pascapenembakan roket Iran terhadap sejumlah target Amerika Serikat di Irak.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy pada Sabtu (11/1/2020) menyebutkan pengakuan Iran bahwa pihaknya menembak jatuh pesawat penumpang Ukraina merupakan langkah yang benar tetapi menginginkan mereka yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawabannya.

"Saya bersikeras agar identifikasi jasad segera diselesaikan dan dipulangkan ke Ukraina," cuit Zelenskiy di Twitter seusai berbicara dengan Presiden Iran Hassan Rouhani.

"Para pelaku harus dimintai pertanggungjawaban."

ISIS bangkit

Di tengah konflik Iran-Amerika yang semakin memanas, muncul isu baru bahwa ISIS kembali bangkit. Hal ini disuarakan Raja Yordania, Abdullah. Ia mengingatkan bahwa kelompok ISIS telah terbentuk kembali dan bangkit kembali di Timur Tengah.

Berbulan-bulan setelah pengusiran militan ISIS dari tempat persembunyian terakhir mereka di Suriah tahun lalu, Raja Abdullah mengatakan, "Kekhawatiran utamanya adalah bahwa kita telah melihat dalam setahun terakhir, pembentukan kembali dan kebangkitan ISIS, bukan hanya di Suriah selatan, timur namun juga di Irak barat".

"Kita harus berurusan dengan kemunculan kembali ISIS," kata Raja Abdullah dalam wawancara dengan saluran televisi France 24 menjelang pertemuan pekan ini di Brussels, Strasbourg dan Paris. Dia juga mengatakan bahwa banyak petempur asing dari Suriah kini berada di Libya.

"Dari perspektif Eropa, dengan Libya lebih dekat ke Eropa, ini akan menjadi pembahasan penting dalam beberapa hari ke depan," ujar Abdullah seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (13/1/2020).

"Beberapa ribu petempur telah meninggalkan Idlib (Suriah) lewat perbatasan utara dan berakhir di Libya, itu adalah sesuatu yang oleh kita di wilayah ini, tapi juga teman-teman Eropa kita, harus diatasi pada 2020," imbuh Raja Yordania itu.

Mengenai meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat pekan lalu, Raja Abdullah berharap situasi akan mereda.

"Sejauh ini sepertinya ada de-eskalasi, kami berharap hal itu terus menjadi tren. Kita tidak mampu menghadapi ketidakstabilan di bagian dunia kita," tutur sang Raja.

"Apapun yang terjadi di Teheran akan mempengaruhi Baghdad, Amman, Beirut, proses Israel-Palestina," imbuhnya. Ini menandakan bahwa Timur Tengah akan kembali membara dalam beberapa waktu mendatang.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dirangkum dari berbagai sumber