Netral English Netral Mandarin
03:28wib
Partai Ummat  menyinggung dominansi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam evaluasi tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo. China kembali menggertak Amerika Serikat setelah Presiden Joe Biden menyatakan bahwa ia akan membela Taiwan jika Negeri Tirai Bambu menyerang.
Erikson Sianipar: Desa Unggul, Tapanuli Utara pun Makmur

Jumat, 17-September-2021 08:21

Erikson Sianipar, Pendiri Yayasan Bisukma Bangun Bangsa (kanan)
Foto : Dok. Bisukma
Erikson Sianipar, Pendiri Yayasan Bisukma Bangun Bangsa (kanan)
24

 

TARUTUNG, NETRALNEWS.COM – Salah satu kebijakan dan langkah strategis Pembangunan Nasional Indonesia adalah membangun desa secara berkelanjutan. Program ini merupakan bagian dari Nawa Cita Presiden Joko Widodo.

Jumlah desa di seluruh Indonesia menurut BPS tahun 2019 sebanyak 83.820 desa. Selama rentang tahun 2015-2020 Pemerintah Indonesia telah mengucurkan anggaran Rp323 triliun melalui Program Dana Desa. 

Program tersebut telah berhasil memajukan sejumlah desa percontohan. Dalam catatan Kementerian Desa tahun 2020, dua desa percontohan di antaranya adalah Desa Ponggok, Klaten, Jawa Tengah dan Kampung Sira, Kabupaten Sorong, Papua Barat. 

Kampung Sira di Kabupaten Sorong, Papua Barat berhasil menciptakan program air bersih dan penerangan tenaga surya yang didampingi oleh Greenpeace. Pemanfaatan tenaga surya di sana berhasil menekan kebergantungan minyak bumi dan batu bara sebagai pembangkit listrik. 

Lain lagi dengan Desa Ponggok yang berhasil menyejahterakan warganya dengan memanfaatkan dana desa di antaranya disalurkan untuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sehingga pendapatan desa Ponggok semakin meningkat dari tahun ke tahun. 

BUMDes Desa Ponggok yang bernama BUMDes Tirta Mandiri mengelola wisata Umbul Ponggok, Toko Desa, Ponggok Ciblon, dan budidaya perikanan. Penghasilan di tahun 2014 mencapai Rp 1,1 miliar, tahun 2016 melonjak menjadi Rp 10,3 miliar dan tahun tahun 2017 mencapai target Rp 15 miliar.

(Erikson Sianipar bersama warga desa di Tapanuli Utara, Dok. Bisukma)

 

Peran Kepala Desa dan BUMDes

“Desa adalah miniatur dari pemerintah Indonesia. Kemajuan Indonesia sangat ditentukan oleh kemajuan desa. Artinya, sesuatu menjadi besar secara nasional berawal dari desa,” kata Pendiri Yayasan Bisukma, Erikson Sianipar kepada Netralnews, Senin 13 September 2021,

Menurut Erikson, prinsip-prinsip bersifat mendasar tentang pembangunan desa sebenarnya sudah diatur dalam UU No 6 Tahun 2014. 

“Pemerintah desa harus mengikutsertakan masyarakat dalam membangun desa. Wujudnya terefleksikan dalam Musyawarah Rencana Pembangunan Desa atau Musrenbangdes. Diharapkan dengan keterlibatan masyarakat secara maksimal terwujud gerak gotong royong yang menyeluruh mulai dari penyusunan instrumen hukum berupa peraturan desa (Perdes) hingga implementasinya sehingga benar-benar tercipta gerak pembangunan yang mandiri, kolaboratif, dan kondusif,” kata Erikson. 

Dalam gerak bersama tersebut, peran kepala desa ikut menentukan apalagi bagi desa yang masih membutuhkan tindakan revolusioner. 

Menyitir catatan Rovila El Maghviroh dalam "Peningkatan Tata Kelola yang Baik dan Daya Saing Menuju Desa Sejahtera" di laman iaijawatimur.or.id (diakses 12/9/2021), ada satu contoh keberhasilan Desa Hua Xi  di Provinsi Jiang Shu, China yang pada awal tahun 1961 masih merupakan desa termiskin di China tetapi kini berhasil menjadi desa terkaya di dunia. 

Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Wu Renbao, Desa Hua Xi  berhasil memanfaatkan semua potensi desa sehingga menjadi desa yang maju. Dengan keteladanan Wu Renbao, warga terinspirasi memiliki semangat dan kemauan yang kuat untuk ikut terlibat memajukan desanya. 

Wu Renbao memberikan ruang gerak seluas-luasnya agar warga punya inisiatif dan ide sesuai dengan kondisi dan sumber daya alam yang dimiliki oleh desa tersebut. Secara bertahap Desa Hua Xi berhasil meningkatkan produksi pertanian hingga kemudian mengadopsi teknologi tingkat tinggi. 

Bahkan akhirnya Desa Hua Xi mampu membangun pabrik baja dan pipa baja. Wu Renbao berhasil menggabungkan usaha di berbagai desa (membangun jaringan kerja sama antar desa) sehingga menambah keberhasilan Desa Hua Xi. 

(Erikson Sianipar bersama penenun kain ulos di Tapanuli Utara, Dok. Bisukma)

 

Dengan lahirnya industri di desa itu munculah kebutuhan tenaga kerja yang semakin meningkat. Industri di desa Hua Xi semakin berkembang dan menjadi industri raksasa yang mampu mengekspor produknya ke berbagai negara di dunia seperti AS, Kanada, Eropa, Australia dan berbagai negara di Asia Tenggara. 

Hasil produksi baja mencapai 2,2 juta ton/tahun. Sedangkan produksi pipa-pipa dari berbagai jenis seperti untuk sepeda, sepeda motor, dan perabot rumah tangga sekitar 300 ribu ton/tahun. 

“Industri di Desa Hua Xi  pada prinsipnya merupakan kemajuan tingkat lanjut dari BUMDes yang diharapkan tumbuh di Indonesia sesuai perundangan yang berlaku di Indonesia. Desa Hua Xi telah berhasil mengembangkan BUMdes secara optimal. Warga di sana berhasil memproduksi barang dan jasa sesuai kebutuhan pasar dan berhasil mendistribusikannya ke seluruh dunia. Era global dan era revolusi industri 4.0 memungkinkan semua itu juga bisa diwujudkan di Indonesia,” kata Erikson Sianipar. 

Dalam hal ini, BUMDes memiliki peran sangat strategis bagi kemandirian dan kelangsungan pembangunan desa di masa mendatang.

“Di masa mendatang, desa tidak boleh bergantung hanya dari Program Dana Desa yang dikucurkan oleh Kementerian Desa. Untuk itu, BUMDes merupakan lembaga yang ke depan diharapkan mampu membawa kemandirian ekonomi seperti BUMDes yang diwujudkan di  Desa Hua Xi,” tandas Erikson.

Peranan Teknologi Informasi

Dalam menghadapi era global dan revolusi industri 4.0, satu hal mendasar yang perlu segera dilengkapi adalah membangun infrastruktur teknologi informasi di semua desa di seluruh Indonesia. 

Mengenai hal ini, Erikson Sianipar memiliki harapan mengingat di sejumlah daerah, misalnya di sejumlah Kabupaten di Kawasan Danau Toba , infrastruktur jaringan internet masih sangat terbatas dari jangkauan layanan, juga kecepatan akses.

Infrastruktur internet menyediakan beragam sumber literasi yang dibutuhkan dan diperlukan untuk membangun sistem database yang terorganisir dan holistik sehingga memungkinkan terwujudnya sistem layanan publik secara digital lintas instansi. 

“Selain infrastruktur berupa perangkat keras, diperlukan pula pengembangan perangkat lunak, penyajian layanan berbasis website, dan juga sumber daya manusia untuk mengoperasikannya. Melalui sistem aplikasi yang baik, layanan publik dapat dikembangkan secara holistik. Bahkan memungkinkan lahirnya market place produk lokal baik untuk domestik maupun mancanegara,” kata Erikson.

“Namun, jangan lupa, layanan digital berbasis website tidak boleh menghilangkan hakikat ‘desa’. Layanan digital memang sangat membantu, terutama di masa pandemi Covid-19. Namun dalam kondisi normal, model tatap muka tetap harus dipertahankan. Sebab di dalam tatap muka secara langsung di sana ada tradisi, gotong royong, silaturahmi musyawarah yang ikut memupuk persatuan dan demokrasi,” tandas Erikson.

(Erikson Sianipar saat silaturahmi dengan warga melalui program BisukmaGoesTo, Dok. Bisukma)

 

Pilkades Serentak di Tapanuli Utara 

Tanggal 23 November 2021 mendatang, merupakan momen penting bagi masyarakat Tapanuli Utara di mana akan dilangsungkan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) secara serentak di wilayah Kabupaten Tapanuli Utara. 

Dari 241 desa di Tapanuli Utara, Pilkades akan diselenggarakan di 200 desa. Maka menjadi penting bagi warga untuk memaknai hajat besar tersebut untuk memilih calon-calon pemimpin handal untuk mewujudkan desa yang unggul dan sejahtera. 

“Keberadaan kepala desa sebagai kepala pemerintahan tingkat desa harus semakin dirasakan oleh masyarakat  agar  dalam proses pembangunan desa secara berkelanjutan,” kata Erikson mengingatkan.

Menurut Erikson Sianipar, karakter unggul harus dimiliki oleh seorang Kepala Desa, yaitu karakter yang mampu menyelesaikan persoalan yang sedang terjadi dengan cepat dan juga mampu menangkap serta memanfaatkan peluang yang ada guna menghadirkan masyarakat yang sejahtera, tangguh, mandiri dan berkarakter kuat.

Selain itu, prinsip kepemimpinan di tingkat desa yang penting dilihat adalah prinsip keteladanan.

“Apapun wujud program yang dikampanyekan, warga hendaknya mengukur calon-calon yang diusung berdasar keteladanan yang pernah dibangun sebelumnya. Track record di sini penting untuk mengukur sejauh mana komitmen membangun desanya,” papar Erikson Sianipar. 

“Semoga pelaksanaan Pilkades 2021 mampu melahirkan sosok-sosok pemimpin yang benar-benar membawa kemajuan dan kesejahteraan bagi masyarakat di Tapanuli Utara. Dengan terwujudnya desa yang unggul maka bangsa Indonesia pun dipastikan akan semakin makmur,” pungkas Erikson.

(Bersambung ke “Pilkades Serentak Tapanuli Utara, Erikson: Pilihlah yang Berkarakter Unggul!”)

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sulha Handayani