Netral English Netral Mandarin
22:11wib
Ahli patologi klinis Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Tonang Dwi Ardyanto menduga bahwa varian Omicron sudah masuk Indonesia. Sebanyak 10.000 buruh akan menggelar aksi unjuk rasa di tiga tempat, yakni Istana Kepresidenan, Mahkamah Konstitusi, dan Balai Kota DKI Jakarta, hari ini.
Fadli Zon Tak Percaya Ada Teroris di Indonesia, EK: Matamu Picek, Gak Tahu Ada Kasus Bom Thamrin

Jumat, 15-Oktober-2021 08:05

Fadli Zon
Foto : Indonesia Inside
Fadli Zon
30

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Gegara mengatakan tak percaya ada teroris di Indonesia, Eko Kuntadhi menyentil keras Fadli Zon.

“Fadli, silakan bicara ini di hadapan korban bom Bali I dan II. Di hadapan korban bom Marriott. Di hadapan korban bom gereja di Surabaya,” kata Eko Kuntadhi, Kamis malam 14 Oktober 2021.

“Matamu picek, gak tahu ada kasus Bom Thamrin. Bom Condet. Dan serangkaian aksi yang memakan korban,” imbuhnya.

Sebelumnya, Politisi Gerindra, Fadli Zon belakangan ini menuai sorotan publik lantaran mengusukan agar Densus 88 yang bertugas memberantas teroris di Indonesia dibubarkan. Menurut Fadli Zon, hal itu lantaran berdasarkan analisanya kemunculan Densus 88 hanya merugikan kalangan Islam yang 100 persennya menyasar umat Islam. 

Padahal di satu sisi, teroris dianggap hanya sebuah hal yang dibuat-buat demi kepentingan semata. Ia pun lantas mengungkapkan sejumlah keganjilan standar ganda definisi terorisme di Indonesia yang menurutnya tidak jelas. 

“Kita punya UU Nomor 5 tahun 2018, saya ingat sekali ketika itu pembahasan paling alot tentang definisi terorisme. Dan akhirnya di dalam itu jelas disebutkan teroris adalah orang yang mengunakan kekerasan serta ancaman kekerasan dengan sasaran korban luas yang mengakibatkan kehancuran terhadap obyek vital strategis, fasilitas publik, dengan motif ideologi politik dan keamanan,” ujar Fadli. 

Hal itu diungkapkan Fadli Zon saat tampil menjadi narasumber di program ‘Catatan Demokrasi’, seperti dilihat pada Kamis 14 Oktober 2021. 

Fadli Zon menjelaskan, dalam konteks separatisme juga disebutkan melibatkan senjata di mana ikut masuk dalam definisi terorisme. Artinya, kata Fadli, ada double standar soal terorisme di Tanah Air. Dan menurutnya hal itulah yang kemudian menjadi keliru. 

“Ini akhirnya yang jadi sasaran hampir 100 persen umat Islam, dan merugikan persatuan dan kesatuan. Padahal saya yakin Islam dimanapun di Indonesia itu moderat, menghargai agama lain. Dan itu yang terjadi,” tegasnya. 

Lebih lanjut, Fadli Zon juga berharap bangsa Indonesia tidak menjadi korban operasi intelijen yang dipakai jaringan-jaringan internasional untuk kegiatan kerja-kerjanya. Pasalnya, menurut Fadli, saat ini saja mereka sudah mulai meninggalkan kerja-kerja itu. 

Sebut saja soal Taliban, di mana Amerika Serikat bahkan sudah memberi keleluasaan dengan melakukan negosiasi kepada mereka dan kerjasama. 

“Makanya tweet itu mulanya dari situ (soal Densus), kita harus lihat secara kontekstual suasana zaman, karena war and teror sudah selesai, dan cuma jadi obyek bisnis luar biasa tanpa audit,” tuturnya. 

Mengutip Hops.id, terkait hal itu ia mengungkapkan bukti bahwa Amerika bahkan memberikan senjata-senjatanya serta pesaat-pesawatnya pada Taliban. 

Dan sejak dulu, Amerika memang pernah bekerja sama dengan Taliban dan AlQaeda saat sama-sama melawan komunisme Soviet, termasuk ISIS. 

Oleh karena itu, Fadli Zon menilai bahwa teroris sebenarnya tidak ada di Indonesia dan hanya dibuat-buat atau difabrikasi. 

“Jadi, jangan menari di gendang orang lain. Tidak ada teroris di Indonesia. Kalaupun ada bisa diselesaikan dengan cara lain. Kan sudah ada BIN, BNPT, dan Polisi, sudah lebih dari cukup itu. Kalau ini terus dilesatarikan jangan glorifikasi soal terorisme, karena teroris itu sebenarnya dibikin-bikin, dibuat-buat, difabrikasi,” ujarnya.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Nazaruli

Berita Terkait

Berita Rekomendasi