Netral English Netral Mandarin
01:14wib
Putri salah satu pendiri Microsoft, Bill Gates yakni Jennifer Gates, sudah resmi menikah dengan pacarnya. Ia menikah dengan pria muslim dari Mesir bernama Nayel Nassar. Tim bulu tangkis putri China menjadi juara Piala Uber 2020 setelah mengalahkan Jepang pada final yang berlangsung di Ceres Arena, Aarhus, Denmark, Minggu (17/10/2021) dini hari WIB.
Fahri Hamzah: Oposisi Sekongkol, Rakyat yang Tawuran

Sabtu, 04-September-2021 11:46

Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta dan Fahri Hamzah (kanan)
Foto : Istimewa
Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta dan Fahri Hamzah (kanan)
18

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah kembali menyerang partai oposisi di parlemen. Sejumlah narasi seperti 'oposisi planga plongo, oposisi penakut dan oposisi sontoloyo' digaungkan Fahri untuk mengkritik lemahnya peran oposisi di DPR.

Kali ini, Fahri menyebut 'oposisi sekongkol, rakyat tawuran'. Hal itu disampaikan dalam tulisan yang diunggah di situs pribadinya, Jumat (3/9/2021).

Pada tulisan itu, Fahri menyebut bahwa rakyat harusnya berhenti berpolitik dan gesek-gesekan setelah pemilu dan nyoblos.

Namun kenyataannya, lanjut Fahri, rakyat masih belum bisa hidup tenang, dipaksa untuk terus bertengkar hingga menjadi korban dari hiruk pikuk politik Tanah Air.

"Kita rakyat tidak harus bertengkar pasca pencoblosan. Politik seharusnya kembali normal setelah masa kampanye. Biar mereka, terutama yang menyebut diri partai oposisi yang bertengkar melawan eksekutif dan pendukungnya, bukan kita. Mereka enak berantem dapat duit, lah kita?" kata Fahri.

Kondisi ini, menurut Fahri, diakibatkan oleh absennya peran wakil rakyat di parlemen. Padahal, para legislator itu telah difasilitasi dan digaji dari uang rakyat serta memiliki hak imunitas.

"Tapi sayang semua diam, menyebut diri oposisi tapi ngomel gak karuan. Akhirnya kami dipaksa ikut pertengkaran," ujar mantan Wakil Ketua DPR itu.

"Jika kalian sepi kami cemas karena artinya ada persekongkolan. Kalian sekongkol rakyat tawuran," tandas Fahri Hamzah.

Berikut tulisan lengkap Fahri Hamzah, seperti dilihat netralnews.com, Sabtu (4/9/2021).

Oposisi Sekongkol, Rakyat yang Tawuran

Mengapa rakyat yang sudah nyoblos dan mengorbankan biaya pemilu trilyunan lalu menggaji wakilnya masih harus kelimpungan bahkan menjadi korban?

Mengapa rakyat tidak istirahat urus politik dan fokus cari kehidupan? Karena yang diberi amanah lalai dan sibuk pencitraan.

Rakyat harusnya berhenti berpolitik dan gesek-gesekan setelah pemilu dan nyoblos. Tapi kenapa terus terjadi sampai rakyat gak bisa hidup tenang?

Karena sistem perwakilan absen, kongresional yang tak dimengerti oleh parpol yang sudah duduk dapat fasilitas, gaji dan sekaligus KEKEBALAN.

Kita rakyat tidak harus bertengkar pasca pencoblosan. Politik seharusnya kembali normal setelah masa kampanye. Biar mereka, terutama yang menyebut diri partai OPOSISI yang bertengkar melawan eksekutif dan pendukungnya, bukan kita. Mereka enak berantem dapat duit, lah kita?

Begitulah sistem demokrasi bekerja, membagi fase-fase jadwal pemilu dan masa tenang, dan kalian digaji untuk bekerja dalam sistem itu.

Disuruh berantem ya berantem dong. Pakai semua fasilitas yang kami berikan. Jangan malah ajak kami keroyokan. Mana kerja kalian?

Kami rakyat sebenarnya pengen nonton saja sesekali, malam-malam atau pagi-pagi, sebuah panggung politik yang seru dan mencerdaskan, juga menyehatkan kehidupan dan perekonomian.

Tapi sayang semua diam, menyebut diri oposisi tapi ngomel gak karuan. Akhirnya kami dipaksa ikut pertengkaran.

Dalam sejarah demokrasi, semakin seru panggung negara dan dinamika di antara cabang-cabang kekuasaan, rakyat hidupnya tambah senang.

Lihat Taiwan, atau negara-negara tetangga yang mapan, parlemennya tawuran tapi rakyat makmur gak ketulungan. Lah kita malah rakyat tawuran di pinggir jalan.

Indikator sukses dinamika negara adalah apabila rakyat merasa ada keributan di ruang sidang parlemen. Sehingga rakyat tak harus mengisi ruang sidang parlemen jalanan.

Jika kalian sepi kami cemas karena artinya ada persekongkolan. Kalian sekongkol rakyat tawuran.

Sudahlah, masa ginian aja gak paham. Dan jangan sekali-kali nyalahin kami yang kasi jabatan dan gaji kalian.

Kami kerja di luar sistem, jangan bilang kami ikutan, kami hanya rakyat penonton panggung kalian, tidak bisa apa-apa kecuali teriakan di pinggir gelanggang. Sekian! 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati