Netral English Netral Mandarin
10:39wib
Pemerintah Indonesia kritik Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang luput menyoroti kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di negara-negara maju. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin pada Sabtu (25/9/2021) dini hari.
Filosofi Nanas dalam Kepemimpinan

Rabu, 28-Juli-2021 11:12

Dedi Mahardi, Author dan Inspirator
Foto : Istimewa
Dedi Mahardi, Author dan Inspirator
20

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Jika kita amati perkembangan negara Tiongkok dari masa ke masa dan sekarang maju pesat, setiap periode selalu memunculkan tokoh-tokoh pemimpin yang hebat dan menonjol. 

Lebih jelas lagi hal-hal yang perlu dipelajari dan contoh dari kemajuan negara Tiongkok ini terdapat pada buku best seller dunia China’s Megatrends

Poin terpenting dalam buku tersebut adalah pilar pembangunan sumber daya manusia yang mendorong semua pilar lainnya maju pesat. 

Memang membangun sumber daya manusia, skill dan knowledge, serta karakter, budaya, adab etika lebih penting dan lebih sulit. 

Karena membangun SDM tidak saja butuh ilmu tetapi juga butuh keteladanan serta kesadaran bersama. Berbeda dengan membangun fisik seperti gedung pencakar langit sekalipun hanya butuh ilmu dan teknologi.

Sementara di tengah bangsa ini yang dengan reformasi mencoba mengkoreksi kepemimpinan pak Harto dan Orde Barunya, namun apa yang terjadi setelah 23 tahun reformasi? 

Yang menonjol adalah kasus-kasus korupsi oleh para pejabat atau pemimpin yang dipilih oleh rakyat tersebut, pemimpin yang betul-betul sukses membangun dan memajukan daerahnya hanya bisa dihitung dengan jari atau satu dua saja. 

Baca Juga :

Angka kemiskinan dan jurang antara si miskin dengan si kaya tetap saja makin lebar, sehingga katanya jumlah total kekayaan 4 orang terkaya negeri ini setara dengan total harta 100 juta penduduk miskin. 

Para wakil rakyat yang seharusnya dapat menjadi corong yang menyuarakan kepentingan rakyat dan legislatif yang membuat undang-undang untuk kepentingan rakyat sepertinya belum bisa diharapkan. 

Janji-jani manis yang diumbar sewaktu kampanye, seperti pemberi harapan palsu atau PHP saja kata milenial sekarang. 

Mereka sepertinya hanya sibuk memikirkan diri mereka sendiri, sampai-sampai pada saat pandemi yang mengerikan ini masih ada wakil rakyat yang berteriak minta disediakan rumah sakit khusus pejabat. 

Pada sisi yang lainnya ada kasus mereka yang tidak jadi terpilih menjadi anggota dewan kemudian menarik kembali sumbangan yang telah mereka berikan sewaktu kampanye. 

Sehingga tidak heran jika jarang ditemukan mantan pejabat atau politisi yang naik kelas menjadi negarawan karena tidak banyak yang berupaya keras untuk berkontribusi membangun atau memberikan sesuatu untuk bangsa dan negara. 

Hal tersebut sejalan dengan sesuai teori hirarkan Maslow yang hirarki tertingginya adalah transcendence yaitu kebutuhan dalam diri seseorang untuk memberi atau berkontribusi. 

Sedangkan hirarki yang masih butuh materi atau belongingness need ada pada urutan ke enam atau masuk katagori kelompok bawah. 

Hal ini dibuktikan dengan banyak orang yang setelah kaya raya dan terkenal serta memiliki segalanya tetapi masih belum puas dan mencari kepuasan atau kebahagian. 

Bagi yang ketemu jalan baik maka mereka akan berubah menjadi sangat dermawan, tetapi yang salah jalan malah kejebak ke dunia narkotika dan obat-obat terlarang.

Apa yang dapat dilakukan rakyat melihat fenomena di atas? 

Pertama yang dapat dilakukan adalah lebih jeli memilih dan memilah mereka dalam pemilu, dapat dengan cara melihat track record atau jejak digital mereka. 

Yang kedua ikut mendorong lewat media sosial agar muncul ke permukaan orang-orang terbaik dan punya jejak jujur serta berprestasi. 

Tidak mendukung atau memberikan dukungan terhadap berita atau konten yang pamer kemewahan karena gaya hidup mewah atau hedonis tersebut disinyalir jadi pemicu korupsi. 

Dengan ikut mendukung dan menonton acara-acara yang pamer hidup mewah tersebut, sama artinya ikut menghambat upaya mencegah dan mengurangi praktek korupsi.

Nah berangkat dari permasalahan di atas, penulis mencoba mengambil pelajaran atau filosofi dari buah nanas. 

Siapa tahu dengan menulis filosofi buah nanas ini dapat menginspirasi pembaca untuk ikut serta membantu memunculkan orang-orang jujur berintegritas dan berkapasitas di negeri ini. 

Apa saja filosofi yang tersimpan pada buah nanas? 

Karena banyak orang yang ingin mendapatkan kekuasaan atau mahkota hanya karena ingin mendapatkan manfaat/fasilitas bukan mau memberi manfaat kepada pihak lain atau pihak yang dipimpinnya. 

Berbeda dengan nanas, mahkotanya muncul seiring dengan tumbuhnya buah yang memberi manfaat kepada manusia.

Filosofi dari Nanas:

1. Manfaat nenas tidak saja mengandung zat yang dapat menyehatkan berupa vitamin C tetapi juga mengandung zat yang dapat mencegah osteoporosis/tulang keropos. 

Artinya sebagai pemimpin tidak hanya membangun tetapi juga berfungsi mencegah terjadinya kerusakan lingkungan dan kerusakan rakyat yang dipimpinnya.

2. Mahkotanya tumbuh berbarengan dengan buahnya. Artinya lambang kekuasaan atau kewenangannya muncul seiring dengan manfaat yang diberikannya. 

Ketika buah rusak atau busuk maka mahkota juga akan layu karena sumber makanannya melewati buah. 

Begitu jugalah dengan kekuasaan atau kewenang seorang pemimpin yang akan layu dengan sendirinya ketika tidak lagi mampu memberi manfaat.

3. Berduri banyak di samping buah, juga di daunnya sehingga pihak lain perlu hati-hati yang memberi filosofi kepada pihak lain bahwa pemimpin tersebut pantas dihargai dan dihormati. Pemimpin jangan sampai dilecehkan atau disepelekan oleh siapapun.

4. Buah dan mahkotanya selalu berdiri tegak ke atas, artinya kekuasaan dan kewenangan serta apa-apa yang diberikan atau diperbuat harus diingat semuanya itu kelak akan dipertanggungjawabkan kepada Yang Maha Kuasa.

5. Mengupas buah nanas butuh kehati-hatian dan ketelitian. Jika terlalu tebal sayatannya maka daging nanasnya terbuang. Sedangkan jika terlalu tipis sayatannya maka aka sulit membuang biji matanya. 

Begitu juga dengan pemimpin yang harus hati-hati dalam bersikap dan bertindak, karena standar pemimpin tersebut bukan lagi pada tataran salah benar tetapi lebih tinggi yaitu pantas tidak pantas, patut, atau tidak patut.

6. Bonggol buah nanas yang ada didalam mahkota buah tersebut sangat baik untuk obat berbagai penyakit seperti asam urat dan kolesterol dan sebagainya. Artinya fungsi pemimpin juga memperbaiki yang rusak agar tidak bertambah rusak.

7. Sebelum bisa memakan nanas, seseorang orang harus membuang dulu biji mata yang mengelilingi buah nanas artinya seseorang atau pemimpin harus terlebih dulu membersihkan segala yang dimakannya dari yang tidak halal atau yang tidak baik.

8. Buah nanas akan lebih enak jika dimakan dengan garam atau dengan bumbu atau dijadikan rujak bercampur dengan buah-buahan yang lain. 

Artinya kolaborasi atau kerja sama dengan pihak lainnya akan memberi manfaat lebih. Sebagai pemimpin harus bisa membangun kerjasama dengan berbagai pihak untuk kepentingan yang lebih besar dan lebih baik.

9. Air nanas mengandung alkali atau basa sehingga sangat bagus untuk menjaga pH tubuh agar tidak asam karena tubuh yang asam rentan kena penyakit. Bisa juga nanas dipotong-potong lalu disiram air panas, setelah itu airnya diminum. 

Analoginya jika disamakan dengan pemimpin adalah keringat atau hasil karya pemimpin tersebut akan sangat bermanfaat untuk rakyat.

Demikian tulisan ini dibuat untuk dapat menginspirasi kami dan pembaca agar mengisi waktu dan kesempatan yang tersisa dengan ibadah dan perbuatan bermanfaat. 

Sehingga di akhirat kelak timbangan kebaikannya jauh lebih banyak dari pada timbangan keburukan atau kejahatannya…, Amiiin yra.

Jakarta, 27 Juli 2021

Penulis: Dedi Mahardi
Inspirator-inovator-Author 

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto