Netral English Netral Mandarin
23:58 wib
Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto menggugat pemerintah Indonesia membayar ganti rugi sebesar Rp56 miliar terkait penggusuran dalam proyek pembangunan Tol Depok-Antasari di Jakarta Selatan. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono mengonfirmasi bahwa Kabareskrim Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo akan dilantik Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) jadi Kapolri pada Rabu (27/1).
FPI Sengaja Tunggu Mobil Polisi Sebelum Penembakan, FH: Menantang?

Jumat, 08-January-2021 20:30

Ferdinand Hutahaean.
Foto : Twitter @FerdinandHaean3
Ferdinand Hutahaean.
10

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Ferdinand Hutahaean ikut mengomentari hasil penyelidikan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang menyebut ada pelanggaran HAM dalam penembakan yang menewaskan enam laskar FPI.

Menurut Ferdinand, pernyataan Komnas HAM yang menyebuat penyebab terjadinya penembakan karena keputusan laskar FPI untuk menunggu mobil polisi, karena mereka bisa  saja lari menjauh atau kabur dari kejaran. Ferdinand merasa penungguan itu sebagai pentung menantang kepada aparat penegak hukum. 

“Menantang?” tandas Ferdinand di akun Twitternya, Jumat (8/1/2021).



Sebelumnya, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengungkap hasil investigasinya terkait tewasnya 6 laskar FPI di Km 50 Tol Jakarta-Cikampek (Japek). Berdasarkan penyelidikan Komnas HAM, terungkap fakta adanya peristiwa laskar FPI sempat menunggu mobil polisi yang melakukan pembuntutan.

"Terdapat konteks kesempatan untuk menjauh oleh mobil FPI dari petugas, namun malah mengambil tindakan menunggu mobil petugas. Jadi setelah kami crosscheck voice note terus melihat titik-titik di lapangan terus juga melihat linimasa salah satu temuannya di samping eskalasi adalah terdapat konteks kesempatan untuk menjauh oleh mobil FPI dari mobil petugas, namun malah mengambil tindakan untuk menunggu mobil petugas tersebut," kata Komisioner Komnas HAM Choirul Anam dalam jumpa pers, di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (8/1/2021).

Choirul mengungkapkan antara mobil laskar FPI yang mengawal Habib Rizieq Shihab dan mobil polisi sempat berjarak saat keluar dari pintu Tol Karawang Timur. Dua mobil laskar FPI kala itu memiliki kesempatan untuk menjauh, tapi justru memilih menunggu.

"Kedua, mobil FPI berhasil membuat jarak dan memiliki kesempatan untuk kabur dan menjauh namun mengambil tindakan untuk menunggu. Akhirnya mereka bertemu kembali dengan mobil petugas K-9143-EL serta dua mobil lainnya, yaitu B-1278-KJG dan B-1739-PWQ," tuturnya.

Karena itu, menurutnya, fakta tersebut berperan penting dalam rangkaian peristiwa Km 50. Sebab, menurut Choirul, peristiwa menunggu tersebut menjadi pemicu kasus Km 50 yang menewaskan 6 laskar FPI.

"Soal proses ditunggu itu, kenapa ditunggu itu dan sebagainya penting bagi kita semua, dengan asumsi begini, kalau nggak ada proses menunggu peristiwa Km 50 tidak akan terjadi," ujarnya.

"Karena ditunggu makanya peristiwa gesekan macam-macam, tembak-menembak sampai Km 50, sampai ke atas itu nggak akan terjadi kalau itu nggak ditunggu. Nah itu menurut kami satu standing yang cukup penting," sambung Choirul.

Reporter : Dimas Elfarisi
Editor : Irawan HP