Netral English Netral Mandarin
20:43wib
Putri salah satu pendiri Microsoft, Bill Gates yakni Jennifer Gates, sudah resmi menikah dengan pacarnya. Ia menikah dengan pria muslim dari Mesir bernama Nayel Nassar. Tim bulu tangkis putri China menjadi juara Piala Uber 2020 setelah mengalahkan Jepang pada final yang berlangsung di Ceres Arena, Aarhus, Denmark, Minggu (17/10/2021) dini hari WIB.
Fraksi PKS Nilai Pertumbuhan 7,07 Persen Janggal dan Aneh

Selasa, 10-Agustus-2021 18:20

Anggota Fraksi PKS DPR RI, Hermanto
Foto : Istimewa
Anggota Fraksi PKS DPR RI, Hermanto
9

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Anggota Badan Anggaran DPR dari Fraksi PKS Hermanto menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 7,07 persen pada Quartal ke-2 (Q-II) 2021 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) terasa janggal dan aneh.

Hermanto mengatakan, pada kuartal I-2021 pertumbuhan ekonomi masih terkontraksi minus 0,74 persen. Namun di Q-II 2021 mendadak naik menjadi 7,07 persen.

Padahal, ungkap Hermanto, aktivitas ekonomi dan bisnis tengah mengalami pelemahan akibat kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dimana Pemerintah gencar-gencarnya melakukan pembatasan dan pengetatan mobilitas orang, barang dan transportasi.

Untuk itu, ia meminta pemerintah menjelaskan secara akurat faktor apa yang menyebabkan meroketnya pertumbuhan ekonomi.

“Pemerintah perlu menjelaskan secara akurat faktor apa yang menyebabkan meroketnya pertumbuhan ekonomi tersebut,” ucap Hermanto dalam keterangan tertulisnya, Selasa (10/8/2021).

“Pertumbuhan ekonomi mendadak tinggi yang tidak dapat dijelaskan secara akurat akan menyebabkan kondisi ekonomi Indonesia bisa masuk katagori economy bubble growth, dimana terjadi respon emosional secara mendadak berupa kenaikan harga dan aset yang dinilai tidak wajar dalam suatu kondisi ekonomi yang bersifat anomali karena kebijakan PPKM,” paparnya.

Menurut Hermanto, banyak faktor anomali yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi pada masa PPKM.

“Faktor anomali pertumbuhan tersebut antara lain penerapan nol persen pajak pembelian mobil atau diskon PPnBM 0 persen, meningkatnya pembelanjaan sektor kesehatan karena covid-19 dan pertumbuhan ekonomi sektor digital,” ungkap Hermanto.

“Namun faktor pertumbuhan ekonomi seperti itu tidak berdampak pada trickle down effect sehingga hanya membentuk gelembung ekonomi sesaat dan dapat diperkirakan dalam waktu singkat bisa kempes mendadak,” tambahnya.

Pertumbuhan ekonomi sesaat seperti itu, lanjutnya, tidak berdampak pada sektor riil ekonomi rakyat karena aktivitas ekonomi rakyat dan bisnis tidak menggeliat.

“Apalagi pemerintah melakukan kebijakan penutupan pasar, mal, pusat perbelanjaan modern dan keramaian perdagangan dilapis rakyat, ujar Hermanto.

Bersamaan itu, tambahnya, terjadi pemutusan hubungan kerja yang berakibat semakin besarnya jumlah pengangguran. “Investasi berkurang berakibat lapangan kerja menurun dan ekonomi sektor informal tutup disetiap daerah,” ujar Hermanto.

Secara agregat pendapatan masyarakat berkurang. Akibatnya daya beli masyarakat melemah.

“Masyarakat selama PPKM hanya mengandalkan tabungan yang saat ini juga mengalami penipisan,”ucap legislator dari Dapil Sumbar I ini.

“Satu-satunya peluang ekonomi yang masih diharapkan saat PPKM adalah sektor pertanian,” pungkas Hermanto anggota Komisi IV DPR ini.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Wahyu Praditya P