Netral English Netral Mandarin
00:19 wib
Uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Kapolri akan digelar pada Rabu (20/1/2021). Polda Metro Jaya menjadwalkan pada Rabu (20/1/2021) gelar perkara terkait kasus dugaan pelanggaran protokol kesehatan (prokes) dalam acara ulang tahun Ricardo Gelael yang dihadiri Raffi Ahmad.
FZ: Entengnya Ngaku Pancasila, Begitu Ada Pembantaian Enam Anggota FPI Pura-pura Lupa Sila Kedua

Kamis, 10-December-2020 12:20

Politisi Gerindra, Fadli Zon
Foto : Istimewa
Politisi Gerindra, Fadli Zon
13

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Politisi asal Gerindra, Fadli Zon menyoroti kasus penembakan anggota FPI oleh petugas kepolisian di Jalan Tol Jakarta-Cikampek, Senin (7/12/2020) dini hari lalu.

Aksi penembakan oleh polisi tersebut mengakibatkan tewasnya enam orang anggota laskar FPI.

"Kadang orang ngomong dg entengnya, "Saya Pancasila". Tapi begitu ada pembunuhan n pembantaian thd 6 anggota FPI, pura2 lupa sila "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab". Sdh tidak adil n tidak beradabnya keadaan kita," kata Fadli Zon dalam akun Twitternya @fadlizon.



Sebelumnya dalam diskusi daring Center of Study for Indonesian Leadership (CSIL), Selasa (8/12/2020) lalu, anggota DPR RI ini melihat tidak ada penyesalan atau pun ucapan bela sungkawa dari aparat maupun pejabat negara atas tewasnya enam orang Laskar Khusus FPI, pengawal Habib Rizieq Shihab akibat ditembak.

Menurut dia, hal itu menandakan pemerintah kian bersikap otoriter karena menggunakan kekuatan berlebih hingga menewaskan warga sipil.

Fadli Zon mendorong FPI menuntut keadilan atas kasus ini. Jika tidak ini akan menarik Indonesia pada posisi terbelakang dalam urusan demokrasi.

"Ini harus ada satu langkah untuk menuntut keadilan karena kalau tidak ini akan menarik demokrasi kita mundur semakin ke belakang, tidak bisa lagi Indonesia dikatakan negara demokrasi," ucapnya saat itu 

"Otoritarianisme bisa dimulai dari sini karena tidak sedikitpun terlihat rasa penyesalan, kemudian kita tidak melihat adanya belasungkawa dari tokoh, aparat, dari pejabat tinggi negara," tambah dia.

Sebagaimana diketahui, enam orang laskar pengawal Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) meninggal dunia setelah ditembak aparat. FPI menilai tindakan ini merupakan pelanggaran HAM berat karenanya akan ditempuh upaya hukum agar kasus ini tidak lolos.

Sementara itu, Polda Metro Jaya mengatakan penembakan terhadap enam orang tersebut terpaksa dilakukan karena mereka mencoba membahayakan nyawa petugas di lapangan.

Reporter : Wahyu Praditya P
Editor : Sesmawati