Netral English Netral Mandarin
16:00 wib
Tersiar informasi bahwa Kejaksaan Agung memeriksa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan karena adanya unrealized loss investasi. Dibalik suksess harum bumbu masak mi instan indomie ternyata ada Hj Nunuk Nuraini yang kemarin, Rabu, (27/1/2021), tutup usia.
FZ Minta Pangdam dan Kapolda Metro Dicopot, Ruhut: Urusan TNI dan Polri Kau Campuri, Ngaca!

Kamis, 10-December-2020 07:40

Politisi Ruhut Sitompul
Foto : Istimewa
Politisi Ruhut Sitompul
11

 

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Politisi Ruhut Sitompul meminta Fadli Zon untuk menutup mulutnya yang disebut Sudah lancang meminta Panglima Kodam Jaya dan Kapolda Metro Jaya untuk dicopot.

Menurut Ruhut, hal tersebut bentuk tindakan ikut campur urusan rumah tangga TNI dan Polri Karena pencopotan tersebut adalah urusan internal Kapolri dan Panglima TNI.



"Fadli Zon tolong jaga congor kau kalau bicara, siapa kau maunya Pangdam Jaya????????Kapolda Metro Jaya dicopot jangan coba2 urusan Rumah Tangga TNI????POLRI kau campuri ngaca ! MERDEKA????????." Tulis Ruhut di akun Twitternya, Kamis (10/12/2020).

Sebelumnya, anggota DPR dari Fraksi Gerindra Fadli Zon mendesak agar Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran dan Pangdam Jaya layak Mayjen TNI Dudung Abdurachman segera dicopot dari jabatannya.

"Kapolda Metro n Pangdam Jaya memang layak segera dicopot," cuit Fadli di akun Twitter resmi miliknya @fadlizon seperti dikutip, Rabu (9/12/2020).

Pernyataan Fadli Zon terkait dengan peristiwa tembak mati enam orang anggota Front Pembela Islam (FPI) yang tengah bertugas menjaga Habib Rizieq Shihab Senin (7/12/2020).

Melalui akun Twitternya @fadlizon pada Selasa (8/12/2020), dia menyampaikan kicauannya ini setelah pemberitaan yang menyebutkan jika terbukti bersalah dalam kematian enam anggota FPI maka pencopotan Kapolri dan Kapolda patut dicopot.

Di channel YouTube nya, Fadli Zon Official yang berjudul "6 Anggota FPI Ditembak Polisi, Usut Tuntas," politisi ini juga menyindir dan mempertanyakan tindakan polisi melakukan penembakan kepada enam anggota FPI ini.

"Nyawa kelihatannya begitu murah dengan tembakan peluru dari kepolisian, padahal peluru itu datangnya juga dari rakyat, dibiayai oleh rakyat, dan tidak boleh kemudian peluru itu juga menghadang kepada rakyat," ungkapnya, Selasa (8/12/2020).

Fadli juga kemudian juga mempertanyakan apakah tindakan kepolisian ini telah sesuai dengan SOP (Standard Operating Procedure) yang telah ada. Dimana menurutnya mengikuti atau membuntuti rakyat sipil seperti Habib Rizieq tanpa melalui prosedur yang benar.

Reporter : Dimas Elfarisi
Editor : Sesmawati