Netral English Netral Mandarin
11:02 wib
Uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Kapolri akan digelar pada Rabu (20/1/2021). Polda Metro Jaya menjadwalkan pada Rabu (20/1/2021) gelar perkara terkait kasus dugaan pelanggaran protokol kesehatan (prokes) dalam acara ulang tahun Ricardo Gelael yang dihadiri Raffi Ahmad.
Kadrun Cebong Sama Saja, Tukang Fitnah Suka Ghibah

Sabtu, 19-December-2020 11:36

Birgaldo Sinaga menyatakan bahwa gak Kadrun gak Cebong sama saja, tukang fitnah suka ghibah
Foto : Istimewa
Birgaldo Sinaga menyatakan bahwa gak Kadrun gak Cebong sama saja, tukang fitnah suka ghibah
10

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Lagi ramai di facebook dan twitter cebong ngebully saya. Isinya hujatan.

Bermula dari Rahma Sarita. Mantan presenter TV One, Metro TV dan Jak TV.

Rahma blunder bikin postingan Pancasila Versi Wakanda. Postingan receh murahan yang sejatinya hanya cocok dikeluarkan dari orang-orang receh juga.

Atas postingan receh itu, Rahma dipecat dari tenaga ahli oleh Ibu Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR.

Surat pemecatan RS itu saya posting di akun FB saya di sini beberapa hari lalu. (https://www.facebook.com/1820404924838978/posts/2728151354064326/).

Sebenarnya, RS sudah diberi warning  oleh Bu Lestari beberapa kali.

Saya berkomunikasi dengan Bu Lestari soal RS. Sebelumnya, postingan RS soal tewasnya anggota laskar FPI juga bikin polemik. Diberi warning. Lalu dihapus RS.

Jauh sebelumnya, saat acara deklarasi KAMI, RS juga ada di sana.  Diminta klarifikasi atas kehadirannya, RS berkilah sebagai jurnalis. Oke masuk akal.

Tapi, postingan soal Pancasila versi Wakanda itu tidak bisa ditolerir lagi oleh Bu Lestari. RS langsung dipecat.

Nah, saya ikut kena getahnya. Viralnya RS ini berdampak pada saya. Nggak ada angin gak ada hujan, saya dihujat dan dibully habis sama cebong.

Bermula dari foto makan siang di meja makan. Dalam foto itu ada Rocky Gerung, Said Didu, Rahma Sarita, dan saya.

Jadilah saya bulan-bulanan para cebong yang menuduh saya sudah jadi kadrun. Apalagi FP KataKita mencopas tulisan Sudrun Sugiono. Seperti si Sudrun ini. Bangsat elu Drun.

Begini ceritanya Drun...

Pada 2015 dan 2016, saya sering diundang JakTV sebagai narsum dalam program debat.

Saya sebagai pendukung Ahok berdebat  dengan narsum yang kontra Ahok. Saya debat dengan Said Iqbal Presiden KSPI pernah. Debat kasus Sumber Waras pernah dengan Rahmat HS, Wakil Ketua Bamus Betawi.

Nah hostnya itu Rahma Sarita. RS yang memandu program debat itu. Di sanalah saya kenal RS.

Pada 11 Oktober 2019, RS mengundang saya untuk tampil dalam program barunya.

Saya diundang debat melawan Rocky Gerung. Temanya apalagi kalo bukan soal Jokowi. Saya terima undangannya.

Pada 12 Oktober 2019, pukul 11 Siang, saya datang ke Meruya. Sebuah rumah putih bekas kantor Check & Richeck dijadikan studio. Tepatnya bekas kantor Check & Richeck milik wartawan senior Ilham Bintang.

Saya datang tepat waktu. Di sana sudah hadir RG. Saya naik ke atas ruangan kantor Ilham Bintang.  RG dan Ilham Bintang sedang bercakap-cakap saat saya masuk ruangannya.

Di sana, kami ngobrol sekitar 30 menit. Obrolan ngalor ngidul.

Pukul 12 siang, taping debat dimulai. Host RS sudah memanggil kami turun.

Debat pun dimulai. Di sana, saya membela Jokowi habis2an. Rocky menyerang Jokowi. Tentu dengan ciri khas Rocky, hajar terus dengan permainan kata-kita berbalut logika.

Silahkan lihat debatnya di sini:

https://m.youtube.com/watch?v=xi0tCLwAvOI

https://www.facebook.com/Hiburannusantararaya/videos/474474979943959/

Usai debat 1 jam itu, wartawan senior Ilham Bintang mengundang kami menikmati masakan istrinya. Masakan gulai kepala ikan sudah disiapkannya di rumahnya. Rumahnya tidak jauh dari studio. Masih di seputaran Meruya.

Habis debat itu, Said Didu muncul. Ia juga akan taping dalam sesi debat lain juga.

Tapi karena jam makan siang,  Said Didu juga ikut makan siang bersama kami di rumah  Ilham Bintang.

Tentu, saya menghormati undangan makan siang itu. Sebagai tanda silaturahmi. Bahwa, saya dan RG berbeda pikiran soal negara ini, itu lain soal.

Saya dididik ayah saya seorang polisi Brimob, jangan pernah gentar dan takut pada lawan siapapun.  Tentu lawan dalam nilai prinsip hidup.

Tentang gagasan ideal bangsa dan negara kita.

Maka, saya tidak pernah gentar berhadapan muka dengan Rocky Gerung. Atau dengan pengacara kondang Hotman Paris Hutapea. Atau juga turun ke jalanan melawan FPI dan 212. Atau juga masuk Petamburan yang dibilang angker itu. Saya jabanin. Gak takut.

Soal berkelahi, sejak kecil sudah saya cicipi di Asrama Polisi Medan. Jadi hal biasa saya dikelilingi  musuh atau lawan. Biasa saja. Yang penting, saya tahu dan mengerti untuk apa saya berjuang melawan mereka.

Ayah saya selalu bilang, sebenci-bencnya kamu sama musuhmu, dia juga manusia. Bukan binatang. Maka perlakukan dia sebagai manusia.

Nasihat ayahku ini selalu saya pegang. Maka tak ada ekspresi berlebihan pada perasaan saya saat mendengar tewasnya 6 anggota laskar FPI itu.

Kata ayahku, jangan meludahi atau mengencingi musuh yang sudah kamu tembak mati. Begitulah ayahku saat bertempur di medan petempuran melawan bandit.

Oh ya, di meja makan itu, kami ngobrol layaknya sesama anak bangsa bersaudara. Rocky orangnya humoris. Lucu. Kami ngobrol tentang banyak hal.

Satu yang saya ingat soal cerita Rocky dengan Rizal Ramli. Kisah betapa Rizal Ramli itu gak bisa berkutik kalo sama Rocky. Ada rahasia mereka berdua yang hanya Rocky pegang.

Selebihnya, saya mendengar kisah perjalanan hidup Bang Ilham Bintang. Cerita tentang teman-teman sepergerakannya saat muda dulu. Juga cerita nostalgia Rocky Gerung saat dulu melawan Soeharto.

Usai makan siang, dilanjutkan sesi foto-foto kenang-kenangan. Ada cucu Bang Ilham Bintang di sana ingin foto dengan Rocky. Habis foto-foto, saya pulang.

Sejatinya, saya malas menulis hal ini. Gak penting banget. Habis waktu dan energi saya.

Tapi karena kebohongan dan agitasi kalo dibiarkan terus  akan menjadi kebenaran maka dengan terpaksa saya menuliskannya.

So, buat kalian cebong tapi berotak kadrun, bertobatlah mulai detik ini. Tak ada guna gayamu berlagak kayak seorang pembela demokrasi, hukum, keadilan, kebenaran kalau pikiranmu 11 12 dengan orang-orang yang kau ejek nista itu. Sama saja kau sebenarnya. Cebong berotak kadrun.

Ngerti Drun...

Salam perjuangan penuh cinta

Penulis: Birgaldo Sinaga



Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto