Netral English Netral Mandarin
22:41wib
LSI Denny JA menilai, PDI Perjuangan berpotensi akan mengalami kekalahan jika mengusung Ketua DPR Puan Maharani sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden 2024 mendatang. Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia menegaskan fasilitas kesehatan di Indonesia bisa tumbang dalam 2-4 minggu jika pengendalian pandemi tidak diperketat.
GAMKI Sayangkan Tuduhan dan Ujaran Kebencian Tengku Zulkarnain

Selasa, 02-Februari-2021 10:40

Mantan Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia MUI, Tengku Zulkarnain
Foto : Istimewa
Mantan Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia MUI, Tengku Zulkarnain
12

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Bidang Hubungan Gereja dan Lembaga Keumatan Andriyas Tuhenay mengatakan, pihaknya sangat menyayangkan tuduhan dan ujaran kebencian yang dinyatakan Tengku Zulkarnain. 

Pernyataan yang dimaksud adalah: "Apalagi jika yang arogan minoritas. Ngeri melihat betapa kini Ulama dan Islam dihina di NKRI". 

 

"Pernyataan ini sangat meresahkan dan dapat memecah-belah persatuan masyarakat yang saat ini sedang berjuang bersama menghadapi tantangan Pandemi Covid-19," kata dia pada Netralnews, Selasa (2/2/2021).

 

Pernyataan ini disampaikan Andriyas menanggapi ujaran dari Pegiat Media Sosial Permadi Arya atau akrab disapa Abu Janda dan Tengku Zulkarnain pada Senin 1 Februari 2021.

Diketahui dia, laporan polisi terhadap Abu Janda terkait "Islam arogan" berawal dari perang cuitan (twit war) pada tanggal 24 Januari 2021 antara Abu Janda dan Tengku Zulkarnain. 

Pada twit war tersebut, Tengku Zulkarnain mengatakan "di mana mana negara normal tidak boleh mayoritas arogan terhadap minoritas. Apalagi jika yang arogan minoritas. Ngeri melihat betapa kini Ulama dan Islam dihina di NKRI" yang kemudian direspon Abu Janda dengan mengatakan "yang arogan di Indonesia itu adalah Islam sebagai agama pendatang dari Arab kepada budaya asli kearifan lokal". 

"Dalam ketatanegaraan, Indonesia tidak mengenal istilah mayoritas dan minoritas, karena di dalam Undang-Undang Dasar 1945, dinyatakan bahwa semua warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum. Namun diksi mayoritas minoritas sering dipakai untuk menggambarkan tentang persentase agama, suku, ataupun golongan tertentu," jelas dia.

GAMKI menyimpulkan yang dimaksud Tengku Zulkarnain dalam twitnya sebagai mayoritas dan minoritas adalah terkait agama, karena dalam kalimat berikutnya Tengku Zulkarnain mengatakan "ngeri melihat betapa kini Ulama dan Islam dihina di NKRI". 

Menurutnya, secara jelas dan gamblang, Tengku Zulkarnain menyatakan bahwa "yang arogan minoritas". Minoritas yang dimaksud menurutnya antara lain agama Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, dan penghayat kepercayaan seperti Sunda Wiwitan, Batak Parmalim, Ugamo Bangsa Batak, Sapto Darmo, Marappu, dan lainnya. 

Dijelaskan dia, Konghucu diakui menjadi agama resmi negara baru pada tahun 2000 melalui Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000. Penghayat kepercayaan memiliki kedudukan hukum yang sama dengan pemeluk enam agama yang diakui pemerintah, dalam memperoleh hak terkait administrasi kependudukan baru pada tahun 2017 setelah Mahkamah Konstitusi mengabulkan permohonan uji materi terkait aturan pengosongan kolom agama pada Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP). 

"Pernyataan Tengku Zulkarnain yang mengatakan bahwa "Apalagi jika yang arogan minoritas. Ngeri melihat betapa kini Ulama dan Islam dihina di NKRI" sangat tendensius dan memiliki muatan kebencian dan permusuhan terhadap individu ataupun kelompok tertentu (SARA), padahal berdasarkan fakta di atas, beberapa agama dan penghayat kepercayaan dalam beberapa tahun terakhir masih berupaya memperjuangkan haknya di mata hukum," jelas dia.

Dia lanjutkan, Agama Kristen tidak pernah mengajarkan pemeluknya untuk arogan, melainkan harus mengasihi sesama, toleran, serta dilarang untuk membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan membalas kejahatan dengan kebaikan. Agama Kristen juga tidak pernah mengajarkan untuk menghina agama ataupun pimpinan umat agama lainnya. 

"Kami juga yakin bahwa semua agama dan kepercayaan lainnya di Indonesia tidak pernah mengajarkan tentang arogansi ataupun menghina agama lainnya melainkan mengajarkan tentang kebaikan dan kasih terhadap sesama," kata dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli