Netral English Netral Mandarin
07:34wib
Enam belas tim telah memastikan lolos ke babak 16 besar Euro 2020 (Euro 2021) usai berlangsungnya matchday terakhir penyisihan grup, Kamis (24/6) dini hari WIB. Sejumlah daerah di provinsi Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta masuk kategori zona merah atau wilayah dengan risiko tinggi penularan virus corona (covid-19) dalam sepekan terakhir
GAMKI: Tengku Zulkarnain Harusnya Diproses Hukum Seperti Abu Janda

Selasa, 02-Februari-2021 11:12

Eks wasekjen MUI Tengku Zulkarnain.
Foto : Twitter
Eks wasekjen MUI Tengku Zulkarnain.
15

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Apabila Pegiat Media Sosial Permadi Arya atau akrab disapa Abu Janda diproses hukum terkait ujaran 'Islam Arogan' maka Tengku Zulkarnain seharusnya juga diproses karena ujaran "Yang Arogan Minoritas".

Demikian disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Bidang Hubungan Gereja dan Lembaga Keumatan Andriyas Tuhenay dalam keterangan tertulisnya pada Netralnews, Selasa (2/2/2021).

Pernyataan ini disampaikan GAMKI, meminta mengedepankan pendekatan restorative justice untuk terwujudnya keadilan yang rekonsiliatif.

"Jika Abu Janda diproses hukum karena mengatakan "yang arogan di Indonesia itu adalah Islam", maka seharusnya dengan logika dan dasar hukum yang sama, Tengku Zulkarnain juga harus diproses hukum karena telah menyatakan "Apalagi jika yang arogan minoritas. Ngeri melihat betapa kini Ulama dan Islam dihina di NKRI"," jelas dia.

GAMKI mengharapkan kepolisian dapat menegakkan hukum seadil-adilnya, karena seharusnya dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak ada yang merasa kebal hukum. Pasalnya, siapapun orang ataupun kelompok yang melanggar hukum, wajib diproses oleh aparat penegak hukum. "Baik orang tersebut adalah Abu Janda, ataupun Tengku Zulkarnain," sambung dia.

GAMKI tegaskan, pihaknya sangat menyayangkan tuduhan dan ujaran kebencian yang dinyatakan Tengku Zulkarnain. Pernyataan yang dimaksud adalah: "Apalagi jika yang arogan minoritas. Ngeri melihat betapa kini Ulama dan Islam dihina di NKRI".

"Pernyataan ini sangat meresahkan dan dapat memecah-belah persatuan masyarakat yang saat ini sedang berjuang bersama menghadapi tantangan Pandemi Covid-19," kata dia.

Diketahui dia, laporan polisi terhadap Abu Janda terkait "Islam arogan" berawal dari perang cuitan (twit war) pada tanggal 24 Januari 2021 antara Abu Janda dan Tengku Zulkarnain.

Pada twit war tersebut, Tengku Zulkarnain mengatakan "di mana mana negara normal tidak boleh mayoritas arogan terhadap minoritas. Apalagi jika yang arogan minoritas. Ngeri melihat betapa kini Ulama dan Islam dihina di NKRI" yang kemudian direspon Abu Janda dengan mengatakan "yang arogan di Indonesia itu adalah Islam sebagai agama pendatang dari Arab kepada budaya asli kearifan lokal".

"Dalam ketatanegaraan, Indonesia tidak mengenal istilah mayoritas dan minoritas, karena di dalam Undang-Undang Dasar 1945, dinyatakan bahwa semua warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum. Namun diksi mayoritas minoritas sering dipakai untuk menggambarkan tentang persentase agama, suku, ataupun golongan tertentu," jelas dia.

GAMKI menyimpulkan yang dimaksud Tengku Zulkarnain dalam twitnya sebagai mayoritas dan minoritas adalah terkait agama, karena dalam kalimat berikutnya Tengku Zulkarnain mengatakan "ngeri melihat betapa kini Ulama dan Islam dihina di NKRI".

Menurutnya, secara jelas dan gamblang, Tengku Zulkarnain menyatakan bahwa "yang arogan minoritas". Minoritas yang dimaksud menurutnya antara lain agama Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, dan penghayat kepercayaan seperti Sunda Wiwitan, Batak Parmalim, Ugamo Bangsa Batak, Sapto Darmo, Marappu, dan lainnya.

"Kami juga melihat perlunya kita membangun keguyuban dan kerukunan sebagai satu bangsa. Maka kami meminta kepolisian dapat mengedepankan pendekatan "restorative justice" dalam menyelesaikan persoalan terkait ujaran Tengku Zulkarnain dan Abu Janda demi terwujudnya keadilan yang rekonsiliatif di tengah masyarakat dan bangsa Indonesia," harap dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli