Netral English Netral Mandarin
17:42wib
Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumatera Selatan membuka posko pengaduan bagi masyarakat yang merasa pernah menjadi korban dugaan penipuan oleh anak bungsu Akidi Tio, Heriyanty. Pesawat Kepresidenan ganti warna cat dari biru langit menjadi merah putih. Pergantiam cat itu menuai pro kontra.
Geger PT TMI, Perusahaan Misterius di Kantor Prabowo, Netizen: Gak Kebayang kalau Dia Jadi Presiden

Senin, 31-Mei-2021 08:56

Menhan Prabowo Subianto
Foto : Jawa Pos
Menhan Prabowo Subianto
11

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Warganet ramai gunjingkan kabar adanya perusahaan misterius dalam Kementerian Pertananan yang mengelola dana pengadaan alutsista dengan an ggaran besar.

Di akun FB mak Lambe Turah, sejumlah netizen malah mengait-ngaitkan dengan Pilpres 2024.

MLT: “Waduh....waduhh....si Dahnil mana nih.”

Al Said Yousouf: “Mantab Prabowo membangun negara dalam negara, negara kecil itu bernama Dephan, yang punya badan usaha pencari dana sendiri bernama TMI, yang punya pasukan sendiri bernama kopwalsus.”

Sutrisno Susilo: “Klu benar yo di usut lah.”

Hack: “Wekekekekek bagi2 jatah berjemaah ... kaya semakin kaya . Miskin semakin miskin wkekekekkek.”

Yopi Saputra: “Ga kebayangkan kalo dia jadi presiden.”

Sebelumnya diberitakan, Kementerian Pertahanan di bawah Menhan Prabowo Subianto diterpa isu tidak sedap karena memiliki Perusahaan Terbatas (PT) di lingkungan internalnya, yakni PT Teknologi Militer Indonesia (TMI).

PT TMI disebut-sebut memiliki kuasa untuk melakukan pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista). Nilainya fantastis, mencapai Rp. 1.760 triliun. Informasi ini diberikan oleh salah satu anggota Komisi I DPR RI, yang menangani pertahanan kepada Analisis Militer Connie Rahakundini Bakrie.

"Kita dalam bahaya lho, kita punya anggaran yang harus habis di 2024, pengadaan alutsista jumlahnya kalau dirupiahkan Rp 1.760 triliun," kata Connie saat diskusi dengan Akbar Faisal dalam akun YouTubenya, Akbar Faisal Uncensored, dikutip Jumat (28/5/2021).

Angka ini berasal dari sebuah dokumen yang bernama renstra (rencana strategis) 2020-2024. Uniknya, renstra tersebut memuat secara detil angka-angka yang ada, misalnya kapan sebagian anggaran habis dan digunakan. Semua tampak pada tayangan YouTube Akbar Faisal Uncensored.

Adapun rincian angka fantastis tersebut ada pada pasal 7 ayat 2:

a. untuk akuisisi Alpalhankam sebesar USD 79.099.625.314

b. untuk pembayaran bunga tetap selama lima renstra sebesar USD 13.390.000.000

c. untuk dana kontijensi serta pemeliharaan dan perawatan Alpalhankam sebesar USD 32.505.274.686

Ayat 3

Renbut sebagaimana dimaksud pada ayat 1 telah teralokasi sejumlah USD 20.747.882.720 pada Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah Khusus Tahun 2020-2024.

Pasal 3 Ayat 4

Selisih dari Renbut sejumlah USD 104.247.117 280 yang akan dipenuhi pada Renstra Tahun 2020-2024.

Anggaran tersebut harus habis dalam waktu sekitar 2,5 tahun lagi, namun belum terlihat secara jelas akan kemana perginya anggaran sebesar itu. Kemenhan juga belum membuka road map maupun masterplan alutsista yang akan dibeli.

Apalagi, Connie menyebut TNI dari beberapa Asisten Perencanaan dan Anggaran (asrena) yang mewakili matra tiap angkatan belum mengetahui akan pergi kemana anggaran tersebut. Padahal, seharusnya prajurit di lapangan yang menentukan alutsista apa yang bakal digunakan

"Harusnya pengadaan alutsista bottom-up, misalnya saya komandan skuadron, saya tahu kurang apa, masalah apa, kapan harus diganti dengan detil. Konstalasi atau ancaman apa yang akan diambil, bisa dibayangkan tiba-tiba angka keluar tapi asrena nggak tahu," sebutnya.

Usut punya usut, ternyata ada satu perusahaan di bawah kendali Kemhan yang bakal menangani pengadaan alutsista dengan nilai proyek sebesar itu, yakni PT. TMI. Connie menyebut perusahaan itu yang menjadi pengendali tunggal untuk beragam aspek, mulai dari Naval, Len, darat, laut, udara, cyber hingga termasuk peralatan pakaian. Seperti praktek monopoli.

"Keesokan harinya satu Jenderal telpon, kawan saya di salah satu Kementerian/Lembaga. Dia bilang, saya mau undang Mba karena saya di PT TMI," kata Connie.

Connie menyebut Kemenhan telah membantah pernyataannya soal kehadiran PT. TMI. Namun, Ia membuktikannya sendiri dengan langsung datang ke lokasi kantor PT yang seolah 'misterius' ini.

Sayang, ekspektasi besarnya mengenai perusahaan ini tidak tercapai ketika melihat gedung dan hal-hal mendasar lainnya terlihat kurang. Misalnya petunjuk ruang komisaris yang masih dalam bentuk kertas biasa, padahal perusahaan ini mengurusi anggaran sebesar Rp 1.760 triliun.

Jubir Kemenhan Dahnil Anzar Simanjuntak akhirnya mengungkapkan soal PT TMI yang memang benar adanya. Melalui surat resmi bernomor B/2099/M/XI/2020 tertanggal 16 November 2020 yang ditandatangani Menhan Prabowo menyatakan bahwa PT. TMI berada di bawah kendali Kemenhan.

"Izinkan saya menginformasikan bahwa mulai Desember 2019, Kementerian Pertahanan Republik Indonesia telah mendirikan beberapa perusahaan yang dikendalikan langsung oleh Kementerian Pertahanan melalui landasan pengembangan sumber daya pertahanan. Di antaranya adalah PT Teknologi Militer Indonesia," tulisnya dalam paragraf pertama.

Pada paragraf kedua tertulis Tujuan PT TMI adalah untuk mempercepat, mengimplementasikan, dan mempercepat proyek dan akuisisi penting di bidang teknologi pertahanan, dan hal-hal terkait yang berkaitan dengan pertahanan, termasuk pentingnya transfer peralatan teknologi dan transaksi countertrade.

"Para eksekutif perusahaan ini sekarang ditunjuk langsung oleh saya. Saat ini, Pimpinan PT TMI dijabat oleh Mayor Jenderal (Ref) Glenny Kairupan, sedangkan Presiden Direktur dan CEO PT TMI dijabat oleh Engineer Harsusanto," tulis Prabowo. cnbcindonesia.com

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati