Netral English Netral Mandarin
02:49wib
Ebrahim Raisi dinyatakan sebagai presiden terpilih Iran setelah penghitungan suara pada Sabtu (19/6/2021). Koordinator Tim Pakar sekaligus Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito terkonfirmasi positif Covid-19 menyusul aktivitasnya yang padat dalam dua pekan terakhir ini.
Geram Dianggap Kerja Nol Besar, Said Didu: Saya Masuk BUMN Labanya Baru Rp27 T Saat Keluar Laba Rp159 T, Sekarang?

Kamis, 29-April-2021 17:51

Muhammad Said Didu
Foto : Istimewa
Muhammad Said Didu
7

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Muhammad Said Didu tidak terima dirinya disebut orang yang tak bisa berbuat apa-apa. Pasalnya, saat ia berkecimpung di lembaga BUMN, keuntungan mencapi Rp27 Triliun dan meningkat lagi menjadi Rp159 Triliun. 

Pernyataan itu disampaikan setelah seorang netizen dengan nama akun Ujo @Ujo96077685 secara kurang sopan menilai Said Didu secara sembrono. 

“Bapa cuma jago bac*t praktek Nol besar waktu jadi pejabat sdh buat apa pa biat negara...sakit jgn berkepanjangan sakit nya tuh disini pa Said....,” kata akun Ujo.

Said Didu pun membalas dingin:

“Tidak buat apa2.  Cuma saat saya masuk BUMN labanya baru Rp 27 trilyun dan saat keluar laba naik jadi Rp 159 trilyun. Apalagi kalau buat2 apa2, mungkin meroket. Sekaran ruginya berapa ya?  Silakan lanjutkan sakitnya,” tegas Didu.

Untuk diketahui, perjalanan karir Didu cukup panjang. Menukil catatan Viva.co, ia merintis kariernya di pemerintahan namun ia diberhentikan dari perusahaan BUMN karena terlalu kritis kepada penguasa. 

Bahkan untuk leluasa mengkritik, ia mengundurkan diri sebagai pegawai negeri.

Pria kelahiran Pinrang, Sulawesi Selatan, 2 Mei 1962 ini bernama Muhammad Said Didu. Lulus SMA, ia kuliah di Jurusan Teknik Industri di Institut Pertanian Bogor (IPB). Ia menggondol gelar insinyur pada tahun 1985.

Terkait pendidikannya ini, Said Didu menuntaskannya hingga meraih gelar doktor di kampus yang sama dengan predikat Summa Cum Laude.

Namun, untuk kariernya, ia memulai sebagai birokrat di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada tahun 1987. Ia merintis kariernya secara berjenjang dari bawah.

Di BPPT, jabatannya pun merangkak naik. Dari staf, peneliti, pimpinan proyek, Direktur Teknologi Agroindustri hingga menjadi Tim Ahli Tim Ahli Menristek/Kepala BPPT pada 2004.

Karier birokratnya makin moncer saat Said Didu diangkat menjadi Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Ia menjalaninya sebagai sekertaris BUMN dari tahun 2005-2010.

Di tengah kesibukannya sebagai orang nomor dua di Kementerian BUMN itu, Said Didu juga dipercaya dengan beberapa jabatan penting.

Di antaranya, sebagai Komisaris Independen PTPN IV periode 2006-2008, Komisaris Utama PTPN IV pada 2008, dan Komisaris PT Bukit Asam Tbk (PTBA) 2015.

Selain itu, di masa kabinet Kerja Jokowi, Said Didu menjadi Staf Khusus Menteri ESDM Sudirman Said pada 2014. Setelah Sudirman Said dicopot pada 2016, Said Didu pun mundur dan mulai terlihat kritis terhadap kebijakan penguasa.

Lewat akun media sosialnya, Said Didu yang pakar dalam bidang energi ini makin tersohor sebagai pengritik pemerintah.

Kritikannya tak hanya soal kebijakan pemerintah soal energi seperti Freeport, tapi juga terhadap kebijakan politik lainnya. Akibatnya, Said Didu diberhentikan dari Komisaris PT Bukit Asam Tbk pada 2018.

Bahkan untuk leluasa mengkritik pemerintah, Said Didu yang sudah mengabdi 32 tahun 11 bulan 24 hari ini mengajukan pengunduruan diri sebagai pegawai negeri per 13 Mei 2019.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati