Netral English Netral Mandarin
16:29wib
LSI Denny JA menilai, PDI Perjuangan berpotensi akan mengalami kekalahan jika mengusung Ketua DPR Puan Maharani sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden 2024 mendatang. Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia menegaskan fasilitas kesehatan di Indonesia bisa tumbang dalam 2-4 minggu jika pengendalian pandemi tidak diperketat.
Gereja Sedih dengan Label 'Teroris', Sudah Banyak Warga Sipil Jadi Korban Salah Sasaran, Veronica Koman: Keuskupan Timika Paling Progresif

Rabu, 05-Mei-2021 10:56

Veronica Koman
Foto : Kolase Netralnews
Veronica Koman
5

TIMIKA, NETRALNEWS.COM - Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Veronica Koman menanggapi polemik di media sosial terkait keterkaitan dan sikap gereja Katolik terhadap keputusan Pemerintah RI menyebut KKB dan OPM sebagai teroris. 

Menurutnya, sikap gereja Katolik (Keuskupan Timika) secara jelas menyatakan keprihatinan dengan segala tindak kekerasan yang akhirnya harus ditanggung oleh umat manusia yang sekaligus adalah umat Tuhan. 

Sebelum keputusan label “teroris” dibuat, sudah berulangkali warga sipil ikut menjadi korban salah sasaran dalam operasi militer.

Sementara tanggapan Veronica sebenarnya ditujukan kepada akun Komunitas Garis Lucu. Dalam konteks itu, Veronica menyebut sikap Keuskupan Timika paling progresif.

“Padahal yang disuarakan mimin (admin akun Komunitas Garis Lucu, red) memang sudah sejalan dengan suara Keuskupan Timika,” kata Veronica, Rabu 5 Mei 2021. 

“Menurut saya, Keuskupan Timika adalah keuskupan di Papua yang paling progresif dan nyata kerjanya untuk rakyat,” imbuh Veronica.

Sementara akun Komunitas Katolik Garis Lucu @KatolikG mencuit: “Gaes, ada yang mau jadi admin KGL untuk gantikan salah satu admin kontroversi? Mules kita. Gegara dia,  @KatolikG diserbu Netijen. Kalau ada coba kasih contoh ngetwit yang lucu di sini, ya. Serius ini!”

Sikap Keuskupan Timika

Sebelumnya diberitakan Jubi.co.id, Gereja Katolik Keuskupan Timika yang wilayah pelayanannya meliputi daerah-daerah yang selama ini banyak terjadi konflik seperti Kabupaten Puncak dan Intan Jaya, mengaku sangat prihatin atas peristiwa-peristiwa kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini, terutama pada minggu-minggu terakhir.

Keuskupan Timika juga menyatakan menolak dengan tegas label teroris kepada TPN-PB sebagai organisasi teroris oleh Pemerintah Republik Indonesia, melalui Menko Polhukam, Mahfud MD, pada Kamis (29/4/2021).

Administrator Keuskupan Timika, Pastor Marthen Kuayo, Pr mengaku sedih dan menyesal atas tanggapan Presiden Jokowi yang memerintahkan aparat keamanan untuk menangani konflik di Papua.

“Hal itu akan berdampak lebih buruk karena sebelum ada perintah langsung dari presiden dan penetapan KKB (TPN-PB OPM) sebagai teroris, sudah banyak sekali korban dari pihak masyarakat sipil yang ditembak mati karena disangka atau dikira sebagai anggota TPN-PB yang ternyata salah tembak,” katanya.

Kuayo mencontohkan ketiga orang Papua yang tewas diduga dibunuh di RSUD Kabupaten Intan Jaya, sebulan yang lalu. Contoh lain, orang dengan gangguan jiwa bernama Kuligi Mirip yang diduga ditembak mati di Dugusiga, Intan Jaya, oleh aparat keamanan gabungan (TNI/Polri) dan diberitakan sebagai anggota KKB.

“Kekerasan bersenjata sudah lama terjadi di Papua. Tahun 2018 kekerasan tersebut menguat lagi setelah peristiwa kekerasan terhadap pekerja jembatan di Kabupaten Nduga. Kekerasan yang sama terus berlanjut termasuk yang terjadi di sepanjang April 2021 di Kabupaten Puncak,” katanya.

Sampai hari ini, kata dia, perkembangan situasi di Papua seperti di Nduga dan secara khusus di Kabupatan Intan Jaya dan Puncak menjadi tidak menentu, akibat konflik bersenjata.

“Banyak umat dan masyarakat sipil (asli Papua dan non-Papua) terdampak dari konflik di atas. Mereka ketakutan, mereka pergi meninggalkan rumah, pekerjaan, mereka pergi meninggalkan kampung halamannya dan mencari tempat-tempat perlindungan yang lebih aman. Sebagaian dari mereka juga telah menjadi korban keganasan baik oleh pihak keamanan gabungan (TNI/Polri) maupun oleh pihak TPN-PB OPM,” katanya.

Koordinator SKPKC Keuskupan Timika, Saul Wanimbo menambahkan, pimpinan keamanan dan para pemimpin TPN-PB OPM agar menahan diri dan segera melakukan genjatan senjata dan bersama-sama mencari jalan penyelesaian yang lebih bermartabat, lebih manusiawi, terbuka, dialogis dan saling manghargai.

“Pemerintah Joko Widodo dan pimpinan keamanan agar mengevaluasi pendekatan penyelesaian konflik di Papua yang selama ini digunakan. Karena sudah cukup lama pendekatan yang sama digunakan dan sampai hari ini, konflik dan kekerasan tidak selesai bahkan terkesan lebih buruk dari sebelumnya,” ujar Saul.

Menurutnya pimpinan pemerintah dan agama di seluruh tingkatan agar tetap menjadi pembina yang baik dan bijaksana, untuk terus berupaya membina warganya menjadi lebih baik. “Bisa berkembang ke depan, dan bukan sebaliknya berupaya untuk menjadikannya menjadi lebih buruk dan menderita,” ujarnya. 

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Wahyu Praditya P