Netral English Netral Mandarin
banner paskah
01:44wib
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyetujui penggunaan izin darurat (emergency use authorization/EUA) vaksin Covid-19 Sinopharm dengan efikasi 78,1 persen. Satgas Penanganan Covid-19 menyatakan bahwa mudik Lebaran 2021, baik itu jarak jauh maupun jarak dekat, tetap ditiadakan.
Heboh! Hantu-Hantu Berdatangan Panjatkan Doa di Rumah Munarman

Kamis, 22-April-2021 19:10

Ilustrasi malam dengan diterangi bulan sabit
Foto : CNN Indonesia
Ilustrasi malam dengan diterangi bulan sabit
15

PURWOREJO, NETRALNEWS.COM – Bulan sabit bergerak malas menuju ufuk Barat. Lintang bertaburan digerayangi gumpalan awan putih menghias langit cerah.

Sungguh indah suasana malam hari jauh dari keramaian kota. Kekayaan langit terlihat mulia dibanding gemerlapnya dunia.

Namun, mungkin hanya nikmat bagi pemuja sepi dan keheningan hidup. Bagi yang mengagungkan keramaian kota, tentu saja, keindahan suasana kampung di pelosok kota justru mendatangkan siksa batin.

Munarman (64) kini siap menapaki usia senjanya. Ia memutuskan kembali ke kampung halaman setelah puluhan tahun merantau dari mulai Jawa Barat, Jakarta, Palembang, hingga pernah ditugaskan di Banjarmasin.

Baca Juga :

Ia mencurahkan pengabdiannya sebagai PNS di bawah Kementerian Kesehatan selama lebih dari 30 tahun. Kini ia ingin menikmati masa tuanya di kampung halaman tercintanya, Purworejo, Jawa Tengah.

“Saya lahir di salah satu desa di Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo. Besar di desa ini lalu kuliah di Purwokerto, dan lolos sebagai PNS tahun 1972. Ya, sudah pensiun beberapa tahun lalu. Sekarang mau menikmati hari tua, kembali ke kampung halaman,” tutur Munarman.

Saat ini ia sudah menginjak bulan ke tujuh sejak keluarganya semua diajak mendiami rumah tua warisan mendiang kakek buyutnya.

“Sudah sempat lama rumah tua buyut saya ini kosong. Lalu saya renovasi sekitar setahun yang lalu. Selama saya bangun, saya mondar-mandir Jakarta-Purworejo untuk mengawasinya hingga selesai,” lanjut Munarman.

Jejak rumah tua yang disebut Munarman masih terlihat. Di tengah ada dua soko guru dari kayu nangka mengkilat dan terlihat kokoh. Di atasnya susunan kayu-kayu nangka kecoklatan semakin meninggalkan kesan sakral.

Itulah uniknya rumah joglo peninggalan leluhur Munarman. Kini sudah indah dengan dipadu polesan kekinian. Namun siapa sangka bahwa di balik rumah ini, Munarman sempat menemukan fenomena mistis dan gaib?

“Saat pertama menginap di awal pembangunan. Malam hari, saat terang bulan sabit seperti malam ini, saya menyaksikan sendiri penampakan yang dibilang mengerikan juga iya tapi juga tidak,” katanya.

Malam itu, Munarman selesai membeli bahan matreal untuk memulai pembangunan. Karena sudah tahunan tak ditinggali sejumlah sisi atap bocor dan dinding kayu banyak yang sudah lapuk.

Kesan seram tentu saja ada di hati Munarman. Namun, pengalaman hidupnya membuatnya bisa membedakan mana yang perlu ditakuti, dihindari, dilawan, atau cukup dirasakan.

“Aneh, takut, tapi juga takjub. Campur bawur. Ya gimana, malam itu saya melihat banyak sosok putih berdatangan seperti seorang kakek-kakek berambut dan berjenggot putih. Jumlahnya ada tujuh orang. Semua masuk ke runah tengah dan berkumpul mengitari meja kayu,” tutur Munarman.

“Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.00. Saya sendirian. Lampu penerangan masih terbatas dan tak semua ruangan dipasang bohlam. Saya pun hanya tidur berlas tikar pandan di ruang depan. Sementara anak dan istri saya belum saya bawa. Jadi, saat melihat kedatangan mereka yang tiba-tiba dan tanpa permisi, saya sempat kaget dan hanya bengong,” lanjut Munarman.

Yang lebih aneh, menurutnya, sosok-sosok itu datang seperti melayang dan bergerak pasti seolah mereka sudah saling mengenal. Setelah berkumpul di ruang tengah, mereka seolah melakukan gerak badan sedang berdoa bersama.

“Tangan di dada. Semua menundukkan kepala. Lalu ada lantuman doa. Tidak keras namun terdengar di telinga saya alunan berbahasa jawa kromo inggil (bahasa jawa halus, red). Adegan itu berlangsungsekitar 15 menit,” tutur Munarman sambil mengerutkan dahi.

Namun, di menit selanjutnya, Munarman kaget karena tiba-tiba mereka semua mengangkat muka dan menengok semuanya ke arah Munarman.

“Kaget dan takut, tiba-tiba wajah misterius yang semuanya serba tua berbaju putih itu menatap ke aras saya. Anehnya lagi. Seolah ada kekuatan yang memerintah saya untuk langsung menundukkan kepala, memejamkan mata, dan mengucapkan sejumlah kalimat permisi minta izin untuk membangun rumah ini,” lanjutnya.

Asalamualaikum, nedha dipuntepangaken, kula Munarman, putra Akhmad Basirun. dados pewaris sah dalem puniki, nedha izin dhateng para leluhur supados dipunoarengaken dandosaken griya puniki lan badhe kulo dadosaken papan penggenan kula kaliyan lare lan garwa kula. matur nuwun . Wasalamualaikum… (Asalamualaikum, mohon perkenalkan, saya Munarman, putra Akhmad Basirun. Sebagai pewaris sah rumah ini, mohon izin kepada para leluhur agar diperkenankan memperbaiki rumah ini  dan akan menjadi tempat tinggal saya beserta anak dan istri saya. Terima kasih. Wasalamualaikum).  Kira-kira begitu kalimat spontan yang keluar di hati dan mulut saya,” tutur Munarman.

“Anehnya, saat saya buka mata, mereka semua seolah mengangguk lalu tersenyum dengan posisi masih melihat ke arah saya. Beberapa detik kemudian mereka saling perpandangan, lalu kembali melakukan doa sambil mengucap bahasa kromo inggil yang tidak bisa saya pahami. Disusul kemudian saling mengangguk, membalikkan badan dan pergi meninggalkan ruang tengah. Saya sendiri masih bengong melihat mereka,” tutur Munarman.

“Saya sendiri tak bisa menjawabnya apakah itu sosok hantu-hantu penghuni rumah ini atau jin yang menguji saya. Istri dan anak-anak saya sih bilang itu jin penghuni rumah ini,” kata Munarman.

Namun dalam hati, Munarman juga sempat berpikir jangan-jangan merekalah para leluhur keluarga besarnya.

“Atau mungkinkan  mereka leluhur yang sedang menguji siapa penerus mereka yang akan menempati rumah,” kata Munarman yang menyebutkan bahwa rumah warisan di mata keluarga besarnya dianggap sebagai “rumah pusaka”.

“Jadi,  di satu sisi saya merasa bersyukur. Seolah kejadian itu menjadi isyarat saya diperkenankan. Makanya,  saya merasakan proses pembangunan rumah dan pindahan berlangsung sangat lancar. Kami menempatinya pun terasa nyaman dan adem,” pungkas Munarman.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto