Netral English Netral Mandarin
19:30wib
Partai Ummat  menyinggung dominansi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam evaluasi tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo. China kembali menggertak Amerika Serikat setelah Presiden Joe Biden menyatakan bahwa ia akan membela Taiwan jika Negeri Tirai Bambu menyerang.
Harga Minyak Mentah Turun di Akhir Perdagangan

Sabtu, 21-Agustus-2021 08:05

Ilustrasi Kilang Minyak
Foto : Istimewa
Ilustrasi Kilang Minyak
21

NEW YORK, NETRALNEWS.COM - Harga minyak mentah turun pada akhir perdagangan Jumat (20/8/2021) atau Sabtu (21/8/2022) pagi mencatat kerugian mingguan yang nyata. 

Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) pengiriman September kehilangan 1,37 dolar AS atau hampir 2,2 persen menjadi menetap 62,32 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange (NYMEX). 

Sedangkan, jenis Brent untuk pengiriman Oktober turun 1,27 dolar AS atau 1,9 persen menjadi ditutup pada 65,18 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. 

Untuk minggu ini, patokan harga minyak mentah AS jatuh 8,9 persen, sementara Brent turun 7,7 persen. 

Kemunduran terjadi karena para pedagang khawatir bahwa penyebaran cepat varian Delta dari COVID-19 akan memperlambat pemulihan permintaan. 

"Kami melihat penurunan harga ini berlebihan. Sejauh ini, kekhawatiran permintaan yang bertanggung jawab untuk itu, sebagian besar hanya ada di benak para pelaku pasar," kata Carsten Fritsch, analis energi Commerzbank Research, dalam sebuah catatan pada Jumat (20/8/2021). 

"Terlepas revisi turun IEA dari perkiraan permintaan seminggu yang lalu, tidak ada data yang benar-benar kuat untuk mengonfirmasi hal ini," tambahnya, seperti dilansir Xinhua. 

Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan dalam laporan bulanannya, yang diawasi ketat dan dirilis minggu lalu, pertumbuhan permintaan tiba-tiba berbalik arah pada Juli setelah kenaikan nyata pada Juni, "dan prospek untuk sisa tahun 2021 telah diturunkan karena perkembangan yang memburuk dari pandemi dan revisi data historis." 

Pengawas energi internasional juga membayangkan akan ada surplus pasokan yang cukup besar pada tahun depan jika OPEC+ tetap pada rencananya dan sepenuhnya membalikkan pengurangan produksinya.

Reporter : Antara
Editor : Nazaruli