Netral English Netral Mandarin
18:23wib
Kasus Covid-19 di Indonesia kembali menunjukkan adanya tren peningkatan. Polisi tidak menilang pengendara mobil-mobil mewah yang sengaja berhenti di Tol KM 02.400 Andara (Jalan Tol Depok-Antasari), Minggu (23/1/2022).
Harusnya Ada Perwakilan Syiah hingga Ahmadiyah di MUI, Ade: Semua Aliran Harus Terwakili

Kamis, 25-November-2021 08:15

Ade Armando
Foto : Antara
Ade Armando
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dosen Universitas Indonesia, Ade Armando berpendapat bahwa agar demokratis, MUI semestinya membuka perwakilan bagi semua aliran dalam Islam. 

Ia juga membagikan tautan video Channel CSW dalam Cokro TV yang mengulas dan berpandangan bahwa semestinya ada perwakilan Syiah, Ahmadiyah, hingga perguruan tinggi di dalam MUI.

“MUI memang seharusnya tidak menjadi lembaga politik. MUI seharusnya menjadi perkumpulan ulama yang memberi panduan bagi umat Islam secara jujur. Semua spektrum aliran dalam Islam harus terwakili,” kata Ade Armando, Kamis 25 November 2021.

Untuk diketahui, shelter Civil Society Watch (CSW) seperti diunggah Ade Armando merupakan corong CSW yang dibentuk dengan tujuan membantu membangun masyarakat sipil yang kuat yang memang dibutuhkan dalam proses demokratisasi dan penyejahteraan rakyat Indonesia. 

Masyarakat sipil di sini merujuk pada kelompok-kelompok masyarakat yang berada di luar pemerintah, parlemen, pengadilan, lembaga-lembaga negara dan dunia bisnis.

Baru-baru ini CSW menyampaikan pandangannya menanggapi munculnya seruan pembubaran MUI usai terindikasi adanya tokoh radikal di dalamnya.

CSW membagikan pandangannya dalam video berjudul “MUI SEHARUSNYA DIISI JUGA WAKIL SYIAH, AHMADIYAH DAN PERGURUAN TINGGI.”

Sementara secara terpisah sebelumnya diberitakan, Ustaz Adi Hidayat atau UAH baru-baru ini ikut berkomentar terkait desakan tagar Bubarkan MUI atau Majelis Ulama Indonesia. Desakan terkait permintaan pembubaran MUI muncul pasca anggota Komisi Fatwa MUI Ahmad Zain An-Najah ditangkap Densus 88 Antiteror.

Menanggapi pernyataan sejumlah pihak yang mendesak MUI dibubarkan, Adi Hidayat menyebut cara bertutur meraka perlu diluruskan.

"Itu jadi PR untuk diluruskan, bukan untuk didialogkan atau dipikirkan, karena mereka mengeluarkan statmen tidak dengan fikiran. Jadi kita meresoponnnya tidak dengan jalan fikiran, karena enggak nyampe ke otaknya," kata Ustaz Adi Hidayat dalam tayangan Youtube Adi Hidayat official yang tayang 19 November lalu seperti dilansir Suara.com.

Kata dia, MUI misalnya khususnya di Komisi Fatwa khususnya dikesankan disusupi oleh paham terorisme lalu MUI dibubarkan. UAH mengaku tidak membayangkan jika konsep bertutur itu dijalankan.

"Kalau kita ambil dalam skema berfikir kemudian diterapkan dalam skema logika, maka akan hancur implementasinya. Semua yang disusupi oleh yang jelek bubarkan komunitasnya," ungkapnya.

Ustaz Adi Hidayat mencontohkan jika hal tersebut diterapkan dalam sejumlah lembaga bisa bdibubarkan juga.

"Pejabat dari kampus A misal korupsi maka bubarkan kampusnya. Dari partai A korupsi maka bubarkan partainya, bisa kebayang enggak?," urainya.

Dan puncaknya, lanjut Ustaz Adi Hidayat, ada oknum penegak hukum jual senjata ke KKB, lalu buburkan penegak hukumnya, bubarkan instansinya.

"Saya masih tidak kebayang presiden berbuat salah, bubarkan presidennya," ujarnya.

Memastikan kembali pernyataannya, desakan MUI dibubarkan itu bukan berasal dari fikiran. Kata Adi Hidayat, Statment itu tidak masuk akal namun masuknya ke nafsu dan ia menjelaskan reaksi apa yang harus dilakukan.

"Cara bertutur seperti ini harus dibalas secara tuturan saja. Artinya perlu pembinaan dengan tuturan, sikap," pungkasnya.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Wahyu Praditya P

Berita Terkait

Berita Rekomendasi