Netral English Netral Mandarin
06:27 wib
Indonesia menempatkan dua wakilnya di final Yonex Thailand Open 2021 di Impact Arena, Bangkok, Minggu (17/1) siang. Kedua wakil berasal dari sektor ganda putri dan ganda campuran. Sebanyak enam orang meninggal akibat banjir dan tanah longsor yang terjadi Sabtu (16/1/2021), di sembilan kecamatan dan 33 kelurahan di Kota Manado, Sulawesi Utara, jadi daerah terdampak.
Hasil Pemeriksaan Komnas HAM Soal FPI Seperti Buah Simalakama, FH Malah Bilang Begini 

Selasa, 05-January-2021 20:57

Ferdinand Hutahaean
Foto : Istimewa
Ferdinand Hutahaean
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Politisi Ferdinand Hutahaean (FH) merasa apapun hasil yang akan diungkapkan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) tentang tewasnya laskar Front Pembela Islam (FPI), selamanya akan menjadi polemik.

Menurut Ferdinand, jika hasilnya menyalahkan Polri maka pendukung pemerintah tidak akan percaya. Sebaliknya jika kesimpulannya menyatakan tidak ada pelanggaran, maka giliran pendukung FPI yang tidak akan percaya, seperti buah simalakama.

“Masalahnya, pendukung Polri dan Pendukung Pemerintah tak akan percaya hasil pemeriksaan Komnas HAM bila kelak menyalahkan Polri. Demikian jg bila kesimpulan menyatakan tdk ada pelanggaran, maka kaum pendukung FPI tak akan percaya. Dan kesimpulan akan terus jd polemik. @KomnasHAM,” tulis Ferdinand di akun Twitternya, Selasa (5/1/2021).



Sebelumnya diberitakan bahwa Komnas HAM bersama ahli psikologis forensik hari ini memeriksa rekaman terkait peristiwa tewasnya 6 laskar FPI yang terjadi di KM 50 Tol Jakarta-Cikampek. Komnas HAM mengaku mempunyai versi lengkap rekaman suara kejadian tersebut.

"Yang jelas kami punya rekaman yang lebih lengkap dibandingkan yang beredar di sosial media ataupun yang beredar di media yang lain begitu," ujar Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara kepada wartawan di Komnas HAM, Jalan Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (5/1/2021).

"Kalau yang ada di WhatsApp sekitar 22 menit begitu, terus ada rekaman juga sekitar 3 menitan, berarti sekitar 25 menit," imbuhnya.

Beka mengatakan, rekaman tersebut menjadi dasar bagi Komnas HAM untuk menyimpulkan kronologi peristiwa yang menyebabkan tewasnya 6 pengikut Habib Rizieq Shihab (HRS).

"Kemudian menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi, misalnya soal apakah sebelumnya ada persiapan atau tidak," lanjut Beka.

Selain itu, kata Beka, kesimpulan Komnas HAM juga didasarkan pada penelusuran-penelusuran di tempat kejadian perkara (TKP), baik dari versi kepolisian maupun dari versi FPI. Juga pada hasil rekonstruksi versi Komnas HAM.

"Kami diskusi menyusuri dari jalan tol, kemudian keluar jalan tol, terus berbagai TKP-TKP baik itu versinya FPI maupun versinya kepolisian juga temuan-temuan Komnas," jelas Beka.

 

Diberitakan sebelumnya, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) masih mendalami terkait insiden penembakan antara polisi dan pengikut Habib Rizieq Shihab yang terjadi di Km 50 Tol Jakarta-Cikampek (Japek). Kali ini Komnas HAM melibatkan ahli psikologi forensik untuk mendalami voice note yang ada saat insiden tersebut.

"Melakukan pendalaman bersama ahli psikologi forensik soal pendalaman voice note," kata komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara saat dihubungi tim detikcom melalui pesan singkat, Selasa (5/1/2021).

Beka mengatakan ada satu ahli dari psikologi forensik yang dilibatkan. Nantinya, kata dia, ahli tersebut akan diajak berdiskusi bersama untuk mendalami voice note terkait insiden penembakan tersebut.

Kemudian, terkait perkembangan dari rekonstruksi kejadian yang dilakukan kemarin, Beka menyebutkan masih akan menyusun laporannya terlebih dahulu.

"Ini jadi bahan kami menyusun laporan dan membuat kesimpulan serta rekomendasi," ucap Beka.

Reporter : Dimas Elfarisi
Editor : Sesmawati