Netral English Netral Mandarin
01:33wib
Partai Ummat  menyinggung dominansi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam evaluasi tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo. China kembali menggertak Amerika Serikat setelah Presiden Joe Biden menyatakan bahwa ia akan membela Taiwan jika Negeri Tirai Bambu menyerang.
Hebat, SDM PKH Ini Bantu KPM Dapat Omzet Rp 30 Juta Per Bulan

Minggu, 29-Agustus-2021 20:15

Pendamping PKH Yuni Fatmawati
Foto : Tangkapan Layar Youtube Linjamsos Kemensos
Pendamping PKH Yuni Fatmawati
19

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ada kabar membanggakan dari Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Temanggung yang bernama Yuni Fatmawati. Dia membantu Keluarga Penerima Manfaat (KPM) bisa memperoleh omzet sebesar Rp 30 Juta per bulan.

Wanita berlatarbelakang pendidikan pertanian dan gizi ini mengaku mendampingi sebanyak 420 KPM PKH, yang tersebar di tiga desa. Di wilayah dampingannya tersebut, Yuni salah satu kegiatannya membantu memotivasi sebanyak enam Kelompok Usaha Bersama (KUBE).

Satu KUBE terdiri dari 10 KPM dan tidak semua mengikuti program tersebut karena terbatasnya anggaran. Diakui ada rasa ragu di awal, tetapi Yuni tetap memilih sebanyak 10 KPM, diambil dari rangking paling terbawah (tingkat kemiskinannya).

“Saya kumpulkan dan alhamdullilah. Awalnya sulit, tetapi yang penting untuk kalangan kelompok. Jadi mereka yang sulit bisa belanja di warung sendiri (KUBE) meski bayarnya nunggu kalau sudah punya uang (dapat Bantuan Sosial),” jelas Yuni, dikutip dari tayangan Youtube Linjamsos Kemensos, Minggu (29/8/2021).                     

KPM kemudian memiliki inisiatif untuk menyisihkan Bantuan Sosial (Bansos) yang dia terima dari pemerintah. Itu dilakukan karena ada keinginan kuat dari KPM untuk memiliki usaha dan maju. KPM termotivasi, apabia menyisihkan bantuan harapannya akan mendapat tambahan.

“Diadakan Warung PKH yang menyediakan sembako dengan harga murah dibanding warung yang lain. Harapannya harga produk yang dijual juga bisa bersaing dengan di pasaran dan masyarakat mau belanja di warung itu,” terang wanita lulusan IPB itu.

Lebih lanjut Yuni jelaskan bahwa modal awal yang dikeluarkan per KPM adalah Rp 200 Ribu, di kali sebanyak 10 KPM. Sehingga untuk membuka sebuah warung dikumpulkan biaya sebesar Rp 2 Juta dan dipotong Rp 100 Ribu untuk membeli etalase.

“Modal dibelikan untuk bahan-bahan kebutuhan pokok di 2017 dengan nama Sendang Rezeki. Sendang dalam Bahasa Jawa seperti kolam, tapi sumber air ada di dalam kolam yang mengalir terus. Harapannya jadi sumber rezeki untuk semua KPM,” jelas wanita yang sudah menjadi Pendamping PKH sejak 2012 lalu.

Diakui Yuni, keuntungan usaha itu sedikit tetapi tetap berjalan. KPM bersemangat dan kompak meski ada banyak tantangan. Di 2018, ketika ada Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Yuni berani mengajukan dan mendaftarkan warung tersebut sebagai agen penyalur.

Perlahan, omzet pun meningkat. Dari Rp 1 Juta per bulan, sebelum menjadi agen di 2017 dan tidak dapat untung berarti, hingga kini sudah mencapai Rp 30 Juta per bulan, disertai penambahan KPM.

“KPM tidak terlalu mikir untung banyak, mereka yang penting kebutuhan pokoknya bisa terpenuhi, BPNT dan omzet naik. Ketika pencairan, ada sebagian ditabung, ada sebagian untuk paket Sembako Rp 35 Ribu, yang dikasih Rp 50 Ribu dan yang ditabung Rp 50 Ribu per bulan,” jelas waita yang sudah sembilan tahun menjadi Pendamping PKH ini. 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Wahyu Praditya P