Netral English Netral Mandarin
11:03wib
Partai Ummat  menyinggung dominansi Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam evaluasi tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo. China kembali menggertak Amerika Serikat setelah Presiden Joe Biden menyatakan bahwa ia akan membela Taiwan jika Negeri Tirai Bambu menyerang.
Heboh 'Peci dan Mahkota Amal Halleluya Puji Tuhan', Ade Armando: Ini Dibilang Penodaan Agama? Jadi Orang mbok ya Rileks

Minggu, 15-Agustus-2021 09:33

Ade Armando
Foto : Kolase Netralnews
Ade Armando
23

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Di sosial media viral video TikTok berisi seorang laki-laki kenakan peci diiringi lagu “Hallulya Puji Tuhan”. 

Dosen Universitas Indonesia Ade Armando kemudian menanggapi apakah video seperti ini kemudian dianggap sebagai penodaan agama?

“Ini terus mau dibilang penodaan agama? Pecah belah bangsa? Jadi orang mbok ya rileks,” kata Ade Armando dinukil NNC dari akun FB-nya, Minggu 15 Agustus 2021.

Untuk diketahui dalam video tersebut, syair lagi berisi kata-kata: “Di Surga nanti pakai baju putih, atas kepala mahkota amal. Haleluya, Puji Tuhan…”

Banyak netizen memberikan tanggapan. Berikut di antaranya:

Benny Sandra: “Bikin konten pasti dah disiapin dan dihafal dulu lagi nya... Keren.. kereen... Expresi nya itu lho.. bikin yg nonton bahagia.. walau saya tau kalau itu sekedar satire...”

Pudjo Haryono: “Asal tau aja, peci ato songkok itu penutup kepala bangsa Melayu yg kebetulan sering dipake oleh orang muslim utk beribadah. Sedangkan baju koko itu justru konon asalnya dari Cina. Jadi kalo keduanya dianggap merepresentasikan Islam yaa kesian aja. Kurang piknik...”

Ramuliansen Damanik: “Ngakak liat ekspresi nya.”

Peci tak berarti Islam

Berdasar pemantauan Netralnews, pakaian daerah dan peci, sebenarnya biasa juga digunakan oleh Umat Kristiani misalnya di Gereja Santo Servatius di Kampung Sawah, Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat. 

Di gereja ini konsisten menerapkan sebagian adat Betawi dalam ibadah demi menjaga kebudayaan dan peradaban di Kampung Sawah.

Wakil Ketua Dewan Paroki Gereja Katolik Santo Servatius Matheus Nalih mengisahkan bahwa budaya Betawi telah digunakan oleh jemaat Katolik pertama di Kampung Sawah pada 1896.

"Sejak 1896, jemaat Katolik pertama sudah mengenakan pakaian Sadariah Betawi. Kami pertahankan itu karena faktor sederhana yaitu, budaya adalah refleksi peradaban. Jadi mempertahankan budaya adalah mempertahankan keberadaban," kata Matheus Nalih usai Misa Malam Natal, di Bekasi, Sabtu 24 Desember 2016 silam.

Saat itu ada sebanyak 18 orang Betawi asli Kampung Sawah dibabtis oleh Pastor Schweitz. Setelah memeluk agama Katolik, 18 orang itu menggunakan tradisi Betawi pada acara agama warga Kampung Sawah.

Nalih mengatakan, karena terus-terusan menggunakan adat Betawi antara lain pakaian, makanan, musik dan ornamen gereja, membuat Gereja Katolik Santo Servatius dapat julukan "Gereja Betawi" dari masyarakat.

Marweni, salah satu anggota sekretariat dewan gereja itu mengatakan pihak gereja tidak pernah memaksa jemaatnya menggunakan pakaian adat Betawi. Justru jemaat sendiri yang berinisiatif mengenakan baju betawi saat digelar prosesi ibadah hari raya.

"Gereja tidak pernah meminta untuk mengenakan pakaian adat apa. Itu murni dari jemaat kami yang mau," kata Marweni seperti dikutip dari Antara.

Nalih menambahkan. "Tidak selalu pakai pakaian Betawi, hanya ada momen tertentu kami sarankan pakai adat Betawi yaitu pada acara Sedekah Bumi setiap 13 Mei."

Lebih lanjut, Nalih mengatakan pihak gereja juga mempertahankan bentuk bangunan dan ornamen gereja bernuansa Betawi agar tidak hilang karena Betawi adalah akar budaya warga Kampung Sawah.

"Tidak hanya bangunan, logat Betawi kami yang khas juga jangan sampai itu hilang," tambah dia dinukil Liputan6.com.

Matheus Nalih mengatakan hingga saat ini sebagian keturunan dari generasi pertama itu masih ada, antara lain dengan nama keluarga Kaiin, Baiin, Noron, Napiun, Pepe dan Nathanael.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Sesmawati