Netral English Netral Mandarin
08:01wib
BMKG menyatakan gempa yang terus berlangsung di wilayah Ambarawa Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga merupakan jenis gempa swarm dan perlu diwaspadai. Sejumlah calon penumpang pesawat di Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, mengeluhkan soal aplikasi PeduliLindungi serta harga tes PCR yang dinilai mahal.
Hukum Pakai Celana Dalam Saat Tidur dengan Suami hingga Soal BH, EK: Beragama ala Wahabi Makin Lucu

Senin, 04-Oktober-2021 17:10

Viral Hukum memakai ransel hingga hukum memakai BH
Foto : Twitter/ Eko Kuntadhi
Viral Hukum memakai ransel hingga hukum memakai BH
7

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Eko Kuntadhi menyoroti sejumlah poster tentang hukum Islam yang mengatur kaum perempuan mulai dari cara mengenakan ransel, celana dalam, hingga BH. 

Eko Kuntadhi terheran-heran dan menuding hal itu sebagai cara beragama ala Wahabi.

“Caelah, beragama ala Wahabi ini makin lama makin lucu. Coba aja ikutin semuanya. Anda akan jadi orang yang aneh...,” cuit Eko Kuntadhi, Senin 4 Oktober 2021.

Untuk diketahui, di media sosial beredar postingan yang menyebutkan bahwa makruh bagi seorang istri memakai celana dalam waktu tidur karena nantinya akan mempersulit suaminya melakukan hubungan badan. 

Eko Kuntadhi juga mengungah tentang poster mengenakan BH. Disebutkan bahwa memakai BH mengakibatkan bentuk payudara menjadi nampak dan membuat para perempuan nampak lebih muda sehingga mereka menjadi sumber fitnah.

Namun, dalam catatan Penulis Moh Juriyanto seperti dinukil Bincangsyariah.com diungkap bahwa pada dasarnya, seorang istri boleh memakai celana dalam waktu tidur bersama suaminya, dan boleh juga tidak memakainya. 

Ini termasuk perkara yang longgar untuk dilakukan dan tidak ada ketentuan khusus dalam masalah ini. Semuanya dikembalikan pada situasi dan kondisi yang menuntutnya.

Jika situasi dan kondisi menuntut seorang pasangan kita untuk tidak memakai celana dalam waktu tidur karena khawatir suami akan kesulitan melakukan hubungan badan, maka sebaiknya istri tidak memakainya.

Sebaliknya, jika situasi dan kondisi menuntut seorang istri untuk mengenakan celana dalam, maka sebaiknya dia memakainya. Misalnya, istri dalam keadaan haid dan suami hendak bersenang-senang dengannya, dalam keadaan seperti ini seorang istri sangat dianjurkan untuk mengenakan celana dalam karena dikhawatirkan suami sampai kebablasan melakukan jimak. Sementara berjimak dalam keadaan istri sedang haid hukumnya adalah haram.

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Wahbah Al-Zuhaili dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu berikut;

ويكره الإكثار من الكلام حال الجماع، ولايخليها عن الجماع كل أربع ليال مرة بلا عذر.وتأتزر الحائض بإزار مابين السرة والركبة إذا أراد الاستمتاع بها

Dimakruhkan banyak bicara saat melakukan hubungan badan, dan hendaknya suami minimal menjimak istrinya empat malam sekali tanpa ada uzur. Dan hendaknya istri yang sedang haid memakai sarung di antara pusar dan lutut jika suami hendak bersenang-sendang dengannya.

Begitu juga seorang istri sebaiknya mengenakan celana dalam waktu tidur jika dia khawatir auratnya terbuka. Begitu juga dengan seorang suami. Ini berdasarkan riwayat yang disebutkan dalam kitab Al-Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, dari Anas bin Malik, dia berkata;

ان أبو موسى إذا نام لبس تبانا مخافة أن تبدو عورته

Sesungguhnya Abu Musa jika tidur, dia memakai celana dalam karena khawatir auratnya terbuka.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Wahyu Praditya P