Netral English Netral Mandarin
18:33wib
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan dunia berada di jalur bencana lantaran pemanasan global yang terus berlangsung. Uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) terhadap 11 calon hakim agung usulan Komisi Yudisial (KY) di Komisi III DPR akan digelar pada pekan depan.
‘Ide Nyeleneh’ SDM PKH Pangandaran Atasi KPM yang Tergiur Pinjaman Bank Emok yang Merugikan

Minggu, 22-Agustus-2021 15:38

Nia Kurniasih atau akrab disapa Nia, merupakan salah satu Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten Pangandaran
Foto : Kemensos
Nia Kurniasih atau akrab disapa Nia, merupakan salah satu Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten Pangandaran
14

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Nia Kurniasih atau akrab disapa Nia, merupakan salah satu Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten Pangandaran. Nia ungkap, salah satu tantangan yang dia sedang hadapi adalah mengatasi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang tergiur akan pinjaman Bank Emok.

 

Bank Emok sendiri dijelaskan Nia semacam lembaga yang meminjamkan uang. Berbeda dengan bank pada umumnya, bank yang satu ini berkeliling ke pedalaman dan wilayah untuk mencari nasabah. Transaksi lantas dilakukan sambil “emok” dalam Bahasa Sunda, yang artinya duduk dan berkelompok.

 

“Saya melakukan sosialisasi kebijakan Kemensos untuk melarang para KPM jadi nasabah Bank Emok. Sosialisasi dilakukan karena setelah dikroscek data, banyak KPM yang jadi nasabah Bank Emok,” ujar Nia, dikutip dari tayangan Youtube Linjamsos, Minggu (22/8/2021). 

 

Diungkap Nia, keberadaan Bank Emok jadi saingan Pendampingan dalam Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) Kemensos. Ketika P2K2 yang dibagi ilmu, sedangkan Bank Emok bicara soal pinjaman uang menggiurkan dan harus dikembalikan dengan bunga 25 persen dari pinjaman dalam jangka waktu yang disepakati. 

 

“Ada petugas agen Bank Emok yang keliling ke pelosok untuk menawarkan program pinjaman yang mudah. Berdasarkan keterangan KPM, cukup dengan memperlihatkan KTP dan tidak perlu jaminan. Udah gitu aja,” ujar Nia. 

 

Sebagai Pendamping PKH, Nia sadari bahwa keberadaan Bank Emok mengkhawatirkan. Pasalnya Bank Emok bisa membuat Bantuan Sosial (Bansos) PKH yang diberikan pemerintah bisa habis untuk membayar ke Bank Emok. Padalah Bansos PKH seharusnya bisa membantu ekonomi masyarakat dan pemenuhan gizi. 

 

Nia lantas menemukan ide yang dinilai “nyeleneh” namun dianggap bisa memperbaiki keadaan. Nia berpikir mengadakan sebuah program pinjaman tanpa ada bunga, sehingga dikembalikan nol persen. Ide itu direalisasikan Nia dalam program semacam uang kas. 

 

“Akhirnya saya mencoba menggali potensi KPM. Nyari tahu ibu-ibu KPM suka apa dan biasanya kerja dalam hal apa. Disepakati membuat kegiatan pemberdayaan sayuran,” ujar Nia. 

 

Berbagai sayuran dikelola dengan target tidak hanya sekedar dikonsumsi melainkan juga memiliki nilai jual. Keuntungannya bisa disimpan sebagai kas dan bisa diputar sebagai pinjaman anggota kelompok, yang terdiri dari KPM. 

 

“Program itu berjalan dari awal 2020 dan membuat kumpulan untuk modal awal dari swadaya. KPM menyisihkan dari uang Bansos PKH dan dijadikan modal awal, ditambah penghasilan sayur,” ujar Nia. 

 

Nia jeleaskan bahwa kumpulan uang swadaya merupakan wujud gotong royong di antara KPM dan sebagai bentuk terima kasih pada pemerintah. Tetapi program itu tidak berjalan mulus dan dilakukan evaluasi. Hingga akhirnya melibatkan “guru tani” yang cocok dengan para KPM dan mampu membantu meningkatkan produksi pertanian dan menghasilkan keuntungan. 

 

“Mimpi saya alhamdullilah bisa direalisasikan. Dari kas yang disimpan ada beberapa anggota pinjam dan diberikan. Meski jumlah pinjaman tidak besar, tapi setidaknya bisa memberikan pinjaman kepada anggota kelompok yang terdiri dari KPM,” terang Nia. 

 

Nia juga mencoba memberi peringatan kepada para KPM yang masih menggunakan layanan Bank Emok, bisa diputus kepesertaannya sebagai KPM PKH. Sedangkan mereka yang sudah terlanjut memiliki cicilan tagihan pada Bank Emok untuk bisa segera diselesaikan. 

 

Nia juga akui bahwa program yang dia usung mungkin belum tentu sesuai dengan permasalahan yang dialami oleh KPM PKH di wilayah lain. Nia harap para SDM PKH bisa memiliki ide lebih baik di daerah masing-masing sesuai dengan potensi alam dan KPM. 

 

“Belajar mengelola keuangan. Masalahnya bukan pada pendapatan yang kecil, tetapi bagaimana uang yang kecil bisa lebih bermanfaat. Hindari hutang, tetapi menambung,” pesan Nia pada KPM. 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sesmawati